My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Senjata Makan Tuan



Brian masih saja merasa gelisah. Jam terus berdetak hingga tak terasa, sudah menjelang sore. Genta belum juga menghubunginya. Brian memutuskan menanyakan Genta pada Jenny sekretarisnya.


Brian menekan intercomnya. "Jen, Genta sudah kembali?" tanyanya.


"Belum pak." jawabnya.


Brian kembali mendesah setelah menerima jawaban dari Jenny. Rasanya, ingin ia menyusul Genta langsung ke gedung Hadinata Corp.. Namun, ia juga bimbang.


Ia merasa sangat geram dengan keadaan ini. Kembali Brian memijit pelipisnya. Mencoba fokus kembali. Namun lagi lagi pria itu gagal.


"S**t. Aku gak bisa konsentrasi kalau begini." dia bangkit dari kursi kebesarannya dan mengambil jas yang terlampir di sandaran kursinya.


Ia berjalan keluar dari ruangannya dan menuju lift. Saat lift terbuka, Genta keluar. Brian yang tak memperhatikan karena tengah menatap fokus pada ponselnya masuk begitu saja.


Genta pun memutuskan masuk kembali ke dalam lift. Dia mengernyitkan dahinya melihat Brian yang sepertinya terlihat gelisah. Akhirnya, Genta memutuskan menanyakannya saja.


"Apa bapak butuh bantuan?" tanya Genta.


Brian yang mendengar suara itu segera mengalihkan perhatiannya pada pria di sampingnya.


"Genta. Ngagetin saja." Brian mengelus d**anya. Genta hanya tersenyum.


"Maaf pak. Tapi bapak mau kemana?" tanyanya lagi.


"Mau nyusul kamu. Takutnya kamu jadi pembelot." lirihnya.


Genta tertawa terbahak mendengar ucapan Brian. Rupanya Brian begitu takut kehilangan dirinya.


"Kalau bapak tidak ingin saya jadi pembelot, syarat saya cuma satu." Brian menatap tajam pada Genta. Saat pintu lift akan terbuka, Brian menekan tertutup dan menekan angka kembali ke ruangannya.


"Aku tahu apa mau mu. Tapi tidak semudah itu kau mendapatkan restu dariku." ucap Brian.


"Benarkah? Rasanya, saya memang harus memikirkan tawaran dari Hadinata Corp.." Brian menatap tajam Genta.


"Mereka menawarkan saya posisi CEO, rumah, fasilitas yang terbilang wow, gaji yang fantastis juga pewaris Hadinata Corp yang sangat cantik." Brian mengeraskan rahangnya menatap Genta.


"Jadi kau ingin menukar adikku dengan semua itu?" Brian tersenyum sinis. Genta merasakan aura berbeda dari Brian.


"Sekarang aku tahu motif mu mendekati Dewi. Orang miskin sepertimu, memang hanya mengincar harta." Brian memberi penekanan pada setiap kata yang di ucapkan nya. Matanya menyorot tajam pada Genta.


Genta menelan salivanya dengan berat. Niatnya yang hanya ingin menjahili atasannya, kini berbalik menyerang dirinya sendiri.


"Santai bos... Aku hanya bercanda. Sungguh." Genta menahan Brian yang akan memukulnya.


"Itu tidak lucu. Jika kau memang menyukai gadis pewaris dari Hadinata Corp. yang cukup misterius itu, maka tinggalkan perusahaan ini dan juga adikku mulai sekarang." ucap Brian tegas. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan mengenalkannya.


Hah.... Hidupmu terlalu di penuhi keseriusan bos. Kau bahkan tidak tahu siapa pemilik Hadinata Corp. dan sudah menjudge ku hanya memandang harta. batin Genta.


"Maafkan saya pak. Saya tidak akan mengulanginya. Saya hanya mencintai adik anda. Saya sudah menolak tawaran dari Hadinata Corp.." tuturnya.


Genta menyesal sudah mengerjai Brian. Sepertinya, Brian sangat tidak menyukai sebuah hubungan yang hanya memandang harta.


"Jangan di ulangi. Dan ingat satu hal. Jika aku mengetahui kau berkhianat, maka aku tidak segan-segan menghancurkan mu." ancam Brian.


Lift pun terbuka. Mereka segera melangkah ke ruangan Brian. Brian masih mengeluarkan aura membunuh dari matanya. Genta merasa bersalah sudah memprovokasinya.


Pintu terbuka, mereka pun masuk ke dalam ruangan Brian. Brian segera memfokuskan diri dengan pekerjaan. Hatinya masih merasa kesal pada Genta. Sedikitpun, Brian tak menatap Genta.


"Jika tak ada yang ingin kau katakan, silahkan keluar dari ruangan ini." usir Brian.


"Sekali lagi, saya minta maaf pak. Saya tidak akan mengulanginya lagi." Genta segera menundukkan kepala dan keluar dari ruangan Brian.


Setelah Genta keluar. Brian menarik nafas dalam dan berusaha mengendalikan emosi yang tiba-tiba berkobar saat mendengar ucapan Genta tadi.


Apa yang harus ku lakukan untuk menghilangkan rasa trauma ini? Rasanya ini sangat menyiksa ku. Brian memijit pangkal hidungnya dan memejamkan matanya.


"Iya ma." sahutnya saat ia meletakkan benda pipih itu di telinganya.


"..."


"Aku segera ke sana." Brian mematikan sambungan itu dan segera keluar.


Saat ia keluar, bertepatan Genta keluar dari ruangannya. Genta yang melihat Brian akan keluar, segera berinisiatif mengikutinya.


"Kita kemana pak?" tanyanya.


"Kau tidak perlu mengikuti ku. Suruh saja Aldo. Aku masih kesal padamu."


Genta berhenti. Saat lift terbuka, Genta segera menghubungi Aldo rekannya untuk mengikuti Brian. Dan ia berpesan, jika situasi sangat genting, agar segera menghubunginya.


•••••••


Brian tiba di sebuah restoran. Ia mencari Sofia yang tadi menghubunginya. Sofia yang melihat kedatangan Brian tersenyum. Brian segera menghampirinya.


Brian mencium pipi kiri dan kanan Sofia. "Mama kenapa kemarin gak temuin aku dulu baru pulang?" tanya Brian.


"Maaf ya nak." hanya itu yang di ucapkan Sofia.


"Bagaimana kabarmu?" tanyanya.


"Aku kesal ma. Pacar Dewi itu ternyata matre ma." ucapnya kesal. Sofia ingin tertawa mendengar curahan Brian, namun di tahannya.


"Gak mungkin sayang, mama sangat mengenalnya." Sofia mengusap punggung tangan Brian.


"Hah... Mama sama Dewi sama." raut wajah Brian terlihat semakin kesal.


"Brian, mama akan perjuangkan apa yang menjadi kebahagiaan Dewi. Sekalipun mama harus melawan mu dan papamu." Brian menatap Sofia tak percaya.


"Sekalipun pria itu akan menyakiti Dewi?"


"Mama yakin Genta tidak akan menyakiti Dewi. Bahkan seujung kuku pun." yakin Sofia.


"Bagaimana mama bisa yakin seperti itu?" Brian penasaran dengan penilaian dari Sofia.


"Mama bisa merasakannya. Mama sudah memastikannya pula." Brian mengernyitkan dahinya dalam.


"Genta sudah menolak tawaran dari Hadinata Corp. kan?"


Muncul tanda tanya besar dalam benak Brian. Bagaimana mamanya itu bisa tahu semua hal itu?


"Kamu tenang saja. Mama tidak mungkin menjerumuskan Dewi." janji Sofia.


"Ma, Dewi masih terlalu muda dan naif..." Brian belum menyelesaikan perkataannya.


"Mama tahu sayang. Apa yang terjadi padamu pun mama tahu." Brian terkejut. Brian tak pernah menceritakan hal ini pada siapa pun.


"Siapa yang memberitahu mama?" ucap Brian. Sofia tersenyum menenangkan.


"Suatu saat kamu akan tahu. Permintaan mama hanya satu. Restui adikmu dan Genta." Brian hanya menganggukkan kepala.


Brian percaya, jika Sofia pasti jauh lebih mengetahui apa yang terbaik. Meski benaknya masih di penuhi berbagai pertanyaan. Hidup Sofia terlalu penuh dengan teka-teki.


Papanya terlalu bodoh melepaskan istri secantik, selembut dan secerdas mama Sofia nya.


🍀🍀🍀🍀🍀


Akhirnya, bab ini selesai. Dari tadi ada aja gangguan untuk menyelesaikannya. Maaf ya kalau kurang greget ceritanya.


Thank you all. Jangan lupa like dan komen ya....😘