My Introvert Husband

My Introvert Husband
starla pinsan



"kala mama sama papa pergi ya, kalau butuh apa-apa minta sama bik sum. selama mama sama papa keluar kota kamu jaga diri ya" ucap dewi sembari membelai kepala sekala dengan penuh kasih sayang.


"iya ma. papa sama mama hati-hati ya"


"iya sayang" jawab dewi sembari mencium puncak kepala sekala.


"jangan lupa belajar. jangan seperti anak kurangajar itu, ingat kamu harapan papa sama mama" ucap andre.


"iya pa" jawab kala dengan senyum yang di paksakan.


*"apa mama sama papa tetap bakal sayang sama kala, kalau mama dan papa tau kejadian yang sebenarnya. gara sorry aku udah limpahin semuanya ke kamu "* gumam sekala dalam hati.


"yaudah kami pergi dulu ya nak" ucap andre sembari memeluk sekala, dan dewi pun juga melakukan hal yang sama.


"iya ma"


sedangkan dari balkon gara hanya mampu melihat keluarga kecil bahagia itu, menyisakan dirinya yang hanya sendirian dan berteman dengan sepi.


papa, mama, dan sekala benar-benar terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia. gara juga ingin merasakan kasih sayang mereka seperti satu tahun lalu sebelum kejadian itu terjadi.


"Tuhan apa gara salah, kalau gara ingin nyempil di antara mereka bertiga" gumam gara sembari menatap sendu ke arah kedua orang tuanya yang tengah memeluk sekala.


"gara nggak boleh sedih. sekarang gara punya starla, nono, nana, alfin, dan juga biru. mereka semua sayang sama gara, sekarang gara nggak sendirian lagi. terimakasih Tuhan, karena engkau kasih gara sahabat-sahabat sebaik mereka" ucap gara sembari melangkah masuk kedalam kamarnya.


"den gara" panggil bik sum yang baru saja masuk kedalam kamar gara, sembari membawa nampan berisi makanan.


"ehh bibik, kenapa bik?"


"den gara kan belum makan dari kemarin. lukanya juga belum di obati den" jawab bik sum sembari menaruh nampan yang ia bawa di atas meja belajar gara.


"gara gapapa kok bik. harusnya bibik nggak usah repot-repot, nanti kalau gara lapar, gara akan ambil makan sendiri"


"maafin bibik ya den, bibik nggak bisa belain aden kalau bapak lagi marah" ucap bik sum sembari memeluk gara. ya hanya bik sum yang baik kepadanya dalam rumah itu, asisten rumah tangganya itu selalu memperlakukannya selayaknya anak sendiri, gara juga sangat menyayangi bik sum, berkat bik sum gara bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. bik sum sudah bekerja dengan keluarga gara sejak sekala dan juga segara masih bayi, tak heran jika bik sum sangat menyayangi kala, gara, dan juga almarhum sean.


bik sum juga selalu menyaksikan ketika andre dan juga dewi dengan ringan tangan menampar, memukul, hingga menghajar bocah kecil itu, hingga kadang gara memuntahkan darah. itu alasan mengapa bik sum masih bertahan sampai sekarang, bik sum tidak tega meninggalkan gara sendirian. bik sum tidak akan pernah tega meninggalkan bocah malang itu, karena bagi bik sum gara sudah seperti putra bungsunya.


"sekarang den gara makan ya, habis itu bibik obatin lukanya"


"iya bik" jawab gara sembari tersenyum.


sebenarnya gara tidak berselera untuk makan, akan tetapi ia harus makan. gara tidak tega jika melihat bik sum sedih, gara juga tidak mau jatuh sakit dan merepotkan bik sum.


"ini pasti sakit ya den?" tanya bik sum sembari memegang luka lebam di wajah gara.


"nggak kok bik, kan udah biasa" jawab gara sembari tersenyum, sebenarnya luka itu sangat sakit jika di pegang, tapi gara menahannya karena takut bik sum khawatir.


"bibik benci den gara yang sok kuat seperti ini" ucap bik sum, air mata yang sedari tadi ia tahan sekarang sudah membanjir dan tidak bisa ia tahan lagi. bik sum tau luka itu sakit dan juga nyeri, tapi gara selalu menutupinya.


"bibik jangan nangis nanti gara ikut sedih"


"gimana bibik nggak sedih kalau kamu seperti ini. setiap kali tuan nyakitin den gara bibik nggak bisa berbuat apa-apa, bibik takut kalau bibik melawan tuan malah pecat bibik. nanti siapa yang bakal rawat den gara"


"makasih ya bik"


"makasih buat apa den?"


"karena bibik selalu sayang sama gara"


"bocah bodoh, kamu selalu saja berterimakasih kepada bibik, padahal bibik nggak bisa ngelindungi kamu"


"bibik nggak usah lindungi gara, bibik cukup selalu berada di samping gara. itu udah lebih dari cukup buat gara" ucap gara sembari memeluk bik sum.


"yang kuat ya den. jangan pernah menyerah, den sean pasti nggak akan suka kalau den gara nyerah"


"iya bik. gara bakal tetap kuat demi kakak, demi bibik, dan juga demi sahabat-sahabat gara"


*"Tuhan tolong lindungilah anak baik ini"* gumam bik sum sembari memeluk gara.


*****


"woii ngapain loe?"


"astaga kakak ngapain sih ngagetin aja" ucap alfin sembari memegang dadanya, ia benar-benar terkejut dengan kedatangan adrian yang begitu tiba-tiba.


"ngapain loe neropongin rumah om al?"


"siapa juga yang neropong rumah om al" ucap alfin berusaha mengelak.


"helleh ngaku aja loe, kakak tau kok kalau loe lagi neropongin rumah om al"


"nggak. kakak nggak usah sok tau ya, orang aku lagi lihat burung yang lagi terbang kok"


"yang bener?"


"iya kak"


"iya bener-bener bohong. orang jelas-jelas gue lihat kok kalau loe lagi neropongin rumah om al. atau jangan-jangan...." ucap adrian sembari menggantung kalimatnya.


"jangan-jangan apa?"


"jangan-jangan loe lagi nguntit starla ya!"


"kakak gila ya" ucap alfin kesal, kakaknya itu selalu saja bisa membaca isi kepalanya.


"awas ya, nanti kakak bakal aduin kamu ke om al. karena kamu udah berusaha nguntit anak gadisnya" ucap adrian sembari berlari keluar dari kamar adiknya, sebelum alfin menghajarnya.


"KAKAK AWAS AJA YA, KALAU KAKAK BICARA YANG BUKAN-BUKAN" teriak alfin dengan emosi yang menggebu-gebu.


"WOI NGAPAIN DISITU? AYO CEPAT TURUN" teriak nakula ketika melihat alfin berdiri di balkon rumahnya. alfin yang mendengar teriakan nakula pun segera mengacungkan jempolnya sebelum ia berjalan masuk dan segera menghampiri nakula dan juga juno.


*****


"apa gara belum datang?" tanya nono.


"belum"


"mana mungkin, biasanya dia bakal datang lebih awal dari kita bertiga kan" ucap juno sedikit heran


"iya bener" timpal biru membenarkan apa yang baru saja di bilang oleh juno.


"no perasaan aku kok jadi nggak enak ya. apa terjadi sesuatu sama gara"


"nana kamu jangan nakut-nakuti dong"


"coba kamu telfon gara deh no"


"iya"


dengan segera nono merogoh benda pipih dari dalam saku celananya dan segera mencari nomor sagara untuk menelfon bocah itu.


"halo gar. kamu dimana? kenapa kamu belum datang?" ucap nono ketika gara baru saja menjawab panggilan telfonnya.


"nono maaf ya aku nggak bisa datang, soalnya aku lagi di luar" dusta gara.


"kamu kemana?"


"ada acara keluarga no, jadi aku ikut sama papa, mama"


"ohh begitu. tapi mereka tidak menindasmu lagi kan? aku sangat menghawatirkanmu gara"


"tidak no. kamu tenang saja, sampaikan permintaan maafku keada teman-teman karena aku nggak jadi datang"


"iya. yasudah kamu hati-hati, bye" ucap nono sembari mengakhiri panggilan telfonnya.


"gara bilang apa?" tanya nana


"gara lagi ada acara keluarga, jadi dia nggak bisa datang. ayo kita masuk, star pasti udah nungguin kita" jawab juno.


"asalamualikum pasukan cogan datang" ucap biru dan juga alfin secara bersamaan.


"walaikumsalam, kalian kenapa lama sekali. aku sampai bosan menunggu, oh iya gara mana?"


"gara lagi ada urusan keluarga, jadinya ia tidak bisa ikut kita main hari ini"


"oh, ya sudah ayo kita ke taman belakang" ucap starla sembari berdiri dari duduknya.


"star kamu pucet banget" ucap alfin sedikit khawatir karena starla terlihat pucat dan juga lemas, tidak seperti biasanya.


"aku gapapa, ayo kita pergi main sekarang" jawab starla sembari memaksakan senyumnya.


namun ketika star akan melangkah lagi, tiba-tiba telinganya mendengung, penglihatannya juga mulai kabur.


"star hidung kamu berdarah" ucap nana heboh ketika melihat daras segar mengalir dari hidung saudarinya.


"aku gap...." belum sempat starla melanjutkan perkataannya tubuh gadis kecil itu telah lebih dulu limbung. dan dengan sigap juno menangkap tubuh saudarinya itu.


"star bangun, tolong jangan buat aku ketakutan star" ucap nono sembari menepuk pelan pipi starla.


"star pasti lupa nggak minum obatnya no" ucap nana tak kalah panik dari nono.


"alfin panggil bik titik, nana cepat telfon om al"


"iya" jawab alfin dan nana secara bersamaan.


******


Al, arya, galih, juno, nana, alfin, dan juga biru tengah berdiri di depan ruang rawat starla, gadis kecil itu kini tengah di periksa oleh dokter esa. setelah mendapat telfon dari nana tadi al, arya, dan galih segera meluncur pulang. ketiga pria dewasa itu sangat khawatir dengan keadaan starla.


"papa, om al maafin nono. nono udah gagal jagain star" ucap nono sembari menunduk.


"sayang kamu nggak boleh salahin diri kamu sendiri. sekarang kita doakan semoga star nggak kenapa-kenapa" ucap arya sembari membawa juno kedalam pelukannya.


"kita sama-sama doain star ya. kalian anak laki, jangan cengeng" ucap galih sembari memeluk alfin dan biru, sedangkan al juga memeluk nana.


ketiga pria dewasa itu berusaha menguatkan anak-anak sementara mereka bertiga pun tak kalah takutnya.


"pak al bisa ikut saya" ucap dokter esa yang baru saja keluar dari dalam ruang rawat starla.


"iya dok" jawab al. "nana kamu bawa teman-teman kamu masuk kedalam, om mau ikut sama dokter dulu" ucap al sembari mengurai pelukannya kepada nana.


"iya om"


dengan segera al, arya, dan galih mengikuti langkah dokter esa.


"jadi gimana keadaan putri saya dok?"


"keadaannya semakin melemah pak, kita harus segera menemukan donor untuk starla. kalau tidak kita harus segera melakukan cuci darah"


"apa pendonor yang saya bawa kemarin hasilnya tidak cocok dok?" tanya arya.


"benar pak arya, ginjal mereka tidak cocok dengan ginjal milik starala. saya harap kalian bisa segera menemukan donor yang cocok, karena pihak rumah sakit juga mengalami kesulitan untuk mencarinya.


"kami akan berusaha dok"


"baiklah kalau begitu saya permisi" ucap dokter esa sebari berlalu pergi.


ketiga pria itu kini tengah bersimbuh di lantai rumah sakit, seolah lutut mereka begitu lemas. dan kekuatannya habis.


*"Tuhan tolong selamatkan putri kecilku, aku tidak mau kehilangannya"* gumam al dalam hati, bahkan air matanya kini telah jatuh membasahi pipinya.