
Bekerja sambil kuliah, ternyata tidak semudah yang di bayangkan. Genta yang mendapatkan beasiswa, harus mempertahankan nilainya. Namun, terkadang ia sulit membagi waktunya dengan pekerjaannya. Itu membuat pikirannya terbagi.
Satu sisi, ia ingin mendapat nilai yang baik, di sisi lainnya ia harus bekerja. Ia tak ingin menyusahkan keluarganya. Hingga ia harus berusaha keras.
Di awal kuliah, Genta sempat kesulitan membagi waktu. Ia mencoba membagi waktunya dengan baik. Ia sering tertidur ketika kelas sedang berlangsung. Beruntung Bagas selalu membantunya.
••••••••••••••
"Thanks banget gas. Lo udah banyak bantu gue." Genta menepuk pundak Bagas.
"Sama-sama. Kita kan sama-sama jauh dari orang tua. Sama-sama anak beasiswa juga. Gak ada salahnya saling bantu." ucap Bagas.
Genta dan Bagas tengah duduk di kantin. Pembicaraan mereka terhenti, ketika beberapa seniornya duduk di samping Genta dan Bagas.
"Kalian anak semester satu ya?" tanya seorang gadis berperawakan tinggi, berkulit putih dan berwajah cantik.
"Iya kak." jawab mereka bersamaan.
"Nama kamu siapa?" tanya gadis lain yang rambutnya lebih pendek dari sebelumnya. Ia menunjuk pada Genta.
"Genta kak." jawabnya.
"Aku Vita, ini Leny, dan itu Rossi." jawab gadis bernama Vita.
Vita adalah gadis pertama yang bertanya pada mereka. Leny adalah gadis kedua yang menanyakan nama mereka. Dan Rossi adalah gadis ketiga yang jauh lebih pendiam. Namun penampilan ketiganya terlihat sexy.
Bagas menatap takjub gadis-gadis itu. Lain halnya dengan Genta. Ia terlihat biasa saja.
"Cantik-cantik bro." bisik Bagas. Genta hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Lebih cantik Dewi. batin Genta.
Setelah berkenalan, Genta ingin segera pergi dari situ. Kebetulan sekali, kelas berikutnya akan segera di mulai. Ia pun berpamitan pada senior-seniornya.
"Maaf kak, kita duluan ya." pamit Genta.
"Masih ada kelas ya?" tanya Vita.
"Iya kak." jawab Bagas cepat.
Genta segera menarik lengan Bagas tanpa menoleh lagi. Bagas yang di tarik pun merasa bingung melihat temannya ini.
Dia kenapa sih? Di deketin cewek kok kaya risih gitu?" tanya Bagas dalam hati.
Setelah menjauh dari kantin, Genta melepaskan tangannya dari Bagas. Terlihat jika Genta menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar.
"Lo kenapa gen?" tanya Bagas.
"Gak apa apa." jawabnya singkat.
"Yakin...?!" Bagas memperhatikan wajah Genta. Genta mengangguk.
Akhirnya, mereka melanjutkan langkahnya menuju kelas berikutnya. Bagas dan Genta berada di fakultas yang sama. Mereka berada di fakultas Management. Bagas memiliki kelebihan dalam bidang IT.
•••••••••••••••
Saat ini, waktu masih menunjukan pukul tiga sore. Jarak kamus dan tempatnya bekerja, tidak terlalu jauh. Begitupun dengan tempat kosnya. Hingga Genta memiliki waktu yang cukup untuk berganti baju dan mandi. Ia pun tak perlu menggunakan angkutan atau ojek untuk ke kampus atau cafe.
Genta sengaja meminta di shift malam tanpa perlu di oper shift. Manager cafe pun mengizinkannya.
Sesampainya ia di kosannya, ia segera mandi dan bersiap ke cafe. Pukul setengah empat, ia pergi ke cafe. Lima belas menit kemudian, Genta tiba di cafe tempatnya bekerja.
Di cafe, Genta mengganti seragam kerjanya dan mulai bekerja.
Di saat ia sedang menghidangkan pesanan pelanggan, ia melihat gadis yang memiliki kemiripan dengan Dewi. Dewi dan Gadis itu memiliki garis wajah serta mata yang sama. Bedanya, Dewi memiliki hidung yang mancung.
Mirip Dewi, tapi gadis ini terlihat masih SD? Dan sepertinya wanita di sampingnya itu ibu gadis itu. Ahh.. sudah lah. Kenapa aku jadi memikirkan Dewi? Jadi kangen. Nanti aku hubungi dia saja. batin Genta.
Genta pun melanjutkan pekerjaannya. Sayangnya, pengunjung cafe hari itu, cukup ramai. Hingga ia merasa sangat lelah dan pulang lebih larut dari biasanya.
Sampai di kosnya, Genta merebahkan tubuhnya. Tidak butuh waktu lama, ia pun terlelap. Sepertinya, pekerjaan hari ini, cukup menguras energinya.
Esok harinya, Genta bangun terlambat. Mata kuliah pertamanya, akan di mulai pukul delapan pagi. Sedangkan ia bangun pukul tujuh lebih lima belas menit.
"Ya ampun, gua kesiangan. Mesti buru-buru nih. Gak sempat sarapan..." gumamnya sendiri.
Secepat kilat, Genta menyelesaikan ritual mandinya. Ia tidak ingin terlambat datang. Jam di dindingnya sudah menunjukkan pukul tujuh lebih tiga puluh lima menit. Genta pun bergegas menuju kampusnya.
Ia berjalan dengan langkah lebar. Tiba di kampus, ia bergegas masuk ke dalam kelasnya. Baru saja pria itu duduk, dosen pun memasuki kelasnya.
Genta menghela nafas lega. Beruntung, ia sampai lebih dulu dari dosennya. Genta tahu, betapa killernya dosen yang masuk ke kelasnya pagi ini. Sedikit saja terlambat dalam kehadiran, ia akan mengurangi nilai mahasiswa dan mahasiswi itu. Begitupun dengan tugas.
Ternyata, kehidupan kampus tak seindah yang ia bayangkan. Bahkan jauh dari keluarga, membuatnya menahan rindu pada mereka.
Namun ia menepis semua itu. Ia meyakinkan dirinya, bahwa ini demi masa depannya dan keluarganya. Genta ingin membahagiakan keluarganya. Ia akan menjadi sukses dan berhasil.
Ia pun, ingin menjadi seseorang yang pantas untuk Dewi.
•••••••••••••
Hari demi hari Genta lalui dengan penuh semangat. Berusaha menjadi mahasiswa dengan nilai terbaik, karyawan yang selalu bekerja keras adalah bagian dari usaha kerasnya. Keluarganya dan Dewi, adalah sumber semangatnya.
Untuk itu, ia akan berusaha sekuat tenaga melakukan yang terbaik. Genta yakin, bahwa usahanya tidak akan sia-sia. Tuhan melihat kerja kerasnya. Pasti bisa. Itulah yang selalu ia tanamkan dalam hati dan pikirannya.
Hari minggu adalah hari libur kuliahnya, ia memutuskan untuk berolahraga. Itu semua, ia lakukan untuk menjaga staminanya agar ia tak mudah jatuh sakit.
Genta memutuskan untuk melakukan joging di taman yang tidak jauh dari tempat kosnya. Genta berlari memutari taman sebanyak lima kali. Usai joging, Genta duduk d bangku taman dan meminum air mineral. Peluh membanjiri tubuhnya.
Sekarang, Genta merasa lebih bugar dari biasanya. Genta tak menyadari kehadiran seorang gadis di sampingnya. Gadis itu memperhatikan Genta dengan intens.
Usai mendinginkan tubuhnya, Genta bangun
dari duduknya dan ingin segera pulang. Gadis itu, terus menatapnya hingga Genta tak lagi terlihat.
Pria tampan idaman setiap cewek. Tapi sayang, sombong. Bergaul saja susah, atau mungkin gak mau? batin gadis itu.
"Aaarrrggghhh... bodo amat lah. Bukan urusan gua juga. Padahal kita satu jurusan, satu kelas. Tapi heran. Dia cuma dekat dengan Bagas." gumamnya sendiri.
Gadis itu saat ini tengah berjalan menjauh dari taman.