My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Nasihat Genta



Dua bulan kemudian.


Hari ini, sidang putusan cerai antara Rianti dan Bram akan di bacakan. Sejak awal persidangan di mulai, Bram tak pernah menghadirinya.


Rianti, harus menerima pil kekecewaan. Sebelumnya, ia berharap bisa melakukan mediasi dan mencoba mempertahankan rumah tangganya. Namun ternyata, semua itu tidak akan pernah terjadi.


Rianti pun memilih hidup sendiri. Dari tunjangan yang di berikan Bram padanya, ia mencoba membuka usaha. Karena tidak mungkin baginya bergantung pada Brian putranya.


Sejak Bram melayangkan gugatan cerai, Brian dan Kinanti memilih keluar dari kediaman Wijaya. Mereka memilih tinggal di apartemen.


Brian sendiri menjadi seorang workaholic. Pagi-pagi sekali, ia sudah berangkat bekerja. Dan baru kembali saat larut malam.


*****


Hari terus berganti. Tidak bosan-bosannya Patricia menemuinya. Meski selalu saja berakhir dengan penolakan dari Brian.


Brian benar-benar sudah berubah. Bagaimana caraku mendekatinya lagi? batinnya.


Cia mematut dirinya di cermin. Melihat wajah dan bentuk tubuhnya. Tidak ada yang salah sedikitpun. Wajah cantik dan bentuk tubuh bak gitar spanyol. Dulu Brian begitu menggilainya.


"Tidak ada yang salah darimu." ucap seorang pria yang menyandarkan tubuhnya di daun pintu.


"Lalu, kenapa sulit sekali menarik perhatiannya padaku?" tanyanya.


Pria itu berjalan mendekat dan melingkarkan lengannya di bahu Cia. "Cia, Brian bukan pria yang kau kenal lagi. Pengakuan mu saat itu, membuatnya berubah."


"Lalu aku harus bagaimana Ray? Aku harus masuk ke dalam hidup Brian untuk menghancurkan Jasmine dan ayahnya Daniel." tutur Cia.


"Jangan manfaatkan dia untuk kepentingan mu. Jika sampai dia tahu rencana mu, dia akan semakin membencimu." Ray memberikan saran.


"Aku tidak peduli dengannya lagi. Aku dan dia sudah lama berakhir. Aku hanya ingin membuat Jasmine menderita." Cia berbalik dan menatap dalam mata Ray.


"Baiklah. Brian tidak suka dengan cara berpakaian mu." ucap Ray yang membuat Cia memicingkan matanya.


"Apa ada yang salah dengan pakaian ku?" tanyanya.


"Perhatikan setiap karyawan di kantornya." Cia menggali ingatannya.


"Kau benar. Sekertaris nya saja menggunakan pakaian tertutup. Baiklah." Cia segera membuka lemarinya dan mencari outfit yang sesuai dengan selera Brian. Ray menatap Cia sendu.


Aku harap, kau tidak terjebak dengan permainanmu sendiri.


*****


Sementara itu, Cindy mulai menjalani hari-harinya seperti semula. Tanpa perlu lagi mengkhawatirkan gunjingan karyawan lainnya.


"Bos manggil Lo Cin." ucap Genta di telinga Cindy. Cindy tersentak dan memukul lengan Genta.


"Lo bisa gak sih, gak usah ke sini. Cukup SMS atau WA saja." ucap Cindy lirih dengan mata melotot nya.


Genta terkekeh kemudian segera berlalu. Beruntung, karyawan yang lain tengah di sibukkan dengan pekerjaan. Cindy segera berdiri dan meninggalkan departemennya.


"Bapak panggil saya?" tanya Cindy ketika ia tiba di ruangan Brian. Brian tak menjawab. Pandangan Cindy mengarah pada soda di ruangan Brian. Dia bisa melihat mantan dari bosnya yang tengah melihatnya dan tersenyum manis.


Ya, Tuhan... dosa apa gue ya? Bisa-bisanya gue di jadiin tamengnya bos. Tiap mantannya ke sini, pasti gue yang di panggil. rutuknya dalam hati.


"Temani saya makan siang." ucap Brian tanpa mengalihkan pandangannya.


"Brian, kan ada aku. Kita makan siang bareng ya." pinta Cia dengan nada selembut mungkin.


Brian mengangkat pandangannya dan menatap tajam pada Cia. "Boleh. Tapi Cindy harus ikut. Dia calon istri ku." ucap Brian tegas.


Seketika mata Cindy menatap Brian tak percaya. Apa gue gak salah dengar? Sejak kapan gue jadi calon istri bos?


Brian menatap Cindy lembut. Senyumnya terbit. Senyuman termanis yang pernah Cindy lihat dari Brian.


Ya Tuhan, senyumnya itu loh.... wajah Cindy bersemu merah. Buru-buru Cindy menundukkan pandangannya.


"Ayo sayang." ajak Brian saat ia berdiri.


Brian melepas paksa tangan Cia dari lengannya. Kemudian berbalik dan menggenggam jemari Cindy.


Tanpa Brian sadari, dalam hatinya kini mulai tumbuh perasaan yang lain. Brian sendiri masih memungkiri rasa itu.


****


"Apa bapak yakin dengan rencana bapak?" tanya Genta.


Mereka saat ini sedang dalam perjalanan pulang. Brian mengangkat pandangannya menatap Genta. Terlihat ia mengerutkan dahinya.


"Saya tahu, bapak hanya memanfaatkan Cindy." tutur Genta.


Brian tersentak. Rupanya, Genta bisa membaca rencananya. Apakah Genta tahu semuanya?


"Apa maksudmu?" tanya Brian berpura-pura.


"Nona Patricia, ingin memanfaatkan anda untuk menghancurkan saudara tirinya nona Jasmine." Brian menatap genta.


"Aku sudah tahu." Brian kembali fokus pada Ipad-nya.


"Biarkan saja dia."


"Maaf, bukan maksud saya menggurui anda. Tapi sebaiknya, anda jangan mempermainkan hati seorang wanita." ucap Genta.


"Anggap saja, ini nasihat dari ku sebagai adik ipar mu."


Brian termenung mendengar ucapan Genta. Apa ia sudah salah melangkah? Apa caranya sudah benar?


"Satu lagi, jangan sampai anda terjebak dengan permainan anda sendiri." ucap Genta.


Tak lama, mereka tiba di apartemen Brian. Saat Brian turun, Jasmine menghampirinya. Ia tersenyum manis menatap Brian. Genta segera menghadang Jasmine dengan tubuhnya.


"Kau tenang saja. Aku tidak akan mencelakai pria yang ku cintai." ucap Jasmine saat jalannya di halangi oleh Genta.


Brian memberi isyarat pada Genta untuk membiarkan Jasmine. "Apa mau mu?" tanyanya.


"Tidak ada. Hanya ingin menemui mu saja." ucapnya.


"Jadi, kau akan kembali pada Cia?" tanyanya.


"Bukan urusanmu. Pergilah jika tidak ada yang penting." ucap Brian. Brian segera melangkah meninggalkan Jasmine.


"Aku akan menghancurkan Cia jika kau kembali padanya." teriak Jasmine. Brian berhenti tanpa menoleh.


"Terserah." jawabnya kemudian berlalu.


Jasmine menyeringai. Kau pikir aku main-main? Lihat saja nanti Brian. Akan ku buktikan semua ucapan ku. Jasmine pun meninggalkan pelataran parkir apartemen itu.


Jasmine. Kau benar-benar menguji ku. Aku sudah mengalah saat kau hampir mencelakai Cia. Kali ini, akan ku pastikan kau menyesalinya. batin Brian.


Genta memperhatikan perubahan raut wajah Brian setelah mendengar ucapan Jasmine tadi. Sepertinya, Brian begitu mencintai Cia. Lalu, mengapa ia menolak permintaan Cia?


Hanya Brian yang tahu jawabannya. Setelah memastikan Brian tiba dengan selamat, Genta mengatur anak buahnya yang berjaga di depan unit apartemen Brian. Kemudian ia kembali ke rumahnya.


Saat ini, Genta sudah berkumpul kembali dengan kedua orangtuanya dan adiknya. Mereka tinggal bersama di rumah yang sudah di beli Genta dari hasil kerja kerasnya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Hai genks ... maaf ya, jarang up. Lagi banyak kegiatan di real life.


Terimakasih buat kalian yang masih setia dengan novel ku... Jangan bosen² ya....


Jangan lupa like, komen dan vote serta bunganya ya.....


Thank you genks... i love you....


Big hug for you....