My Introvert Husband

My Introvert Husband
belanja keperluan bayi



"oiii maimunah bengong-bengong bae" ucap galih ketika melihat aleta duduk melamun di kursi kerjanya.


"tau loe kenapa sih ta?"


"gue lagi mikir apa lebih baik gue keluar aja ya dari kerjaan gue"


"what? loe gila ya" ucap galih dengan lantang.


"ta loe nggak seriuskan? loe masih punya tanggungan adik loe ta, loe satu-satunya harapan mereka ta. kalau loe berhenti kerja gimana nasib mereka berdua" ucap arya sembari duduk tepat di depan aleta duduk.


"gue bisa cari kerja lagi kan ya"


"ta loe jangan egois dong, hanya karena loe nggak bisa lupain al terus loe mau keluar dari kerjaan. loe butuh kerjaan ini ta, loe harapan adik-adik elo. dan selama ini gue tau al juga bantuin biaya kuliah adik loe kan"


"iya ta, dimana lagi loe bakal dapat boss sebaik al" timpal galih.


"tapi kalau gue disini gue semakin sulit buat lupain al"


"gue tau gimana posisi loe ta. emang nggak enak kalau cinta kita bertepuk sebelah tangan, apa loe fikir gue nggak sakit ngelihat gisa menikah dengan al! sakit banget ta, tapi gue mencoba untuk ikhlasin itu, karena gue percaya jodoh udah di atur sama Tuhan"


"loe nggak mencintai gisa lih, loe menyukainya sebagai idola. perasaan loe ke gisa, sama perasaan gue ke al itu beda"


"hemtt mungkin loe benar"


"ta jangan jadi egois. adik-adik loe masih butuh loe, kalau loe berhenti kerja mau loe kasih makan apa kedua adik loe"


"kamu benar juga ya"


"gini deh, apa nanti gue usulin buat loe di pindah aja ke kantor cabang"


"kalau gue pindah ke kantor cabang, gue bakal pisah sama adik-adik gue ya"


"adik loe udah bukan bocah yang harus loe jagain kan ta"


"kalau aleta pindah, sedangkan adik-adiknya nggak mana di bolehin sama al men, loe tau sendirikan kalau aleta sekertaris al yang paling bisa di andalkan" ucap galih.


"loe bener juga sih lih, kalau pun kalian sekeluarga pindah kasihan adik-adik loe ta"


"baru mikir loe"


"ya sorry, gue kan cuma ngasih usul"


"usul loe nggak bermanfaat"


"gue selama ini terlalu naif ya, gue fikir setelah bertahun-tahun bersama bisa merubah perasaan al ke gue. tapi nyatanya dia tetep menganggapku sebagai sahabat, ini salah gue, karena gue terlalu berharap lebih sama al"


"loe nggak salah ta, cinta loe yang salah. gue percaya suatu saat nanti loe pasti dapetin pria yang jauh lebih baik dari al"


"amin" ucap aleta dan galih secara bersamaan mengaaminkan perkataan arya.


"ehh ada acara apa ini, tumben ngumpul?" ucap al yang baru saja datang.


"emang biasanya ginikan, loe dari mana aja. kita bertiga udah nungguin lama ini"


"sorry-sorry tadi ada meeting"


"lah loe kok nggak ikutan ta?" tanya galih.


"sengaja gue nggak ikut, soalnya gue agak nggak enak badan" jawab aleta.


"udah ayo kita makan-makan"


''loe dapetin tuh proyek pembangunan stadion?" tanya arya dengan antusias.


"iya dong, siapa dulu al gitu"


asik makan-makan. yuk ta kita duluan" ucap galih sembari menarik tangan aleta.


"lah yang tau tempatnya kan pak boss lih"


"halah tempat biasanya kan sob"


"tuh bocah kalau urusan makan-makan semangat banget" ucap arya sembari menggeleng-gelengkan kepala.


*****


"aku bosen banget, kerumahnya kak alice ah" gumam gisel sembari bangkit dari duduknya.


"non mau kemana?"


''saya mau kerumah kak alice bik. nanti kalau riko pulang tolong bilang sama dia ya kalau saya main kerumah kak alice"


"nggak usah bilag pasti den riko ngerti non"


"iya juga ya, lagian mau kemana lagi aku kalau nggak kerumah kak alice atau kak gisa" ucap gisel sembari terkekeh.


"non gisa belum mau lahiran non?"


"HPLnya sih minggu depan bik"


"kalau non gisel gimana? udah ada tanda-tanda belum?"


''belum nih bik, doain aja ya'' jawab gisel lesu.


"itu udah pasti non, bibik pasti doain yang terbaik buat non gisel dan den riko''


''aku pergi dulu ya bik"


"iya non"


dengan segera gisel meninggalkan rumahnya menuju rumah alice yang berada tepat di depan rumahnya. ahh al benar-benar menempatkan mereka berseberangan, sebenarnya gisel ingin sekali punya rumah di dekat rumah kakaknya, tapi kalau dapat rumahnya di dekat rumah alice gisel bisa apa, lagian alice juga kakaknya kan.


"kak alice" panggil gisel sembari menerobos masuk rumah alice tanpa mengetok pintu, atau pun memencet bel.


"kak alice, kak alice"


"aku bosen di rumah makannya aku kemari"


"emangnya riko kemana?"


"riko hari ini ke kantor"


"ohh gitu, sekali-kali bikin rusuh di rumah gisa gih, masak di rumah kakak terus"


"kakak kan juga kakakku" ucap gisel sembari memeluk alice.


"iya tapi kakak capek kamu rusuhin terus"


"kakak kok jahat sih" ucap gisel sembari mencebikkan bibirnya.


"bercanda dek"


"aku tau kalau kakak bercanda, mana mungkin kakak tega sama aku"


"untung adik ya, kalau nggak udah aku kiloin kamu"


"udah kayak rongsokan aja di kiloin"


"hampir mirip sih. nah rongsok bisa di daur ulang, lah kamu mana bisa"


"keluar yuk kak"


"kemana?"


"shopping"


"minggu kemarin kita baru aja shopping dek"


"lah terus kemana dong. yang penting keluar gitu kak"


"gimana kalau kita beli perlengkapan bayi untuk gisa"


"boleh tuh kak, kita kan belum beliin apa-apa untuk calon keponakan kita"


"ya udah yuk siap-siap"


"oke'' jawab gisel sembari berlari kembali lagi menuju rumahnya.


"anak itu gesit sekali" gumam alice sembari tersenyum.


setelah selesai bersiap-siap alice dan gisel segera berangkat menuju toko perlengkapan bayi.


"kak kita mau beli apaan?'' tanya gisel setelah mereka sampai di salah satu toko perlengkapan bayi.


"baju bayi dulu"


''oke deh, ayok" ucap gisel sembari menggandeng tangan alice.


mereka berdua dengan sangat antusias memilih baju-baju bayi yang sangat lucu-lucu.


"buset banyak banget kak!''


"abisnya lucu-lucu sih dek"


"iya deh bumil. lah kakak nggak sekalian beli untuk kakak sendiri''


"nggaklah, kakak hamil masih 4 minggu dek, belum kelihatan juga jenis kelaminnya"


"iya juga sih"


"lalu kita beli apa lagi?"


"stroller''


"ayo deh''


setelah memilih stroller dan beberapa perlengkapan bayi lainnya alice dan gisel segera meninggalkan toko dan segera menuju rumah gisa.


"kakak" panggil gisel begitu mereka sampai di rumah gisa.


"kak, kakak dimana?"


"dek kamu kemari?'' tanya gisa yang baru saja keluar dari arah dapur.


"kakak bikin apaan?''


''puding mangga kesukaan kakak iparmu"


"emtt pasti enak deh, apa kau tidak punya keinginan membagikan untukku dan gisel?"


"tidak"


"jahat sekali kau ini, nanti kalau anakku ileran gimana?"


''itu hanya mitos kak''


''baiklah, tapi setidaknya bagi sedikit untuk kami. apa kau tidak lihat kami habis belanja sebanyak ini"


"memangnya kalian berdua habis belanja apaan?"


"tentu saja keperluan calon keponakanku"


"emtt kak alice sosweet banget sih"


"nggak usah sok manis, perut udah segedw gaban sok-soan imut"


sedangkan gisel hanya terkekeh melihat interaksi kedua kakak perempuannya.