My Introvert Husband

My Introvert Husband
kepulangan alexs



"hai selamat pagi putri kecil daddy" ucap al ketika baru saja bangun tidur dan melihat putri kecilnya sudah bangun.


"apakah tidurmu nyenyak tadi malam, ahh daddy sangat bersyukur akhir-akhir ini kamu tidurnya nyenyak dan tidak mengajak daddy bergadang. sekarang ayo kita mandi"


kini al telah terbiasa memandikan starla seorang diri, dulu waktu awal-awal starla lahir bik titik yang selalu membantunya memandikan si kecil, atau kalau tidak mami dan mama akan datang untuk memandikan si kecil. tapi sekarang al sudah mampu memandikan putri kecilnya.


ketika starla baru saja dimasukkan kedalam bak mandinya ia terlihat begitu senang, dan menupuk-nepuk air mandinya.


"heyy putri daddy kamu terlihat sangat senang ya. tapi jangan gerak-gerak dong nak, daddy kesulitan ini bersihin kamunya" ucap al sembari tersenyum.


"ahh selesia juga. ayo sekarang kita ganti baju sayang"


"starla tante datang" ucap aleta yang baru saja datang bersama galih.


"starla om ganteng datang nih"


"hey kau terlalu percaya diri hingga menyebut dirimu sendiri tampan bocah" sarkas al.


"hey aku ini sudah menjadi seorang om men, bisa-bisanya loe manggil gue bocah"


"iya-iya om jomblo" ucap al sembari terkekeh.


"kampret loe emang"


"ngapain loe berdua pagi-pagi udah pada nyerbu rumah gue?"


"kangen sama starla lah. lihatlah pipi gembulnya, rasanya aku ingin menggigitnya" ucap aleta sembari menoel-noel pipi gembul starla.


"gue tampol ya loe nanti, bisa-bisanya mau menganiaya putri kecilku"


"elah santai aja dong pak boss, orang cuma bercanda doang" ucap aleta sembari tersenyum.


''loe beneran nggak mau pakai jasa baby sister?"


"nggak, gue mampu kok ngurus starla. dan lagi kalau gue mau ke kantor ada alice atau gisel yang bakal menjaga starla"


"susah banget sih kalau di bilangin. loe hampir satu bulan ngurus starla sendirian sob"


"gue mampu lih. udahlah nggak usah cemasin gur, gue tau sebenarnya loe nyemasin gue"


"kalau loe tau ngapain nanya. gue nggak tega lihat loe kayak gini, harus kerja, harus urusin starla. loe gue bener-bener nggak bisa lihat loe kayak gini"


"elah nggak usah drama deh" ucap al sembari terkekeh.


"tauk nih galih. masih pagi juga udah bikin drama"


"emang loe nggak kasihan sama temen kita satu ini?" tanya galih kepada aleta.


"ya kasihan sih, tapi ya mau gimana lagi lih. loe kan tau kalau kepalanya al itu batu"


"loe bener juga sih ta"


tingg... tongg.... tingg.... tongg


"ada tamu deh kelihatannya" ucap galih begitu mendengar suara bel rumah berbunyi


"ta tolong bukain ya, soalnya bik titik sama pak edi lagi belanja kepasar"


"siap" jawab aleta sembari berlalu pergi.


"selamat pagi, mbaknya nyari siapa ya?" ucap aleta begitu membuka pintu dan melihat seorang wanita sedang berdiri membelakangi pintu.


"selamat pagi mbak, apa pak al nya ada?"


"al ada di dalam, mbaknya siapa ya? dan ada perlu apa, biar saya sampaikan sama al"


"saya laras mbak, saya orang yang di tolongin sama mbak gisa" ucap laras sembari tersenyum.


*"oh jadi ini wanita yang di tolongin nona gisa, hingga membuat nona gisa pergi meninggalkan kami semua"* gumam aleta sembari menatap tajam laras.


"mbak" panggil laras ketika melihat aleta hanya diam memaku di tempatnya.


"oh iya, tunggu sebentar ya biar saya panggilkan" ucap aleta sembari kembali menutup pintunya.


"al.... al... al"


"astaga ta loe apa-apaan sih teriak-teriak udah kayak di hutan aja" ucap al kesal ketika teman perempuannya itu berteriak-teriak.


"ada yang nyariin loe"


"siapa?"


"perempuan yang di tolongin gisa"


"mau ngapain tuh orang kesini?" tanya galih penasaran.


"mana gue tau. udah sana temuin biar starla sama gue dan galih"


"oke, gue titip si kecil" ucap al sembari berlalu pergi menuju lantai dasar.


"ngapain sih tuh orang pagi-pagi udah kesini" gumam al dengan sedikit kesal.


"maaf ada perlu apa ya?" ucap al ketika baru saja membuka pintu.


"mas al maaf kalau saya bertamu pagi-pagi seperti ini"


"iya gapapa silahkan masuk" ucap al sembari mengajak laras masuk kedalam rumah.


"silahkan duduk"


"terimakasih"


"oh iya ngomong-ngomong ada keperluan apa hingga sepagi ini kamu datang kemari?"


"apa saya boleh merawat starla pak?"


"maksud kamu?"


"saya hanya ingin membalas kebaikan mbak gisa pak, gara-gara saya baby starla harus kehilangan ibunya" ucap laras sembari menunduk karena tak berani bertatap muka dengan al.


"tidak perlu, saya cukup mampu merawat si kecil"


"tapi saya ikhlas pak"


"saya tau niat kamu baik. tapi kepergian istri saya juga nggak sepenuhnya salah kamu"


"tapi mbak gisa meninggal gara-gara menolong saya pak"


"tapi saya benar-benar serius ingin merawat baby starla pak"


"saya bilang tidak ya tidak. kamu boleh datang kemari kapan pun jika kamu ingin melihat starla, rumah ini akan terbuka 24 jam untuk kamu. tapi jika untuk merawatnya, saya tidak akan mengizinkan. lebih baik kamu lanjutkan hidup kamu, kamu masih muda masih sekolah juga kan"


"tapi saya terus-terusan di hantui rasa bersalah pak"


"jangan menyalahkan diri kamu atas kepergian istri saya, ini semua memang musibah"


"sekali lagi maaf kan saya pak" ucap laras sembari bersujud di kaki al.


"hey apa yang kamu lakukan? ayo bangun saya tidak suka jika kamu berbuat seperti ini"


"maafkan saya pak, saya benar-benar minta maaf"


"tidak apa-apa jangan terlalu menyalahkan dirimu"


"apa saya boleh bertemu starla pak?"


"oh tentu. mari ikut saya"


dengan segera al mengajak laras menuju ke kamar starla.


"starla ini ada kakak yang mau bertemu denganmu" ucap al begitu sampai di kamar starla.


"astaga beberapa minggu tidak bertemu, kamu semakin menggemaskan starla" ucap laras sembari tersenyum dan menoel-noel pipi gembul starla.


"kelihatannya kamu masih sangat muda" ucap aleta sembari mengamati laras.


"ah iya mbak saya masih kelas 11 SMA" jawab laras sembari tersenyum.


"oh pantas. apa kamu tidak pergi ke sekolah?"


"ini sudah libur sekolah mbak, baru saja selesai ujian semester. itu sebabnya saya baru sempat kemari untuk menjenguk starla"


"oh seperti itu. oh iya nama kamu siapa?"


"laras mbak"


"oh laras. kenalin aku aleta, temannya al"


"iya mbak" jawab laras sembari tersenyum.


*******


"huekk,,,,, huekkk"


"sayang kamu kenapa?" tanya riko sembari memijat tengkuk gisel.


"entahlah mungkin aku masuk angin"


"kita ke rumah sakit ya"


"tidak perlu, aku hanya perlu istirahat. nanti juga bakal mendingan kok"


"tapi aku takut kalau kamu kenapa-kenapa"


"aku akan baik-baik saja" ucap gisel sembari tersenyum, dan membelai pipi riko.


"kamu yakin?"


"iya sayang. yasudah, kamu berangkat ke kantor gih"


"tapi kamu jangan pergi ngampus ya"


"nggak, udah deh jangan seperti itu. aku gapapa rikoku sayang"


"yasudah aku pergi dulu ya" pamit riko sembari mencium kening gisel.


"hati-hati"


"iya sayang" jawab riko sembari berlalu pergi.


"terimakasih Tuhan karena engkau telah memasangkan ku dengan pria sesabar dia" gumam gisel sembari tersenyum.


******


"abang" panggil alexs sembari masuk kedalam kamar starla.


"dek kamu pulang"


"iya bang. maaf ya bang aku baru bisa pulang, aku sakit beberapa minggu yang lalu. dan bella pun sibuk menjagaku di rumah sakit" ucap alexs sembari memeluk al.


"tidak apa-apa. yang penting sekarang kamu sudah sehat" ucap al sembari membalas pelukan alexs.


"lihatlah lexs keponakan kita sangat cantik" ucap bella sembari melihat starla yang berada dalam dekapan laras.


"dia siapa bang?" tanya alexs sembari menunjuk laras.


"dia laras. orang yang sempat di tolong sama kakak iparmu"


"oh jadi gara-gara dia kak gisa meninggal" ucap alexs sembari menatap tajam laras.


"alexs nggak boleh seperti itu dek, bagaimana pun itu bukan kesalahan laras"


"tapi kekasihnya kan yang telah mendorong kak gisa. lihatlah sekarang keponakanku harus kehilangan mommynya"


"sudah jangan seperti itu"


"kemarinkan keponakanku, aku tidak ingin kau menyentuhnya" ucap alexs sembari mengambil alih starla.


"maafin saya mas" ucap laras sembari berkaca-kaca.


"memangnya maaf loe bisa mengembalikan kakak ipar gue"


"saya benar-benar minta maaf mas"


"terserah loe" ucap alexs sembari berlalu pergi, dan di ikuti oleh bella.


"laras maafin adik saya ya, dia orangnya memang keras"


"tidak apa-apa pak, sama paham kenapa adik bapak seperti itu" jawab laras sembari menghapus air matanya.


"hey lih, lihatlah al dia mengatakan kalau alexs orangnya keras. aku rasa temanmu itu tadi lupa berkaca" bisik aleta kepada galih.


"gue rasa juga gitu ta"