
"alexs aku ingin bicara"
"mau ngomong apa bell?"
"kenapa kemarin kamu ngebentak kakak al, kamu gila. itu untuk pertamakalinya kamu ngebentak kakak al"
"salah sendiri abang selalu ngebelain pembunuh itu"
"lexs harus dengan bahasa apalagi sih kita semua ngejelasin sama kamu. ini semua nggak sepenuhnya salah laras lexs, laras juga korban"
"tapi kalau kak gisa nggak nolongin wanita sialan itu, mungkin sekarang kak gisa masih ada"
"lexs kam___"
"CUKUP" bentak alexs sembari menatap tajam bella. "cuma karena wanita sialan itu, sekarang kamu udah berani sama aku" ucap alexs sembari keluar dari kamar mereka.
"kenapa kamu keras kepala sekali lexs. apa sebenarnya kamu masih suka sama kak gisa, hingga kamu selalu menyalahkan laras atas kepergian kak gisa" gumam bella sembari bercucuran air mata.
******
"bik tolong buatkan saya kopi" ucap alexs kepada bik siti.
"iya den"
alexs benar-benar tidak habis fikir, kenapa semua keluarganya membela wanita sialan itu. dan malah selalu memarahinya karena kelewat benci dengan laras.
"tuan muda kenapa?" tanya bik siti sembari meletakkan secangkir kopi untuk alexs.
"saya gapapa bik"
"tuan muda bisa membohongi semua orang. tapi tuan muda nggak akan pernah bisa bohong sama bibik, bibik yang jagain tuan muda dari masih kecil. cerita sama bibik, tuan muda ada masalah apa?"
"alexs bingung bik"
"bingung kenapa? ayo cerita sama bibik kayak biasanya, kalau ada masalah jangan di pendam sendiri"
"kenapa semua orang disini selalu membela laras bik! padahal gara-gara dia kak gisa meninggal, apa aku salah kalau aku membencinya. karena gara-gara dia aku kehilangan kakak perempuan ketigaku, aku sudah kehilangan kak billa, dan setelah kejadian itu aku juga harus kehilangan kak gisa. sekarang juga starla jadi nggak bisa ngerasain kasih sayang mommynya" ucap alexs dengan mata memerah bahkan air matanya sudah mulai jatuh membasahi pipinya.
"jangan nangis, bibik paling nggak suka kalau tuan muda alexs nangis" ucap bibik sembari menghapus air mata alexs.
"apa bibik juga membenciku seperti yang lainnya?"
"bibik sayang banget sama tuan muda, mana mungkin bibik benci sama anak menggemaskan seperti tuan muda" jawab bik siti sembari mencubit gemas kedua pipi alexs.
"bibik, alexs bukan anak kecil lagi. sekarang alexs sudah menjadi ayah bik"
"bibik tau. tapi sampai kapanpun tuan muda alexs tetep pangeran kecilnya bibik"
"alexs sayang bibik" ucap alexs sembari memeluk bik siti.
"bibik juga sayang tuan muda. bibik paham gimana perasaan tuan muda, bibik nggak larang tuan muda benci non laras. tapi bibik cuma minta, jangan terlalu membencinya ya. sewajarnya saja, jangan sampai orang-orang menganggap pangeran kecil bibik jahat"
"jadi aku salah ya bik?"
"bibik nggak bilang tuan muda salah, bibik cuma bilang sewajarnya saja. tuan muda mengerti kan maksud bibik"
"iya bik"
*"tuan muda alexs sama kerasnya dengan tuan muda al. tapi sekeras-kerasnya tuan muda al, masih keras tuan muda alexs. kalau api dilawan dengan api, maka tidak akan pernah ada habisnya"* gumam bik siti dalam hati, sembari tangannya yang sudah keriput mengelus lembut kepala alexs.
"jangan sedih lagi, bibik paling nggak suka kalau tuan muda sedih"
"iya bik, makasih. bibik memang selalu bisa bikin alexs tenang"
"papa kenapa meluk nek siti?" tanya abel sembari menatap heran ke arah sang papa.
"abel ngapain disini nak?"
"abel mau minta nek siti buat bikinin susu abel"
"non abel mau susu?"
"iya nek" jawab abel sembari mengangguk.
"sebentar biar nenek buatkan"
sebenarnya bik siti sudah berhenti bekerja, akan tetapi alexs tidak bisa jauh dengan asisten rumah tangga yang telah merawatnya dari kecil itu. kalau alexs sedang di rumah seperti ini maka bik siti akan kembali bekerja, karena alexs hanya ingin minum kopi atau pun susu buatan bik siti.
******
"ras bengong aja, ayo pulang. mau sampai kapan loe ngelamun terus?"
"loe lagi mikirin apa sih? dari pagi tadi loe banyak ngelamunnya"
"gue cuma lagi sedih aja vir"
"sedih kenapa?"
"loe tau adiknya pak al nggak?"
"nggak tau, gue cuma tau buk alice. emang pak al punya adik?"
"punya, namanya alexs"
"jadi loe sedih karena bingung mau milih pak al, atau pak alexs!" goda virda.
"gue tau gue salah. tapikan gue udah minta maaf vir, tapi nggak tau kenapa mas alexs benci banget sama gue"
"terkadang maaf aja nggak akan bisa mengembalikan keadaan ras"
"kamu benar"
"memangnya kamu punya salah apa sama pak alexs?"
"gara-gara gue mbak gisa meninggal. harusnya waktu itu mbak gisa nggak usah nolongin gue, mungkin waktu itu gue yang mati, bukan mbak gisa" ucap laras sembari bercucuran air mata.
"gisa siapa ras?"
"istrinya pak al"
degg, jantung virda mencelos. jadi gara-gara laras pak al menduda seperti ini, virda benar-benar nggak habis fikir dengan apa yang baru saja ia dengar.
"kenapa bisa istrinya pak al meninggal?"
"waktu itu gue berantem hebat sama pacar gue, dia main tangan sama gue. dan waktu itu mbak gisa ngelihat gue yang di pukuli, dia langsung nolongin gue tanpa mikirin dirinya sendiri yang waktu itu sedang hamil tua. semua ini salah gue vir"
"ini nggak sepenuhnya salah loe ras. semua orang akan melakukan hal sama kayak yang di lakukan istrinya pak al. orang yang melihat kejadian itu pasti akan langsung menolong"
"tapi tetep aja ini semua salah gue vir"
dengan segera virdan mendekap laras, membawanya kedalam pelukannya.
"jangan sedih lagi. dan jangan pernah loe nyalahain diri loe lagi ras"
"tapi emang salah gue kan vir"
"nggak, ini bukan salah loe. udah ya, gue nggak suka lihat loe sedih kayak gini" ucap virda sembari mengurai pelukannya. "oh iya gimana, apa mama kamu kasih izin?"
"iya, mama izinin aku kok"
"sebenarnya aku yang nggak izinin kamu ras" ucap virda dengan mata berkaca-kaca.
"aku gapapa vir, udah jangan nangis. kalau kamu nangis kayak gitu, aku malah semakin sedih"
"emtt, ya udah ayo kita pulang"
"iya"
*****
"aaaaa alfin curang" ucap starla sembari merengek karena ia kalah dalam permainan ular tangga bersama dengan alfin, hingga membuatnya harus kena coretan dari alfin.
"curang palamu, dari tadi kau memang kalah star. kay memang selalu payah" ucap alfin sembari meledek starla.
ya sore ini mereka berdua tengah bermain ular tangga, sedangkan juno, nakula, gara, dan biru sudah pulang terlebih dulu. biasanya alfin memang selalu pulang paling akhir hingga al pulang dari kantor, jika ia di suruh pulang maka ia akan menolaknya dengan mentah-mentah dengan dalih tidak ada yang bakal jagain starla. padahal starla ada bik titik, starla tau itu hanya alasan alfin saja, anak laki-laki itu memang paling suka jika mengganggu dirinya.
"alfin apa aku terlihat jelek dengan coretan-coretan di wajahku?"
"memangnya sejak kapan kamu terlihat cantik star! kau memang selalu jelek"
"mulutmu bisa tidak sih sekali saja memuji diriku?"
"tidak bisa"
"dasar nyebelin"
"biarin yang penting aku ganteng"
"terserah kamu saja. aku mau mandi, bye" ucap starla sembari bangkit dari duduknya dan langsung menuju lantai dua dimana kamarnya berada.
"kamu selalu cantik star. karena kamu adalah ratu kami semua" gumam alfin sembari memandang punggung starla yang semakin menjauh.