
"halo ma"
"riko sayang bagaimana kabar kamu nak?"
"riko baik ma. mama sama papa gimana?"
"mama dan papa juga baik-baik saja nak. minggu depan papa dan mama akan pulang, mama dan papa sangat merindukanmu sayang"
*"tumben mama kangen sama aku, tumben juga mama ingat kalau punya anak seperti diriku. ah tidak paling mama hanya memberiku kalimat penenang seperti biasanya, karna dari aku kecil mama selalu mengingkari janjinya"* gumam riko dalam hati.
"riko kenapa kamu diam saja nak?"
"oh nggak ma"
"kamu nggak senang mama dan papa pulang?"
"aku tentu senang ma. oh iya sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan sama mama"
"apa itu nak?"
"riko ingin menikah"
"apa? kamu tidak sedang bercanda kan riko?"
"tidak ma, riko serius. riko ingin menikahi wanita yang riko cintai, secepatnya"
"tapi kamu belum wisuda sayang"
"aku tidak peduli ma. aku ingin menikahinya meskipun tanpa persetujuan mama atau pun papa"
"riko kamu jangan nekat nak"
"sejak kapan mama peduli sama riko? selain kakek dan nenek, nggak ada lagi yang sayang sama riko" ucap riko sembari menutup sambungan telfonnya.
"kakek, nenek. andai kalian masih ada, riko pasti tidak akan kesepian seperti ini" ucap riko sembari membanting ponselnya, matanya mulai berkaca-kaca ketika mengingat dua sosok yang selalu ia sayangi selama ini.
****
"riko mana sel?"
"ya mana gue tau, loe fikir gue nyokapnya"
"tumben tuh bocah belum nongol, apa nggak masuk ya" ucap mira sembari menatap gisel.
"coba telfon deh sel" timpal agnes.
"iya udah gue coba telfon dia deh" ucap gisel sembari mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi riko.
"gimana?"
"nggak di angkat mir"
"coba lagi deh sel"
"oke gue coba lagi ya"
berulang kali gisel mencoba menghubungi riko, akan tetapi ponselnya selalu di luar jangkauan.
"tetep nggak bisa" ucap gisel dengan cemas.
"gue cabut dulu" ucap gisel sembari berlalu pergi.
"lah sel loe mau kemana, kelas mau di mulai bentar lagi" teriak mira.
"biarin mir, kasih waktu sahabat loe itu. mungkin aja sekarang perasaannya udah mulai berubah" ucap agnes sembari tersenyum.
"gue berharap juga gitu nes" ucap mira sembari memeluk agnes.
*******
tokk...tokk.... tokk
"riko, kamu di dalam?"
"buka pintunya ko, jangan buat aku khawatir"
ceklek.. suara pintu terbuka dari dalam dan keluar seorang wanita paruh baya dari dalam rumah.
"mbak gisel"
"bibi kenapa menangis?" ucap gisel sembari merangkul bi rati.
"mas riko mbak, dari pagi nggak mau keluar dari kamar, setelah selesai telfon mamanya mas riko menangis"
"apa saya boleh masuk bik?"
"silahkan mbak"
dengan segera gisel naik ke lantai dua dimana kamar riko berada.
"riko" panggil gisel sembari membuka kamar riko, gisel sangat terkejut, pasalnya kamar itu selalu rapi ketika gisel berkunjung. tapi sekarang kamar itu benar-benar berantakan, gisel juga menemukan riko di samping ranjang dan menyembunyikan wajahnya di antara kedua kakinya.
*"sebenarnya sedalam apa luka yang di torehkan kedua orang tuanya kenapa setiap kali itu berhubungan dengan kedua orang tuanya dia selalu terlihat kacau"* gumam gisel sembari berjalan perlahan ke arah riko.
"riko" ucap gisel sembari memeluk riko.
"gisel kamu ngapain kesini, ini waktunya kuliah" ucap riko sembari mengangkat kepalanya dan menghapus air matanya, riko tidak ingin terlihat rapuh di depan wanita yang ia cintai.
"aku menghawatirkanmu, ponselmu sedari tadi tidak aktif. mana bisa aku belajar dengan tenang"
"maafin aku ya" ucap riko sembari membalas pelukan gisel.
"jangan seperti ini lagi ya, kamu benar-benar membuatku khawatir"
"kamu menangis?"
"bagaimana aku tidak menangis kalau melihatmu seperti ini"
"aku tidak apa-apa calon istriku" ucap riko sembari tersenyum, hatinya benar-benar menghangat ketika melihat wanita kesayangannya menghawatirkannya seperti ini.
"kamu janji ya nggak akan seperti ini lagi"
"iya aku janji, jangan nangis lagi dong" ucap riko sembari menghapus air mata di kedua pipi mulus gisel.
"