
"lexs kamu beneran mau pergi?" tanya al kepada alexs ketika mengantar alexs ke bandara.
"aku yakin bang" jawab alexs sembari tersenyum.
"alexs kakak pasti akan sangat merindukanmu" ucap alice sembari memeluk alexs, bahkan air matanya kini telah jatuh membasahi pipinya.
"kak jangan nangis gitu dong, adiknya kan mau pergi kuliah" ucap papi.
"ini untuk pertama kalinya si bontot pergi jauh pi"
"kakakku sayang, aku hanya pergi untuk kuliah beberapa tahun aja"
"sering-sering pulang ya"
"iya kakakku yang paling cantik"
"jaga diri baik-baik ya lexs" ucap gisa sebari tersenyum.
"pasti kak. kak gisa juga jaga diri baik-baik, lekas beri alexs keponakan yang lucu"
"doakan saja yang terbaik"
"itu sudah pasti"
"sudah-sudah, cepat masuk nanti ketinggalan pesawat"
"iya pi"
"jaga diri baik-baik ya dek, kalau sudah sampai jangan lupa hubungi mami dan papi"
"iya mami cantik"
"jaga diri baik-baik, jangan suka begadang lagi. aku nggak mau ketika aku pulang sahabatku ini sudah berubah menjadi kelelawar" ucap alexs sembari mengelus pelan rambut gisel.
"iya bawel. kamu juga jaga dirimu"
"iya. aku pergi dulu" ucap alexs sembari memeluk gisel.
"iya"
"jangan nangis"
"tidak, aku tidak menangis kok"
"hanya keluar air liur dari matamu"
"alexs nyebelin deh"
"udah-udah jangan nangis kau sangat jelek"
"sudah pergi sana, dan jangan pernah kembali lagi"
"nanti loe kangen"
"nggak akan"
"ya sudah. kalau gitu alexs pergi dulu, bye" ucap alexs sembari berlalu pergi.
"gisel kamu pulang bareng mami sama papi ya"
"iya mi"
"mi, pi alice pergi dulu ya. kebetulan alice masih ada pemotretan"
"iya sayang hati-hati ya"
"iya mi, pi"
"sel, kamu nggak mau nginap di rumah kakak aja?"
"nggak kak, aku mau pulang aja. kasihan mama di rumah sendiri, hari ini papa sedang pergi keluar kota untuk menggantikan kerjaan papa bima"
"oh iya kakak lupa"
"yasudah gisel pulang dulu sama mami dan papi. kakak dan kak al hati-hati ya"
"iya" jawab al dan gisa secara bersamaan.
*****
selepas dari bandara alice segera memacu mobilnya menuju pemakaman kota, ya dia sangat merindukan adiknya yang paling lemot, dan polos.
"hai apa kabar? apa kamu tidak merindukanku?" ucap alice ketika baru saja duduk berjongkok di salah satu makam.
"hah aku sangat merindukanmu bil. kenapa kamu ninggalin kakak bil, kakak sayang sama kamu. maafin kakak ya, kakak telah gagal menjagamu, kakak gagal menjadi seorang kakak yang baik" gumam alice sembari bercucuran air mata.
"kalau aku bisa meminta kepada Tuhan, aku pasti akan meminta supaya kita bertukar posisi, biar kakak saja yang pergi dan kamu yang hidup bahagia"
"tapi nyatanya Tuhan lebih sayang adik kakak"
"kamu"
"iya, kakak cantik disini lagi?"
"iya, adik ganteng juga disini lagi?"
"haha iya, aku merindukan kakek dan nenekku, makanya aku datang kemari"
"kelihatannya kau sangat menyayangi kakek dan nenekmu!"
"iya karena meraka adalah satu-satunya orang yang peduli kepadaku"
"lalu dimana orang tuamu?"
"mama dan papa ada, tapi mereka selalu sibuk dengan pekerjaan mereka, sampai-sampai mereka selalu mengabaikanku"
"mungkin mereka ingin kamu bisa hidup berkecukupan, mana ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya"
"tapi setidaknya mereka bisa kan menyisihkan sedikit waktunya untukku, aku benar-benar kesepian setelah kepergian kakek dan nenek"
"apa kamu tidak mempunyai saudara?"
"aku anak tunggal kakak cantik"
"kalau begitu jadilah adikku"
"kakak cantik suka bercanda"
"aku tidak bercanda, kau terlihat seumuran dengan adikku yang paling bontot"
"memangnya kakak cantik berapa bersaudara"
"aku tiga bersaudara. aku punya satu orang abang yang sangat tampan, dan seorang adik yang tampan juga"
"wah berarti kakak cantik yang paling cantik dong"
"tentu saja. oh iya ngomong-ngomong kita belum berkenalan, namaku alice, siapa namamu?" ucap alice sembari mengulurkan tangannya.
"aku tentu tau siapa namamu kak, siapa sih yang nggak tau model terkenal seperti kakak. namaku riko" jawab riko sembari menjabat tangan alice.
"oke jadi mulai sekarang kamu menjadi adik kecilku"
"apa kakak tidak takut kepadaku!"
"kenapa harus takut?"
"kita baru saja kenal, tapi kakak malah mau menjadikanku sebagai adik kakak"
"karna aku tau kamu anak yang baik" jawab alice sembari memeluk riko.
berada dipelukan alice membuat air mata riko jatuh begitu saja, selama dia hidup dia tidak pernah merasakan di peluk oleh siapapun kecuali kakek, dan juga neneknya.
"riko kenapa kamu menangis?"
"aku hanya senang kak, akhirnya aku merasakan lagi betapa hangatnya sebuah pelukan"
"lainkali kau harus kerumahku, mamiku pasti akan sangat senang melihatmu"
"apa aku boleh kak?"
"tentu saja boleh, pintu rumahku terbuka lebar untukmu"
"terimakasih kak"
"jangan kebanyakan terimakasih, oh iya sini bagi nomor ponselmu" ucap alice sembari menyodorkan ponselnya kepada riko.
dengan segera riko menerima ponsel alice dan memasukkan nomor ponselnya kedalam ponsel alice.
"oke nanti aku akan menelfonmu, aku pergi dulu ya"
"kenapa buru-buru sekali kak?"
"aku masih ada pemotretan"
"kalau begitu hati-hati kak"
"ok" jawab alice sembari mengacungkan kedua jempolnya.