My Introvert Husband

My Introvert Husband
Daddy Al sakit



"dari mana kamu jam segini baru pulang?" tanya andre begitu melihat sagara baru saja pulang.


ya acara dirumah oma melati lumayan menyita waktu, jadi mereka pulang pukul 10 malam.


"gara dari rumah oma melati pa" jawab gara sembari menunduk.


"siapa oma melati?"


"oma melati mamanya om al"


"masuk kamarmu"


"iya pa" jawab gara sembari berlalu menuju kamarnya.


"apa anak itu sedekat itu sama pak al ya pa"


"entahlah ma, tapi yang jelas pak al begitu melindungi bocah sialan itu"


"ckk kenapa harus bocah itu sih yang dekat dengan pak al, kenapa bukan sekala saja"


"kita harus dekatkan sekala dengan putrinya pak al ma, siapa tau nanti kita bisa besanan sama pak al"


"papa benar, mama setuju"


"gimana sekala ma? apa selama papa tinggal dia bandel"


"sama sekali tidak pa, anak itu tetap jadi anak yang manis dan penurut" jawab dewi sembari tersenyum.


"ahh syukurlah"


******


"pagi bik!"


"pagi cantik, mau makan sekarang?"


"tungguin daddy deh bi, apa daddy belum bangun?" tanya starla sembari celingak-celinguk mencari keberadaan sang ayah.


"bibi belum ada lihat bapak non, mungkin bapak masih tidur"


"mana mungkin daddy masih tidur bik, biasanya jam segini daddy udah rapi dan siap berangkat ke kantor bik"


"iya juga sih non. ya udah non star lihat daddy dulu gih"


"iya udah star cek daddy dulu ya bik"


"iya cantik"


dengan segera starla bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar sang ayah, sesampainya disana dilihatnya al masih tidur dengan selimut yang membalut tubuhnya hingga sebatas leher.


"nggak biasanya daddy masih tidur jam segini, apa daddy nggak pergi ke kantor"


"daddy bangun, ini udah siang. kenapa daddy nggak bangun-bangun sih" ucap starla sembari naik keatas ranjang sang daddy. "astaga daddy panas" ujarnya ketika memegang tubuh al berniat untuk membangunkan.


"BIBIK,,,,, BIK,,,,, BIBIK" teriak starla berusaha memanggil bik titik.


tak lama bik titik datang dengan tergopoh-gopoh, nafasnya tersengal-sengal karena memaksakan tubuh tuanya untuk berlari dari lantai dasar ke lantai atas.


"non star kenapa teriak-teriak sih, bibik sampai kaget" ucap bik titik dengan tersengal-sengal.


"bibik daddy demam, ini panas banget" ucap starla dengan mata berkaca-kaca.


selama ini daddy nya jarang sekali sakit, sekalinya sakit pasti cuma flu. tapi kali ini daddy nya demam sampai setinggi ini, hingga membuat gadis kecil itu takut.


perlahan bik titik mendekat dan memegang kening majikannya. dan benar apa kata starla suhu badan al sangat panas, pantas saja jika starla berteriak seperti tadi mungkin saja bocah kecil itu kelewat panik.


"tuan bangun tuan" ucap bik titik sembari mencoba menggoyang-goyangkan tangan al agar majikannya itu segera bangun, namun hasilnya nihil al masih saja setia memejamkan kedua matanya.


"non jangan nangis ya, biar bibik telfon pak arya dulu"


"iya bik, cepet star nggak mau daddy kenapa-kenapa"


"iya sayang"


dengan segera bik titik meraih gagang telfon yang berada di atas meja dipojok kamar al berusaha menghubungi arya dan juga riko.


setelah selesai menelfon bik titik segera mengambil baskom dan kompresan sembari menunggu arya dan riko datang.


"bibik daddy gak kenapa-kenapa kan? daddy bakal baik-baik aja kan bik?"


"bapak pasti baik-baik aja non, non star jangan sedih ya. nanti kalau daddy bangun dan lihat non starla sedih kayak gini pasti daddy ikut-ikutan sedih"


"star takut bik, daddy nggak bangun-bangun sih. mana badan daddy panas banget lagi"


"makanya kita kompres daddy ya. kita doain supaya daddy cepet sembuh, udah jangan nangis lagi. nanti cantiknya hilang loh" ucap bik titik sembari membawa starla kedalam pelukannya.


"bik gimana keadaan abang?" tanya alice yang baru saja datang bersama arya, riko, gisel, juga nana dan nono.


"tuan demam tinggi non"


"kita bawa kakak kerumah sakit sekarang" ucap gisel sembari menatap arya dan riko secara bergantian.


dengan segera arya menggendong al dan di ikuti oleh yang lainnya.


15 menit mereka tempuh untuk menuju kerumah sakit.


"kak al demam tinggi" jawab riko.


"saya kabarin tante rani dan juga felix" ucap virda sembari berlalu pergi.


astaga mereka semua sampai lupa kalau belum ada satu pun diantara mereka yang menghubungi mami atau pun papi.


"aku hubungi mama dan papa. mas arya tolong hubungi mami dan papi" ucap riko.


"oke"


alice sedari tadi membawa tubuh mungil starla kedalam dekapannya ia berusaha menyalurkan seluruh kekuatan yang ia punya kepada keponakannya itu, sedangkan gisel berusaha menenangkan nana dan juga nono. ketiga anak kecil itu sedari tadi tak henti-hentinya menangis.


tak lama seorang dokter keluar dari dalam ruangan dimana al ditangani.


"gimana keadaan kak al dok?"


"pak al baik-baik saja, beliau hanya kelelahan dan butuh istirahat" jawab sang dokter sembari tersenyum.


"tapi kak al demam tinggi dok"


"pak riko tidak perlu khawatir, saya sudah memberikan obat penurun panas. insyaAllah panasnya akan segera turun"


"tapi abang saya bener nggak kenapa-kenapa kan dok?"


"iya buk pak al baik-baik saja. sekarang yang perlu kita lakukan hanya berdoa, supaya pak al lekas sadar dan lekas membaik. kalau begitu saya permisi dulu"


"baik terimakasih dok" ucap arya sembari tersenyum.


"nana, nono ayo berangkat sekolah nak" ucap riko kepada dua bocah laki-laki yang masih setia menenangkan sepupunya itu.


"tapi kalau nana sekolah nanti star sendirian pa" ucap nana sembari mencebikkan bibirnya.


"ada mama, tante alice, sama om arya kan. nanti oma dan nenek juga kesini, ayo berangkat sekarang"


"iya udah berangkat sekolah sana biar star sama mama. kalau kalian ikut nggak masuk nanti gara sendirian dong nak" timpal gisel.


"ahhh bener juga na, ayo kita pergi sekolah" ucap nono sembari menarik tangan nakula


"aku antar anak-anak dulu" pamit riko sembari mengikuti nana dan nono yang berjalan lebih dulu.


"bisa-bisanya tu bocah nggak salim dulu" ucap alice sembari menatap pintu keluar.


"biarlah kak, namanya juga lagi buru-buru"


"oke baiklah"


******


"alice gimana keadaan abang kamu?" tanya mami melati begitu masuk kedalam ruang rawat al, dibelakangnya ada papi, alexs, bella, dan juga abel.


"abang baik-baik aja mi, kata dokter cuma kecapean aja" jawab alice sembari menggenggam tangan sang mami.


"mami sampai lemes begitu dapat kabar abang kamu masuk rumahsakit"


"mami nggak perlu khawatir al nggak kenapa-kenapa mi" ucap arya yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


"arya papi kan udah bilang sama kamu buat bantuin abang kamu, ini kenapa dia masih kecapean seperti ini" ucap papi varo sembari menatap tajam arya.


rasanya bulu kuduk arya langsung berdiri ketika ditatap setajam itu oleh mertuanya.


"ar dan galih udah berusaha pi, tapi emang al nya aja batu. kadang ada urusan yang harus dia sendiri yang kerjain dan nggak ngebolehin arya atau galih buat bantuin"


"varo udah nggak usah kamu marahin arya. kamu tau sendirikan gimana keras kepalanya putramu, apa kau lupa kalau Al mewarisi sifat keras kepalamu" ucap mami melati begitu menohok.


ahh papi varo rasa mami melati benar Al benar-benar jiplakan dirinya. bukan hanya sifat keras kepalanya yang sama namun sikap dinginnya pun juga sama.


"mel gimana keadaan Al?" tanya mama sarah yang baru saja datang bersama papa gio.


"Al baik-baik aja sar, dia cuma kecapean"


"ahh syukurlah kalau tidak terjadi apa-apa. aku sungguh sangat menghawatirkannya" ucap mama sarah tulus.


dapat mami melati lihat, kalau mata mama sarah masih terlihat sembab, mungkin beliau habis saja menangis.


"kenapa matamu merah?"


"ahh tidak aku hanya kelilipan mel" elak mama sarah sembari memalingkan wajahnya.


"jangan terlalu khawatir kamu taukan kalau Al itu anak yang kuat"


"aku tau itu mel"


"permisi" ucap rani dan juga felix yang baru saja datang.


"jeng rani, felix sini masuk" ucap mami melati sembari tersenyum.


"gimana keadaan Al mbak?" tanya rani kepada mami melati.


"cuma demam, dia terlalu kelelahan"


"ahh syukurlah kalau Al tidak kenapa-kenapa"