My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Keputusan Rianti



Rianti tiba di depan sebuah rumah mewah. Ia melangkahkan kakinya memasuki rumah itu. Penjaga yang berjaga di depan , mempersilahkannya masuk.


Sebelumnya, Rianti memang sudah memberitahu akan kedatangannya. Hingga penjaga rumah itu tidak perlu menghadangnya.


Rianti menunggu dengan sabar di ruang tamu. Sepuluh menit kemudian, pria paruh baya itu terlihat menuruni anak tangga di dampingi wanita muda dan cantik. Mungkin, usianya lebih muda lima sampai tujuh tahun dari Rianti. Wanita itu tersenyum sinis padanya.


"Jadi, kau memutuskan menyerahkan dirimu sendiri?" ucap pria itu tanpa basa basi.


"Ya." jawabnya singkat tanpa memandang pria itu.


Pria itu tertawa terbahak-bahak. "Kenapa kau tidak mengorbankan anak madumu saja? Bukankah setelah itu kau akan menjadi kaya?" ucap pria itu sinis.


"Aku bukan Ranti. Aku bahkan tidak menginginkan hartanya." Rianti menatap tajam pria itu.


"Aku bahkan tidak sudi melihatmu." sambungnya dalam hati.


"Kau terlalu naif."


"Tapi terserah padamu. Malam ini, kau akan mulai melayaniku." desis pria itu.


"Sayang... Bukankah malam ini jatahku?" wanita yang mengikutinya berucap manja pada pria itu.


"Kau tenang saja. Jika malam ini aku tidak terpuaskan, aku akan menemui mu. Aku hanya ingin mencicipinya." pria itu berbisik mesra di telinga wanita itu.


Rianti menatap jijik adegan di depannya.


*****


Malam hari tiba, ia membuat secangkir teh dan memasukan sesuatu ke dalam sana. Beruntung, tidak ada yang melihatnya.


Ia membawa cangkir itu ke kamar. Tiba di kamar, ia terkejut melihat pria itu telah duduk di tepi ranjangnya. Pria itu terkekeh.


"Apa itu untukku?" tanyanya.


"Ti-tidak... Ini untukku." jawabnya terbata. Hingga ia ingat, jika ia memang membuatnya untuk pria itu.


"Oh... Baguslah. Jika itu untukku, mungkin saja kau sudah menaruh racun di sana." Rianti menatap tak percaya pada pria itu.


Bagaimana bisa pria itu menebak jalan pikirannya? itulah yang dipikirkannya.


"Untuk apa aku membuatkan mu teh? Aku tidak tahu selera mu." jawab Rianti.


Ia melangkah ke samping tempat tidur satunya dan meletakkan cangkir teh itu di atas nakas. Kemudian, ia melangkah ke kamar mandi. Ia berusaha menetralkan debar jantungnya yang tak karuan. Telapak tangannya bahkan sudah berubah menjadi sangat dingin.


Rianti berjalan mondar-mandir di dalam kamar mandi. Tidak tahu bagaimana cara menghindari pria itu. Tiba-tiba saja, perutnya terasa di remas. Sangat sakit, hingga ia membungkuk untuk menekan rasa sakitnya. Wajahnya berubah pucat pasi.


Rasanya, sudah lama sakit itu tidak hadir. Entah mengapa, kini kembali hadir. Ia masuk ke dalam kamar dan membuka laci nakas. Sebelumnya, ia sempat memasukkan botol obat kecil ke sana.


Pria itu melihat Rianti yang berjalan tertatih. Ia mengerutkan keningnya. Apa yang terjadi? pikirnya.


Ia melihat semua yang di lakukan Rianti. Hingga menenggak obat itu. Namun, belum sempat Rianti menelan obat itu, ia jatuh pingsan. Pria itu terkejut. Ia membantu Rianti berbaring di atas ranjang.


Setelahnya, ia memanggil dokter pribadinya. Setengah jam kemudian, dokter itu datang dan memeriksa Rianti yang masih pingsan.


"Sepertinya, anda harus membawanya ke rumah sakit tuan." ucap dokter itu setelah sekian lama memeriksa Rianti.


"Memang dia kenapa?" tanyanya.


"Saya tidak bisa memastikannya. Sebaiknya, bawa dia ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan." jawab dokter itu.


"Baik. Apa parah?" tanyanya lagi.


"Itupun saya tidak tahu tuan." pria itu mendengus kesal.


"Ya sudah, bawa saja. Menyusahkan sekali."


*****


Entah sudah berapa lama ia tertidur. Ketika ia sadar, ia terkejut mencium aroma obat-obatan di ruangannya berbaring.


Rumah sakit? ucapnya dalam hati.


"Kau sudah sadar?" Rianti menoleh.


"Sangat menyusahkan. Sebentar lagi hasilnya keluar." ucap pria itu kesal.


"Kenapa anda membawa saya kemari?" lirih Rianti.


"Kau pikir, kalau kau mati di rumahku tidak akan ada imbasnya?" pekik pria itu.


Rianti memejamkan matanya. Teriakan pria itu menyakiti telinganya. Tak lama, masuk dokter yang memeriksa Rianti tadi dengan hasil pemeriksaan.


"Selamat pagi. Bagaimana perasaan anda Bu?" tanya dokter itu pada Rianti.


"Saya baik-baik saja dok." jawab Rianti.


"Tidak usah basa basi. Cepat katakan, dia sakit apa?" ucap pria itu kesal.


"Ah... Baik Tuan." dokter segera membuka hasil pemeriksaan itu.


"Anda terkena kanker usus. Dan, ini sudah memasuki stadium lanjut."


Tidak hanya Rianti yang terkejut. Pria itupun terkejut.


"Keluar. Aku ingin bicara dengannya." pinta pria itu.


Dokter segera keluar meninggalkan mereka.


"Sepertinya kau harus menukarnya dengan anak madu mu. Aku tidak menginginkan seorang pesakitan sepertimu. Tidak berguna." Rianti menatap pria itu.


"Tidak. Jangan kau sentuh dia. Jika kau berani menyentuhnya, aku akan membunuhmu." pekik Rianti.


"Hahaha...." pria itu tertawa.


"Apa yang bisa kau lakukan? Kau saja sedang sekarat."


"Baik, jika kau tidak ingin membawanya padaku, aku yang akan menyeretnya." desis pria itu.


Rianti mengambil pisau buah di atas meja. Saat pria itu tengah membelakanginya, dan menelepon seseorang, dengan segera Rianti melangkah dan menusukkan pisau itu ke leher pria itu.


Sepertinya, ia sudah gelap mata. Belum sempat pria itu bicara, ia sudah bersimbah darah dan mencoba mengambil pisau dari tangan Rianti. Sayangnya, ia tak bisa berbuat apa-apa. Rianti menggores dengan dalam tepat di nadi bagian leher pria itu.


Rianti tersadar dan membuang pisau itu. Kemudian, ia terkejut dan berteriak. Setelahnya ia berjongkok dan tertawa lirih. Dokter kembali masuk dan terkejut. Kemudian, ia menelepon polisi.


Setengah jam kemudian, polisi mengamankan Rianti. Pria itu sudah menghembuskan nafas terakhirnya sepuluh menit yang lalu, karena luka yang cukup lebar dan mengakibatkannya kehilangan banyak darah. Dokter sudah berusaha menolong, tapi sepertinya terlambat. Rianti tidak melawan. Ia mengikuti polisi.


Biarlah, mungkin ini adalah caraku membayar dosa-dosaku. Aku seorang pembunuh. Bahkan aku memisahkan mas Bram dan mba Sofi yang saling mencintai. Juga, Dewi dari ayahnya. Biar aku nikmati sendiri rasa sakit ku.


Ia berbalik menatap dokter. Dokter itu sempat terkejut. "Tolong, jangan beritahu keluarga saya tentang penyakit saya." pintanya.


Dokter itu menganggukkan kepalanya pelan. Rianti, segera di giring ke kantor polisi.


Di kantor polisi, ia di tanyai banyak hal. Namun, tak satupun ia jawab. Rianti hanya terdiam. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri.


Tak lama, Brian dan Kinanti tiba. Bram pun, ikut ke sana dan melihatnya. Saat melihat Bram, Rianti tersadar.


"Aku membunuh pak Bowo dengan pisau itu. Menekannya, kemudian menyayat lehernya. Hingga luka itupun menjadi dalam." ucapnya tiba-tiba.


Tidak hanya pihak kepolisian yang terkejut, Bram, Brian dan Kinanti pun terkejut. Kini, mereka tak bisa membantu Rianti lagi. Rianti sudah mengakui perbuatannya.