My Introvert Husband

My Introvert Husband
bosan



"kakak al dimana kak?" tanya gisa kepada alice.


"kaukan istrinya kenapa malah bertanya kepadaku"


"habisnya aku bangun kakak al sudah tidak ada"


"suamimu sudah berangkat bekerja sayang" jawab mami melati sembari meletakkan menu sarapan yang telah ia masak keatas meja makan.


"kenapa pagi sekali mi?"


"iya, katanya ada rapat penting"


"abang keterlaluan sekali sih. sudah punya istri juga, pergi pun nggak pamit sama istrinya"


"mungkin saja abang nggak tega membangunkan gisa kak"


"mami terus aja belain abang"


"sudah-sudah sekarang anak-anak mami mandi dulu, baru kita sarapan bersama. kakak jangan lupa bangunkan dedek ya"


"iya mi" jawab gisa sembari berlalu pergi.


"gisa kekamar dulu ya mi"


"iya sayang, mandilah dulu"


dengan segera gisa kembali kedalam kamarnya dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"yaTuhan apa benar semalam kakak al memeluk diriku, aku tidak bermimpikan Tuhan?" gumam gisa sembari memeluk tubuhnya sendiri, entah mengapa pagi ini rasanya ia sangat bahagia sekali.


setelah selesai mandi dan bersiap gisa segera menuju kemeja makan untuk sarapan bersama mertuanya dan juga iparnya.


"pagi oma" sapa gisa kepada oma syifa yang sudah berada dimeja makan.


"pagi cucu oma yang cantik"


"yang lainnya mana oma?"


"mamimu masih memanggil papimu, sedangkan kedua adik iparmu masih juga belum turun"


"apa kakak gisa yang paling cantik sedang mencariku?" tanya alexs yang baru saja datang sembari mencomot sepotong roti bakar.


"kau terlalu percaya diri alexs" jawab gisa sembari terkekeh.


"percaya diri itu sangat penting kak"


"akan tetapi kalau kebanyakan juga tidak bagus"


"ahh yalah"


"kau ini papi dan mami belum datang sudah mendahului makan"


"habisnya lapar kak, apa kau mau adik iparmu yang paling tampan ini mati mengenaskan karna kelaparan"


"tidak selebai itu juga alexs"


"alexs adik kakak yang paling tampan, hari ini kakak nebeng ya" ucap alice yang baru saja datang.


"memangnya mobil kakak kemana?"


"ada, hanya saja kakak males mengemudi. jadi kakak nebeng dirimu ya"


"baiklah tuan putri"


"terimakasih dedek"


"cium dong" ucap alexs sembari mengetuk-etukkan jari telunjuknya di pipi kirinya.


"emuahhh 😘😘" dan dengan segera alice pun mencium pipi adik kesayangannya.


"ahhh lumayan dapat vitamin pagi-pagi. ya meskipun dari kakak sendiri" ucap alexs sembari tersenyum semanis mungkin.


"apa kak gisa mau cium pipi kanan alexs?"


dan dengan segera oma berdiri dan menghampiri alexs, oma pun segera mencium pipi kanan alexs.


"astaga kenapa jadi oma. alexs kan menawarkan khusus untuk kakak iparku yang paling cantik"


"habisnya kamu genit sekali kepada kakak iparmu" ucap oma sembari menjewer telinga alexs.


"auu oma sakit, tolong lepaskan telinga alexs oma"


"makannya jadi anak jangan genit"


"iya-iya omaku yang paling cantik"


"mama ini ada apa?" tanya papi varo yang baru saja turun bersama mami.


"ini putramu genit sekali sama kakak iparnya"


"alexs hanya bercanda pi, oma saja yang terlalu serius"


"sudah-sudah ayo kita segera mulai sarapannya"


"gisa sayang apa kamu nanti pergi bekerja nak?"


"tidak pi, gisa sudah memutuskan untuk keluar dari dunia modeling. papa bilang gisa harus fokus sama rumah tangga gisa, kalau pun kerja mungkin gisa akan bantu papa di kantor"


"bagus nak papi setuju, karna kalau kamu masih fokus pada karirmu kau akan sangat sibuk dengan pemotretan hingga sulit membagi waktu dengan suamimu. alice contohlah gisa, papi berharap nanti setelah kamu menikah dengan arya, kamu juga tinggalkan dunia modeling"


"alice tidak mau papi, alice memulai ini semua dari nol pi"


"tapi kau akan sangat sulit bagi waktu dengan suamimu nak"


"tidak akan pi, nanti alice akan kurangi aktifitas alice"


"baiklah terserah kau saja, yang penting pandai-pandailah membagi waktu"


"siap papi"


setelah semuanya pergi bekerja gisa sangat kesepian karna dia dirumah seorang diri. bahkan untuk mengusir rasa bosannya ia pun menggambar desain baju.


"astaga, aku sungguh bosan sekali. apalagi kak alice ada pemotretan diluar kota"


"huftt apa lebih baik aku memasak saja untuk kakak al, lalu aku kebutik mami untuk menyerahkan desain buatanku"


dengan segera gisa bangkit dan menuju dapur. ia segera menyiapkan semua bahan yang akan ia gunakan untuk membuat makanan bekal makan siang untuk al.


"non gisa sedang apa?" tanya bik ika, ketika melihat gisa tengah sibuk dengan aktifitas memasaknya.


"biar bibik saja yang memasak non"


"tidak apa-apa bik. aku ingin membuatkan bekal untuk kakak al"


"bibik bantu ya non"


"tidak perlu bik, biar saya saja. lagian sebentar lagi sudah selesai kok"


"ahh saya sangat senang sekali non"


"memangnya bibik senang kenapa?"


"karna non gisa yang menjadi istri tuan muda pertama"


"kenapa memangnya bik?"


"bibik selalu merasa kalau non gisa dan tuan muda sangat serasi. dan lagian non gisa sangat baik, cocok untuk tuan muda. bibik sangat faham betul bagaimana sifat tuan muda pertama, meskipun tuan muda terlihat dingin dan galak tapi sebenarnya dia sangat baik hati"


"ya aku juga selalu merasa begitu bik"


"nah sudah jadi, aku siap-siap kekantor kakak al dulu y bik"


"apa nanti non gisa segera pulang?"


"tidak bik, aku pulang nanti bareng mami. karna aku mau sekalian kebutik"


"baiklah kalau begitu non"


gisa segera menuju kekamarnya mengganti bajunya dan sedikit merias wajahnya. setelah selesai ia segera bergegas menuju kantor al.


setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit mobil yang dikendarai gisa pun sampai di kantor al.


"selamat siang mbak, apa kakak al ada diruangannya?" tanya gisa kepada salah satu resepsionis.


"ibu gisa, bapak ada diruangannya buk. ibuk langsung saja naik kelantai 26 disana ruangan bapak berada"


"iya saya sudah tau, apa saya boleh meminjam kartu aksesnya"


"ini buk" ucap resepsionis itu sembari memberikan kartu akses gedung.


"terimakasih" ucap gisa dengan tersenyum semanis mungkin.


dengan segera gisa menuju keruangan al dengan kartu yang ia pinjam dari resepsionis.


tokk..... tokk...... tokk


"masuk"


"apa aku mengganggu?" tanya gisa yang baru saja membuka pintu dan melihat disana ada arya, galih, dan juga aleta.


"tidak gisa, kami hanya sedang ngobrol santai saja kok" jawab galih sembari tersenyum.


"kau kenapa kemari?"


"aku membawakan bekal makan siang untukmu kak" ucap gisa sembari menunjukkan kotak makanan yang ia bawa.


"seharusny kau tidak perlu repot-repot seperti itu gisa"


"tidak merepotkan sama sekali. habisnya aku bosan sekali dirumah, jadi aku memasak dan membuatkan bekal untuk kakak al"


"gisa duduklah, kenapa kau berdiri saja" ucap arya sembari menepuk sofa kosong didekatnya.


"terimakasih kakak arya" ucap gisa sembari duduk didekat arya.


"memangnya alice kemana?"


"kakak alice ada pemotretan keluar kota kak"


"kenapa dia tidak bilang kepada diriku" ucap arya.


"hahaha kekasih yang tidak dianggap" ucap galih sembari terkekeh.


"kakak makanlah mumpung masih hangat, nanti kalau sudah dingin tidak enak"


"apa kau hanya membuat satu porsi saja sa, aku juga sangat lapar" ucap arya sembari mengelus perutnya.


"kak arya tenang saja aku membawa lebih kok, karna gisa tau kakak pasti masih disini"


"ahh gisa kau sangat perhatian sekali kepada diriku"


"makanya cepatlah menikah biar ada yang mengurus"


"diamlah, kau saja jomblo pakai acara menasehatiku"


"sudah diam, aku mau makan"


dengan segera gisa menyiapkan makanan yang ia bawa, setelah selesai gisa segera pamit untuk pergi kebutik.


"kakak al, aku pergi dulu ya"


"kau mau kemana? katanya dirumah bosan"


"aku mau kebutik mami, tadi kebetulan aku sempat menggambar beberapa desain. aku mau menyerahkannya kepada mami, siapa tau saja berguna"


"baiklah hati-hati dijalan"


"iya kak. aku permisi semuanya" ucap gisa sembari berlalu pergi.


"astaga al masakan gisa sangat enak sekali" ucap arya sembari sibuk melahap makanannya.


"iya al, ini sangat enak sekali. bidadariku memang yang paling hebat"


"kau ini bisa-bisanya memuji istri temanmu sendiri dihadapannya langsung"


"biarkan saja" ucap galih cuek.


"aleta cobalah ini, ini sangat enak" ucap galih sembari menyuapi aleta. dan dengan terpaksa aleta pun membuka mulutnya.


"enakkan ta, gisa memang istri idaman. al sangat-sangat beruntung bisa memiliki istri seperti gisa" ucap arya


"sudah diam dan makanlah, crewet sekali" sarkas al.


*"nona gisa memang istri idaman. selain cantik, dia juga baik. bahkan dia bisa memasak seenak ini, bahkan aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan nona gisa"* gumam aleta dalam hati.