
"dari mana saja kamu jam segini baru pulang?" tanya andre ketika baru saja melihat gara pulang.
"gara tadi belajar kelompok di rumah juno pa"
"hallah alasan pasti kamu pergi main kan? saya belikan kamu sepeda itu untuk ke sekolah bukan buat main"
"tapi gara memang pergi ngerjain tugas pa"
"ngejawab terus ya kamu, dasar anak nggak tau diri. masuk sana ke kamar kamu"
"iya pa"
"kala jangan pernah kamu meniru anak berandalan dan nggak tau diri itu. ingat kamu anak kebanggaan papa dan mama" ucap andre kepada sekala.
"iya pa"
sakit? pasti. hati anak mana yang tidak hancur ketika saudara kembarnya sangat di manjakan oleh orang tuanya sedangkan dirinya sendiri di asingkan bahkan seperti tidak di anggap ada keberadaannya.
gara memasuki kamarnya dengan sedikit lemah, dia kangen di manja oleh kedua orang tuanya. tapi kenapa harus dirinya yang menanggung kesalahan kala, mau sampai kapan gara menanggung semua ini.
"kakak aku kangen" ucap gara sembari memegang figura foto yang di dalamnya terdapat fotonya, sekala, dan juga sean kakaknya.
"gara ingin ikut kakak, gara kangen pengen main lagi sama kakak, sama kala juga. kenapa harus gara yang nanggung semua ini kak, bahkan sekarang mama dan papa sudah menganggap gara seperti orang asing. gara nggak ngerasain kasih sayang mereka lagi kak" gumam gara dengan mata mulai memerah.
"gara harus kuat ya, gara nggak boleh lemah"
entah mengapa ucapan dan bayangan starla berlarian di otaknya. dan dengan segera gara menghapus air matanya yang hampir saja jatuh membasahi pipinya.
"kata star, gara nggak boleh lemah. gara harus jadi anak yang kuat"
dengan segera gara membuka laci nakas disampingnya, di dalamnya terdapat kotak berisikan robot, rubik, dan sebuah surat pemberian sean waktu dirinya dan sekala sedang ulang tahun.
untuk segara adikku tersayang.
selamat ulang tahun adik kesayangan kakak. maaf ya kakak nggak bisa kasih apa-apa, tapi ini kakak belikan robot yang kamu inginkan. tapi ingat jangan bilang-bilang sama sekala ya, nanti dia iri. kalau kala tanya kamu dapat kado apa dari kakak, kamu tunjukan aja rubik ini. gara apa kau tau kalau kamu adalah adik kesayangan kakak, kakak lebih sayang kamu ketimbang kala. hehe tapi kamu jangan bilang-bilang sama dia, nanti dia bisa marah sama kakak. sekali lagi selamat ulang tahun garaku sayang. kamu harus janji sama kakak, jadi pria yang kuat ya, nggak boleh jadi pria yang lemah dan cengeng.
dari kakakmu yang sangat menyayangi dirimu ❤️
dengan segera gara memasukkan robot dan surat dari sean kedalam kotak, dan kembali menyimpannya.
"gara janji untuk kakak dan juga star, gara bakal jadi pria yang kuat"
******
"starla sayang" panggil laras ketika baru saja datang dan melihat starla sedang belajar bersama al di ruang keluarga.
"mama" ucap starla sembari berlari dan langsung memeluk laras.
"anak mama sedang apa?"
"star sedang belajar ma, tapi daddy malah sibuk sama kerjaannya sendiri. daddy nggak mau ngajarin starla, padahal ada satu soal yang nggak star bisa ma"
"yaudah sama mama aja ya. biar daddy lanjutin kerjaannya"
"iya ma" jawab starla sembari tersenyum senang.
"dasar ngaduan" ucap al menyindir putrinya.
"star daddy nggak ngajarin kamu buat kurang ajar sama orang tua ya"
"maaf daddy star bercanda" ucap starla sembari mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V
"udah ayo belajar lagi jangan gangguin daddy. daddy kan lagi kerja star"
"iya ma, maaf"
"ngapain loe disini?" ucap alexs yang baru saja datang bersama bella dan juga abel.
"alexs bisa sopan nggak" ucap al sembari menatap tajam alexs.
"ngapain juga gue harus sopan sama pembunuh kayak dia bang"
"laras kamu ajak starla ke kamar, bella kamu juga bawa abel ke kamar. saya ingin bicara dengan alexs"
"iya pak" jawab laras. dan bella pun menganggukkan kepalanya.
"abang mau bicara apa?" tanya alexs langsung pada intinya ketika laras, starla, bella, dan abel sudah tidak terlihat lagi.
"kenapa kamu begitu membenci laras lexs? punya salah apa dia sama kamu?"
"dia memang nggak punya salah sama gue bang, tapi gara-gara dia kak gisa meninggal. gara-gara dia, kita semua kehilangan kak gisa"
"lexs gisa meninggal karena takdir. dan itu juga nggak sepenuhnya salah dia"
"tapi gara-gara nolongin dia hingga kak gisa mengalami pendarahan, hingga akhirnya kak gisa meninggal" ucap alexs dengan nada tinggi, dan ini adalah untuk pertama kalinya alexs membentak abangnya sendiri.
"lexs kalau aja kamu jadi gisa dan laras adalah gisel, kira-kira apa yang akan kamu lakukan"
"abang nggak usah nyuruh gue berandai-andai. karena itu nggak akan ngebuat kak gisa kembali lagi" ucap alexs sembari bangkit dari duduknya dan langsung keluar dari rumah al.
"kenapa anak itu keras kepala sekali" gumam al sembari memijat pangkal hidungnya, kepalanya benar-benar terasa pening.
sementara itu dari lantai atas laras memandang al dengan tatapan sendu bahkan air matanya mengalir begitu deras. hanya karena membela dirinya hingga membuat al dan juga alexs bertengkar.
"maafin saya pak, gara-gara saya bapak dan mas alexs jadi bertengkar"
"laras kamu kenapa nangis?" tanya bella sembari memegang pundak laras.
"ahh nggak kok mbak. aku cuma klilipan aja"
"klilipan kamu bilang! apa kamu fikir aku ini starla atau pun abel yang dengan gampang kamu bodohi. jujur sama aku, kenapa kamu menangis. kalau kamu bisa anggap kak alice dan gisel sebagai kakak kamu, maka lakukan itu juga untukku ras" ucap bela sembari menangkup kedua pipi laras.
dan dengan segera laras menghambur memeluk bella, kini air matanya jatuh lebih deras lagi.
"maafin aku ya mbak. gara-gara aku tadi pak al dan mas alexs berantem, gara-gara pak al ngebelain aku, mas alexs jadi ngebentak pak al"
"apa kamu bilang? alexs ngebentak kakak al"
"iya mbak"
*"alexs benar-benar keterlaluan. ini untuk pertama kalinya aku dengar alexe ngebentak kakak al, pasti hati kakak al sakit sekali sekarang. aku harus memberinya pelajaran"* gumam bella dalam hatinya.