My Introvert Husband

My Introvert Husband
aku sangat mencintaimu



"abang" ucap alice yang baru saja masuk kedalam ruang kerja al.


"ada apa dek?"


"abang besok kan ulang tahunnya gisa" ucap alice sembari bergelayut manja kepada abang al.


"lalu?"


"kita buat pesta kecil-kecilan untuknya"


"terserah kau saja''


"abang menyebalkan sekali, gisa kan istrimu"


"atur saja semuanya bersama alexs, dan billa. biar abang yang mengurus gisa" jawab al sembari masih fokus pada layar laptopnya.


"abang serius"


"iya dek"


"makasih abang, alice sayang abang" ucap alice sembari mencium pipi al.


"kau bilang sayang kalau ada maunya saja"


"hehe, kalau begitu aku nanti akan menginap dirumah abang"


"ulang tahun gisa masih besok, tapi kenapa kau mau menginap sekarang?"


"ya terserah aku dong bang" ucap alice sembari berlalu pergi.


"mau kemana dek?"


"pulang"


"astaga dia kemari hanya untuk membahas ulang tahun gisa saja, dasar bocah itu"


******


"gisa" panggil billa yang baru saja tiba dibutik dan melihat gisa tengah bersama dengan sally.


"billa kau kemari?"


"iya. au sangat merindukanmu gisa" ucap billa sembari memeluk gisa.


"kau ini seperti sudah bertahun-tahun saja tidak bertemu denganku"


"aku ingin main kerumahmu, tapi aku takut kakak al"


"kenapa kau takut dengan kakak al"


"kau jangan pura-pura bodoh, kau kan tau sendiri gimana galaknya suamimu itu"


"memangnya suaminya gisa galak?" tanya sally.


"sangat galak sally"


"lebih galak mana dengan tuan varo?"


"lebih galak kakak al"


"wauw, aku jadi penasaran seperti apa tuan muda al"


"sally kau selalu saja genit"


"aku hanya bercanda billa"


"billa tidak sopan memanggil orang tua hanya dengan nama" ucap mama liyla yang baru saja ikut bergabung dengan sally, gisa, dan juga billa.


"maaf ma"


"lain kali panggil miss sally"


"iya ma"


"tumben sekali kamu kemari bil, ada apa?"


"billa hanya kangen gisa ma setelah gisa menikah kami jadi jarang sekali bertemu"


"apa kamu tidak kekantor?"


"kekantor kok ma. cuma pekerjaan bill sudah selesai jadi billa memutuskan untuk kemari"


"yasudah kalian lanjut, mama masih ada pekerjaan"


"iya ma" jawab billa dan gisa bersamaan.


******


hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. hari ini adalah hari ulang tahun gisa yang ke 26 tahun.


"kakak al kau kemari?" tanya gisa ketika melihat suaminya baru saja tiba dibutik.


"iya"


"kakak al mau nyari mami? tapi mami sudah pulang"


"tidak, aku kemari memang mau menjemputmu"


"menjemputku?'' tanya gisa sembari menunjuk dirinya sendiri.


"iya"


"tapi akukan bawa mobil kak"


"sudah jangan banyak tanya, ayo kita pulang"


"lalu mobilku?"


''mobilnya tinggal sini saja, sudah ayo cepat''


"iya kak. tunggu sebentar" ucap gisa semabari berlari untuk mengambil tas jinjingnya yang ia taruh diruang kerjanya.


"ayo kak"


dan dengan segera al dan gisa masuk kedalam mobil.


"tumben sekali kakak al menjemputku?''


''memangnya salah kalau aku menjemput istriku?''


''emtt tidak sih'' jawab gisa sembari wajahnya bersemu merah, karna ini untuk pertama kalinya al menyebutnya istri.


"iya sudah, nurut saja. jangan banyak protes''


"iya-iya maaf''


namun ditengah-tengah perjalanan gisa baru sadar bahwa jalan yang mereka lewati bukanlah jalan menuju rumah mereka.


''kak kita mau kemana? ini bukan jalan menuju rumah''


''crewet sekali, diamlah jangan banyak bertanya''


''tapi ini memang bukan jalan kerumah kak''


''trus kita mau kemana?''


''sudah diam, dan menurutlah''


''hih menyebalkan''


''kau bilang aku apa?''


"aku bilang suamiku sangat tampan" ucap gisa sembari nyengir kuda.


"tapi tadi yang ku dengar tidak seperti itu''


''berarti kakak al salah dengar''


''mungkin''


setelah hampir satu jam mengemudi akhirnya mereka telah sampai dirumah.


"astaga pada akhirnya kita juga pulang juga, lalu kenapa kakak al harus ajak aku muter-muter dulu"


"memangnya kenapa? jarang-jarangkan kau bisa jalan-jalan sama orang tampan seperti diriku''


"kakak al kenapa rumah kita gelap sekali! apa kakak al lupa tidak membayar tagihan listriknya?"


"mana ada aku lupa"


"lalu kenapa rumah kita segelap ini kak'' ucap gisa sembari terus berpegangan lengan al karna ia benar-benar takut gelap.


"mana kutahu''


namun tak lama lampu rumah mereka menyala dan disana tampak ada keluarga, sahabat, dan teman-teman gisa.


''suprise'' ucap mereka semua secara bersamaan.


''selamat ulang tahun kakak ipar'' ucap alexs.


''selamat ulang tahun kakakku tercinta'' ucap gisel sembari berlari kearah gisa dan langsung memeluknya.


''terimakasih semuanya. bahkan aku saja lupa kalau aku hari ini ulang tahun'' ucap gisa sembari menangis haru.


"selamat ulang tahun putri papa yang paling cantik'' ucap papa gio sembari mencium kening gisa


"selamat ulang tahun sayang, semoga diusiamu yang sekarang kamu bisa makin dewasa. dan semoga kamu bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anakmu kelak''


''terimakasih ma, pa''


''selamat ulang tahun sayang'' ucap mami melati dan papi varo sembari mencium pipi gisa.


''terimakasih mi, pi''


semua orang telah memberi ucapan selamat kepadanya namun yang gisa tunggu adalah ucapan selamat dari suaminya, yang sampai kini belum juga ia terima, bahkan sampai selesai potong kue.


"kau kenapa terlihat murung?'' tanya alice


''dia belum memberiku ucapan selamat kak''


''keterlaluan sekali abang ini'' ucap alice sembari mencebikkan bibirnya. alice benar-benar tak habis fikir, sebenarnya apa yang ada difikiran saudara kembarnya itu. bahkan dihari ulang tahun istrinya ia masih bisa bersikap dingin.


''gisa''


''kakak al, ada apa?''


''selamat ulang tahun. kuaminkan semua yang kamu cita-citakan, kuaminkan semua yang kamu harapkan. semoga bahagia selalu''


''terimakasih kakak al''


''ini hadiah untukmu''


''apa ini?''


''kakak ipar bukalah'' ucap alexs


''iya kak cepat buka'' timpal gisel dan bella secara bersamaan.


dan dengan segera gisa membuka kotak pemberian suaminya, didalamnya ada sebuah kotak perhiasan. dan dengan segera gisa membuka kotak perhiasan itu, betapa terkejutnya gisa ketika melihat satu set perhiasan berlian didalamnya.


"apa ini benar untukku?''


''iya. apa kau tidak menyukainya?''


''aku sangat menyukai ini kak, ini sangat cantik sekali'' ucap gisa sembari tersenyum semanis mungkin, namun matanya mulai merah dan mengeluarkan air mata.


''kalau kau suka lantas kenapa kau menangis?''


''aku hanya terharu, soalnya ini kado pertama pemberian suamiku" ucap gisa dengan polosnya hingga mengundang gelak tawa mereka yang ada diruangan itu.


''gisa, billa kau lihat itu, ayo kita minum''


''kak alice jangan macam-macam kitakan tidak pernah minum''


''iya kak, nanti kalau kakak al tau kita bisa dimarahi''


''sedikit saja, ayo''


mau tak mau gisa dan billa pun menuruti keinginan alice. namun entah dorongan dari mana bukannya hanya menyicipi mereka bertiga telah menghabiskan satu botol minuman beralkohol itu hingga membuat kepala mereka menjadi berat.


''gisa, billa ayo minum lagi. ini sangat enak''


''aku sudah tidak kuat lagi kak alice'' ucap gisa dan billa secara bersamaan.


''kalin berdua ini payah sekali'' ucap alice sembari kembali meneguk minuman itu.


''alice apa yang kamu lakukan?''


''abang. cobalah ini bang, ini sangat enak''


''siapa yang menyuruhmu untuk minum-minuman seperti ini?''


''tidak ada''


''alexs, arya'' teriak al memanggil adik dan juga sahabatnya.


''ada apa bang?''


''iya kau ini ada apa. kenapa teriak-teriak''


''apa mata kalian buta. coba lihat apa yang dilakukan tiga wanita bodoh ini''


''astaga mereka minum'' ucap arya tak percaya, karna selama ini kekasihnya tak pernah sekalipun menyentuh minuman beralkohol.


''iya. alexs kau bawa billa kekamar, dan kau bawa adikku''


dengan segera alexs dan arya membawa alece dan billa kedalam kamar, sedangkan al menggendong gisa dan membawa kedalam kamar mereka.


''jangan tinggalkan aku'' ucap gisa ketika al baru saja ingin beranjak pergi.


''jangan tinggalkan aku kakak al. aku sangat mencintaimu, kumohon jangan tinggalkan aku untuk nona aleta. kenapa kakak al tidak pernah memahami diriku, aku sudah menyukai kakak al sedari kecil. kenapa kakak al tidak bisa merasakannya, kenapa kak?'' racau gisa sembari menangis.


''apa, jadi selama ini gadis bodoh ini mencintaiku'' gumam al sembari tersenyum, dan ia segera memeluk gisa dengan erat.