
Rianti mengikuti setiap proses persidangan. Ia bahkan tidak menyangkal sedikitpun tuduhan yang di arahkan padanya. Hingga vonis di jatuhkan, Rianti tidak menolaknya. Rianti di vonis lima belas tahun penjara.
Brian ingin membantu, namun Rianti menolaknya. Bram tak bisa membantu. Apalagi, Rianti sendiri juga menolak bantuannya.
Sofia datang mengunjunginya. Ia menunggu di ruangan yang sudah di peruntukkan bagi para pengunjung. Rianti melihat kedatangannya. Tiba-tiba saja matanya berembun menatap Sofi. Ia langsung bersimpuh di kaki Sofi. Sofi terkejut.
"Rianti, apa yang kau lakukan? Cepat bangun." Rianti terisak.
"Maafkan aku mba." ucapnya.
Sofia merasa bingung. "Maaf untuk apa?" tanyanya bingung.
"Maaf karena aku sudah memisahkan mu dari mas Bram." ucapnya di sela isak tangisnya.
"Bangunlah." Rianti bangun dan duduk berhadapan dengan Sofia.
Berkali-kali ia menghapus airmata yang mengalir di pipinya. Sofia melihat wajah pucat Rianti, dan menghela nafas kasar.
"Kenapa kau tidak ingin dibantu?" tanyanya setelah terdiam cukup lama.
"Aku pantas mendapatkannya." lirihnya.
Sofia mengerutkan keningnya. Jika yang ia maksud karena membunuh orang lain, itu benar. Tapi, bukankah ia melakukannya karena terpaksa? pikir Sofia. Ini adalah asumsi Sofia. Sofia tahu, tidak mungkin Rianti melakukan itu jika tidak terpaksa.
"Bukankah kau terpaksa?" Rianti mengangkat pandangannya dan menatap tak percaya pada Sofia.
"Tidak mba. Anggap saja ini karmaku." ucapnya lelah.
"Aku lelah di kejar rasa bersalah." imbuhnya.
"Jika kau bicara tentang masa lalu, aku tidak lagi mempermasalahkannya."
"Sudahlah.." Rianti menyela.
"Tidak apa. Biarkan aku melaluinya di dunia. Jika di akhirat nanti, pasti lebih menyakitkan." saat ini pun terasa menyakitkan. Rianti kembali meremas perutnya tanpa di lihat Sofia.
Sofia menghela nafas kasar. "Aku sudah lama memaafkan mu."
"Kalau begitu, aku permisi." Sofia bangkit berdiri dan melangkah keluar.
Langkahnya terhenti sebelum ia memutar handle pintu karena panggilan Rianti. Ia menoleh.
"Bolehkah aku bertemu dengan Dewi?" tanyanya lirih.
"Akan ku sampaikan." ucap Sofia seraya tersenyum.
****
Keesokkan harinya Dewi pun mengunjungi Rianti bersama Genta. Jika bukan karena Sofia, sejujurnya Dewi tidak ingin lagi berurusan dengan Rianti.
Dewi memaksakan senyum saat melihat Rianti tiba. Rianti sendiri, menatapnya dengan rasa bersalah.
"Tante ingin minta maaf padamu." ucap Rianti setelah dia duduk di hadapan Dewi dan Genta.
Genta menggenggam jemari Dewi dan tersenyum pada gadis itu. Dewi pun balas tersenyum dan kembali menatap Rianti.
"Boleh Dewi tahu, kenapa Tante minta maaf?" tanyanya.
"Karena Tante, sudah menjauhkan mu dari papamu." lirih Rianti. Tiba-tiba saja, airmatanya mengalir di pipinya.
"Tante tidak bermaksud menyakitimu dan mamamu." ia menghapus airmatanya.
"Kau mau memaafkan Tante?" tanyanya lagi.
Dewi menatap ke dalam mata Rianti. Terlihat jelas penyesalan wanita itu di sana. Belum lagi, airmatanya yang mengalir terus menerus.
"Syukurlah. Tante lega mendengarnya. Semoga kau bahagia nak." ucap Rianti tulus dan di balas senyuman oleh Dewi.
*****
Setelah kunjungan Dewi beberapa waktu lalu, kini Rianti duduk termenung di dalam selnya. Hatinya merasa sedikit lega. Namun sayangnya, rasa sakit di perutnya kian bertambah.
Kian hari, tubuh Rianti melemah. Tak sedikit pun ia menceritakan kondisinya pada orang lain. Bahkan pada Brian dan Kinanti yang baru saja berkunjung.
Dia menatap langit-langit dalam selnya. Tuhan, ampunilah aku yang sudah banyak melakukan dosa. Aku ikhlas menerima sakit ini. Bahkan hukuman penjara ini. Jika kau memberiku waktu tambahan, akan ku pergunakan sebaik-baiknya. Tapi jika tidak, tolong ampunilah aku yang berlumur dosa ini.
Airmatanya sudah membanjiri wajahnya. Lagi dan lagi, ia meremas perutnya dan meringkuk menahan sakit di sana. Bahkan keringat dingin sudah membanjiri tubuhnya.
Hingga penjaga penjara memberitahunya, jika ada seseorang yang ingin bertemu dengannya. Rianti kembali menelan rasa sakit yang tengah menderanya itu. Kemudian, melangkah dengan tertatih-tatih menuju ke tempat orang yang sudah menunggunya.
Ia cukup terkejut melihat kehadiran Bram. Bram sendiri terkejut melihat wajah pucat dan tubuh kurus Rianti. Bahkan, tampilan Rianti sangat buruk.
"Jika kau ingin keluar, katakanlah. Aku akan menjamin mu." ucap Bram.
Rianti berusaha tersenyum semanis mungkin. Ia tak ingin terlihat menyedihkan di hadapan Bram. Meski Bram adalah mantan suaminya.
"Aku baik-baik saja mas. Hanya butuh penyesuaian saja. Jangan cemas seperti itu. Aku bisa salah mengartikan sikapmu nanti." lirihnya masih dengan senyuman.
Bram memalingkan wajahnya. Meski Bram tidak mencintai Rianti, namun ia tidak bisa untuk tidak merasa iba pada wanita itu.
"Maaf mas." ucap Rianti memecah keheningan yang terjadi di ruangan itu.
"Aku sudah memaafkan mu."
"Aku ingin membantumu untuk Brian dan Kinanti. Jangan salah paham." ungkapnya.
Rianti terkekeh dan mengangguk mengerti. Setelahnya, Bram pun meninggalkan tempat itu.
Ada rasa lega yang membuat senyum Rianti mengembang setelah semua permintaan maafnya ia sampaikan. Ia merasa, jauh lebih baik.
Bagaimana rasa sakitnya? Ia memutuskan untuk tetap menikmati rasa sakit itu sendiri. Tanpa harus memberitahukan pada keluarganya.
Hingga ajal menjemputnya, keluarganya tidak mengetahuinya. Rianti sudah meminta pada para penjaga, agar merahasiakan kepergiannya. Bahkan sebelum itu, ia sudah menolak bertemu siapa pun. Baik Sofi maupun Bram, tak bisa lagi menemuinya.
Dua tahun kemudian, Brian memaksa untuk menemui ibunya. Ia bahkan menggunakan koneksinya yang berada di kepolisian untuk bertemu Rianti.
Saat itulah ia mengetahui, jika Rianti sudah meninggal dunia sejak sepuluh bulan yang lalu. Brian tercengang mendengar berita itu. Ia di antarkan ke tempat peristirahatan terakhir Rianti.
Di sana, Brian tak bisa menahan airmatanya lagi. Ia meraung menangisi kepergian Rianti. Hingga malam tiba, Brian tak beranjak dari sana. Cindy yang melewati pemakaman yang sama, melihat Brian yang duduk termenung di sana.
Ia menghampirinya dan menyapanya. Awalnya, Brian tak menanggapinya. Hingga Cindy mengajaknya pergi dari sana dan menghiburnya. Di hadapan Cindy, Brian menangis tiba-tiba. Bahkan, mengungkapkan penyesalannya yang tak bisa berada di sisi mamanya pada saat-saat terakhirnya.
Cindy menjadi pendengar yang baik. Dan memberikan pelukan hangat pada Brian. Sejak itu, benih-benih cinta tumbuh di antara mereka.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Hai genks.... Bagaimana kabar kalian.... Rindunya aku pada kalian. Kali ini, bab untuk Rianti sudah selesai. Setelah ini, hanya bab bab akhir menuju pernikahan Genta dan Dewi, serta Bram yang akan memperjuangkan Sofia. Apakah Sofia akan kembali menerima Bram?
Belum ada dalam bayanganku. Di tunggu kelanjutannya ya..
Oh iya genks, sudah pada tahu belum kalau cerita ini, ada versi audionya? Kalau belum, yuk di ramaikan. Siapa tahu kalian juga suka.
Jangan lupa mampir ya. Kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ rate, komen, dan likenya. Di favoritkan juga ❤️.
Thank you for your support. Buat semua bentuk dukungan kalian, aku gak akan punya semangat meneruskan cerita ini tanpa dukungan kalian.
I love you genks....