
Sejujurnya, Dewi benar-benar penasaran dengan berita yang dikatakan Kiara. Namun sayangnya, karena Kiara menggodanya membuat Dewi meninggalkannya bersama mamanya di depan.
Kiara sendiri tertawa geli melihat Dewi yang merajuk karena di godanya. Kiara akhirnya ikut masuk bersama Sofi.
"Ayo Kiara. Masuk dulu." ajak Sofi.
"Iya Tante. Oh iya Tante, apa kita jangan beritahu Dewi ya kabar itu?" tanya Kiara.
"Jangan dulu sayang. Biarkan Genta sendiri yang menyampaikannya." Kiara mengangguk mengerti.
"Kamu sudah tanya Genta, kapan rencananya dia akan mengikat Dewi?" Kiara menggeleng.
Mereka saat ini masih duduk di bangku taman. Tidak ingin Dewi tahu akan pembicaraan mereka, membuat mereka mengurungkan diri masuk ke rumah.
"Belum tahu kak Genta bilang. Soalnya, dia masih di sibukkan dengan pekerjaan. Dengar-dengar, sejak kemarin bosnya juga menghilang tanpa kabar." tutur Kiara.
Sofia mengerutkan dahinya. "Kok bisa?" tanya Sofia.
"Dia bilang, paginya bosnya itu minta kakak libur. Dan kalau ada kerjaan yang urgent, suruh kak Gen handle. Tapi, saat kak Gen menghubungi bosnya itu karena sangat-sangat urgent, justru nomor teleponnya tidak bisa di hubungi sama sekali. Mau tidak mau, kak Gen langsung berhubungan dengan bos besarnya." Kiara menjelaskan panjang lebar pada Sofia.
"Ya sudah. Bagaimanapun juga, pekerjaan itu penting. Tidak apa. Masalah itu, masih bisa kita lakukan saat kalian lulus sekolah." Sofia mengerti bagaimana sibuknya dunia pekerjaan.
"Ayo Tante kita masuk. Dewi pasti sudah menunggu." kali ini, Kiara mengajak Sofia masuk bersama.
Dewi yang melihat sahabat dan mamanya masuk, hanya terdiam dengan senyum mengembang di bibirnya. Ia senang bisa memiliki sahabat yang peduli padanya dan mamanya.
Mbok Narti mulai menyiapkan makan malam dibantu Dewi dan Kiara. Sementara Sofi duduk di meja makan membantu mengiris bawang cabai dan bumbu lainnya yang di butuhkan.
Hingga semua masakan di hidangkan, mereka berkumpul bersama dan makan. Selesai makan, Dewi mengumpulkan piring kotor dan membantu mbok Narti mencuci piring. Setelahnya, menyiapkan makanan untuk Kiara bawa.
"Ki, di bawa ya. Untuk bapak sama ibu." ucap Dewi.
"Lain kalau calon mantu sih. Pasti perhatian sama calon mertua. Biar di terima ya?" Kiara masih meledek Dewi.
"Kamu tuh ngeledekin aku terus." Kiara terkekeh. Sofia hanya tersenyum melihatnya.
Dalam benaknya berpikir, rupanya putrinya ini memiliki perhatian pada orang sekitarnya. Sifat ini, sama dengan sifatnya.
Semoga kamu tidak sebodoh mama ya nak. batin Sofia berucap.
Lagi dan lagi, Dewi terlihat seperti cerminan dirinya. Hingga Sofia berharap, Dewi tidak memiliki kebodohan hingga mampu membutakan matanya akibat cinta.
••••••••••
Genta tiba di kosannya di saat langit sudah berubah gelap. Ia membersihkan dirinya dan makan malam. Setelahnya, ia melanjutkan pekerjaan yang di bawanya pulang.
Saat tengah asyik dengan pekerjaannya, ponselnya bergetar. Ia melihat nama yang tertera. Ternyata adiknya tercinta yang menghubungi.
Kiara membuat sambungan video. Genta pun menggeser tombol terima telepon.
"Kenapa dek?" tanya Genta ketika sambungan video tersambung.
"Kak, coba tebak aku darimana?"
"Kamu tuh gak jauh-jauh. Kalau gak ngemall, ya main sama Dewi."
"Haha Kaka tahu saja." Genta tersenyum.
"Aku tadi habis godain Dewi." Genta menggelengkan kepalanya. Adiknya memang luar biasa jahil jika pada orang yang terdekat dengannya.
"Terus, Dewi marah?" tebak Genta.
"Haha dia ngambek. Lucu banget liat ekspresinya. Tapi kakak tahulah, dia kalau marah gak bakalan lama-lama." Genta tersenyum mendengarnya. Ia membayangkan wajah lucu kekasihnya itu.
"Kok gak kamu fotoin sih de?"
"Cowok gak usah ikut-ikutan ya. Kakak itu kalau ngeledek jauh lebih parah dari aku." Kiara menyebikkan bibirnya. Genta tertawa melihatnya.
"Gimana bos kakak? Sudah pulang?" Genta hanya mengangguk.
"Enak banget dek. Bagi dong ayam pedas manisnya...." air liur Genta serasa menetes melihat nya.
"Hmmm wanginya menggugah selera. Masakan Dewi lagi." kiara menghirup aroma masakan itu.
"Yang benar dek? Asyik nanti kalau kakak pulang minta di masakin ah." ucap Genta.
"Tenang saja kak, apa sih yang gak akan kakak ipar bikinin kalau kakak yang minta? Bikin anakpun pasti dia mau. Haha.." Genta membelalakkan matanya mendengar ucapan adik satu-satunya itu.
"Hus sembarangan kamu kalau ngomong. Belum waktunya dek."
"Ya sudah ah, aku mau menikmati ayam pedas manisnya dulu. Bye kakak ku sayang...." Kiara berpamitan pada Genta.
Setelah sambungan telepon mati, Genta hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Adiknya hanya ingin pamer rupanya.
Genta mengirimkan pesan pada dewi.
Aku gak di bikinin ayam pedas manis juga nih?
Tak lama kemudian Dewi membalas.
Nanti kalau aku ke sana, atau kakak pulang, pasti aku bikinin.
Genta tersenyum membaca balasan Dewi. Benar kata Kiara, Dewi akan melakukan apapun permintaannya.
••••••••••
Brian masih tertidur saat makan malam tiba. Rianti mengetuk kamarnya dan membangunkan putranya sendiri.
"Brian..." panggil Rianti. Brian yang baru membuka matanya, segera membuka pintu kamarnya.
"Ma." Brian mengusap wajahnya yang terlihat masih mengantuk.
"Kita makan dulu ya nak." ajak Rianti. Brian hanya mengangguk.
"Brian cuci muka dulu ya ma."
"Iya sayang. Mama tunggu di bawah ya sayang." Brian masuk kembali dan mencuci mukanya.
Setelah di rasa segar, ia turun kebawah dan makan malam bersama orangtuanya. Rasa lelahnya sudah berkurang. Untunglah dirinya bisa mengontrol emosinya saat pulang tadi. Jika tidak, bisa Brian pastikan dirinya akan lepas kendali. Bahkan segala bebannya akan ia keluarkan.
Brian belum siap mendengarkan alasan papanya menceraikan Sofia. Egonya membuat dirinya, mempertahankan asumsinya, jika papa dan mamanya Sofia, bercerai karena rasa cinta yang pernah ada itu telah menghilang.
Terlebih, ia tidak ingin menyakiti mamanya sendiri–Rianti. Dia sadar, jika selama ini, rasa sayangnya pada mama kandungnya–Rianti, tidak sebesar rasa sayangnya pada mama tirinya–Sofia.
Brian pun makan dalam diam. Bram sebenarnya ingin menanyakan perihal kondisi Sofia saat ini. Namun ia urungkan. Sementara Rianti, merasa kehilangan sosok putranya sedikit demi sedikit.
Perasaannya sebagai ibu mengatakan, jika putranya itu, lebih menyayangi Sofia yang notabene hanya ibu tirinya. Meskipun Rianti tahu, Sofia menyayangi Brian layaknya anak kandung.
Entah mengapa, Rianti merasa dadanya seperti terhimpit. Ada sesak yang tak bisa di jelaskan. Ingin ia menangis. Namun air matanya seakan tak ingin keluar.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Readers tercinta, malam ini cukup dulu ya. Author mau bobo dulu. Merefresh ide untuk kelanjutannya. Thank you so much buat kalian yang sudah like, komen bahkan memberikan vote dan hadiah.
Author benar-benar terharu....
Jangan marah² ya readers ku sayang...
Hehe... author suka ketawa baca komen kalian...
Thank you so much all
Good night and have a nice dream
Istirahatkan mata, hati dan pikiran.
I Love you😘