
Tak lama lagi, masa mahasiswa Dewi akan segera berakhir. Saat ini, Kiara dan Randy pun sudah resmi bertunangan. Sejak sidang skripsi beberapa bulan lalu, Kiara dan Randy pun melangsungkan pertunangan.
Sementara Brian, kini telah menemukan cintanya sendiri. Ia tengah memperjuangkan Cindy. Cindy selalu menolak Brian. Sebenarnya, Cindy menghindari Genta. Bagaimanapun, pernah ada rasa cinta di hatinya untuk Genta.
Meski dirinya tahu, Genta tak sekalipun melihatnya. Bahkan Genta mendukung hubungannya dengan Brian calon kakak iparnya.
Hubungan Jenny dan Bagas sendiri sudah memasuki jenjang pernikahan. Jenny tengah mengandung lima bulan saat ini.
Untuk sahabat Dewi, Puspa. Kini ia tengah dekat dengan seorang senior kampus mereka. Sementara Kinanti, sudah bisa menerima kepergian ibu kandung yang disayanginya. Ia tengah fokus dengan pendidikannya.
*****
Tiga tahun kemudian, tepat di usia Dewi yang ke dua puluh lima tahun hari ini, kedua orang tua Genta dan Dewi pun tengah mempersiapkan acara pernikahan mereka.
Pasalnya sejak bulan lalu, Dewi sudah menyetujui ajakan Genta menikah. Saat ini, semua persiapan sudah mencapai delapan puluh persen. Malam ini, pesta kejutan ulang tahun sudah Genta persiapkan untuk sang kekasih.
Dewi yang baru saja tiba dari perjalanan bisnisnya, tidak mengetahuinya. Ia tengah mengalami jetlag hingga dirinya menghabiskan waktu untuk tidur.
Malam harinya, Sofia memberikan paper bag berisi gaun yang sangat cantik pada Dewi.
"Ikut mama yuk." ajak Sofia.
"Ma, Dewi masih capek banget nih."Dewi menjawab dengan wajah cemberut.
Sejujurnya, Dewi lupa dengan hari ulangtahunnya sendiri.
"Ayo dong. Ada papa juga loh." Dewi bergeming.
"Kalau begini ceritanya, mulai besok pekerjaan kamu mama kurangi." Dewi terbelalak.
"Mama gak boleh KKN dong. Dewi kan masih termasuk karyawan Hadinata Corp.." ucap Dewi tak terima.
"Ya sudah, ayo." kekeh Sofia. Dewi pun bersiap dengan wajah memberengut ke arah Sofia. Sofia hanya tersenyum.
"Masa iya harus di ancam dulu." gumamnya.
Tiga puluh menit kemudian, mereka melangkah meninggalkan apartemen. Sebelumnya pun, mereka harus berdebat dengan gaun yang akan di gunakan Dewi. Bagi Dewi, gaun yang digunakannya terkesan berlebihan hanya untuk makan malam.
Sofia pun tak mau kalah dan terus mencari alasan agar Dewi mau menggunakan gaun tersebut.
Selama perjalanan, Dewi hanya diam. Hingga ia tersadar, saat mobil memasuki pelataran parkir hotel milik Wijaya Group.
"Loh, ini di hotel punya papa kan?" tanyanya.
"Hmmm." Sofia hanya berdeham menjawab pertanyaan Dewi.
Mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam loby. Dewi menatap heran pada mamanya. Terlebih saat langkah mereka, menuju ballroom hotel. Pintu terbuka dan menampakkan Genta yang memegang buket bunga dan sebuah kotak besar.
Ada rasa jengkel di hati Dewi. Sejak pagi tadi, tunangannya ini tak bisa di hubungi. Rindu begitu membuncah di hatinya. Hingga airmata kebahagiaan menetes. Dewi berlari memeluk Genta tanpa peduli pandangan orang lain. Genta pun menyambutnya dalam pelukan hangatnya.
"Selamat ulang tahun sayang." ungkapnya setelah memeluk Dewi.
Dewi membenamkan wajahnya di ceruk leher Genta. Ia menangis bahagia di sana. Genta memberikan buket bunga dan kado untuk Dewi setelah Dewi melepaskan pelukannya. Kemudian, Genta mengecup kening Dewi.
Semua yang hadir dalam acara itu bertepuk tangan riuh. Acara pun segera di mulai. Sofia dan Bram pun ikut mendampingi putri mereka.
Ada kebahagiaan di hati Sofia, Bram, dan Dewi. Kebahagiaan yang sudah lama mereka nantikan.
*****
Waktu terus berlalu. Tanpa terasa, hari ini Genta dan Dewi akan mengucapkan janji suci pernikahan di atas altar. Di hadapan Tuhan dan para undangan.
Genta sudah berdiri di altar, menanti wanita yang akan mendampinginya hingga maut memisahkan. Pintu terbuka, menampakkan wanita yang di cintainya. Dengan anggun Dewi berjalan dan menggandeng lengan Bram papanya. Senyuman menghiasi wajah cantiknya.
Genta terpana melihatnya. Cantik. Itulah kata yang terlintas dalam benaknya. Genta mengulurkan tangan menyambut gadisnya itu. Dewi pun, menyambut uluran tangan Genta.
Mereka pun mengucapkan janji suci di hadapan Tuhan. Kini, mereka sudah menjadi sepasang suami-istri. Genta dan Dewi pun saling memasangkan cincin pernikahan. Setelahnya, Genta mengecup kening Dewi. Mereka pun, berc****n.
Sofia menangis haru melihat senyum di wajah putrinya. Kini, tugasnya hanyalah mengamati kebahagiaan putrinya. Karena baginya, kebahagiaan Dewi adalah kebahagiaannya.
Dewi menangis haru dan memeluk mamanya.
"Anak papa sudah menikah. Papa yakin, kamu akan menjadi istri yang baik." Bram ikut menangis haru dan mencium kening putrinya serta memeluknya
"Genta, jaga putriku, bahagiakan dia dan jangan lukai dia. Aku percayakan dia padamu." Bram memeluk menantunya.
"Iya pa." jawab Genta. Genta balas memeluk Bram.
"Bro, bahagiakan adikku. Mulai saat ini, kau ku bebaskan dari tugas sebagai bodyguard pribadi ku." Brian memeluk Genta.
"Jangan begitu bos. Nanti aku kasih makan istriku apa, kalau bos memecatku?" tanyanya. Mereka pun tertawa bersama.
"Cepat menyusul. Jangan kelamaan" bisik Genta pada Brian.
"Tenang saja. Itu pasti. Dia sudah menerima lamaran ku." bisik Brian. Genta pun memberikan selamat pada Brian. Tidak sia-sia pria itu berjuang.
Kiara yang tengah hamil tua pun menghampiri Dewi dan kakaknya. "Kakak ipar..." peluk Kiara.
"Jangan lari-lari sayang." ucap Randy tepat di belakang Kiara.
"Anak kecil, dengar apa kata suamimu. Nanti keponakanku kenapa-kenapa." ketus Genta.
"Iya, aku anak kecil yang bisa menciptakan anak kecil juga." baik Genta, Dewi dan Randy, menatap horor pada Kiara. Kiara hanya meringis dan mengangkat kedua jarinya.
Bram mendekati Sofia. "Putri kita kini sudah bahagia. Apa kau tidak ingin bahagia juga?" tanya Bram pada Sofia, tanpa melepas pandangannya dari kedua mempelai.
"Aku sudah bahagia mas." jawab Sofia.
"Kau tidak ingin memberiku kesempatan?" tanya Bram lagi.
"Setelah rasa sakit yang kau berikan?" Sofia balik bertanya.
Bram merasa tertusuk hingga ke ulu hatinya. Sofia benar, masih pantas kah ia mengharapkan Sofia menerimanya setelah semua perlakuannya? Masih pantaskah ia mengharapkan Sofia kembali mencintainya?
Bram menatap nanar pada mantan istrinya itu. Setitik airmata jatuh membasahi pipinya.
"Jangan cengeng. Kau pria. Jika kau masih mencintainya, kejar hingga ia kembali padamu. Namun, jika hingga akhir dia tak menerimamu lagi, kibarkanlah bendera putih itu." Bram di kejutkan dengan ucapan Pras.
"Kau benar. Haruskah aku sekarang memanggilmu opa?" canda Bram.
"Hei, jangan begitu kawan. Aku masih terlihat muda loh." mereka tertawa bersama.
Bram melupakan sejenak masalahnya dengan Sofia. Entah apa yang akan di lakukan ya nanti. Yang jelas, ucapan Pras memang benar. Ia harus memperjuangkan cintanya.
TAMAT
ππππ
Yey..... akhirnya, Dewi bahagia....
Kok tamat???
Hehehe tenang, masih ada perjuangan Bram. Siapa yang mau Bram dan Sofia kembali acung tangan???βοΈβοΈβοΈ
Siapa yang mau mereka tidak kembali lagi???βοΈβοΈβοΈ
Yuk di komen. Biar aku bisa bikin ending Bram dan Sofia. Yang pasti, jika mereka bersama atau tidak, Bram tetap akan berjuang keras. Hasil akhir, kalian yang tentukan.βΊοΈβΊοΈβΊοΈ
Yuk di vote. Balikan π atau tidak π
Thank you genks.....
Sampai jumpa di episode selanjutnya setelah kalian vote....
I love you so much...πππππ€π€π€