My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Extra part: Let's Start



Bram bersandar di pagar balkon kamarnya. Ia menatap kelamnya langit malam itu. Tidak hanya bulan dan bintang yang tak bersinar. Dirinya pun merasa mulai meredup tanpa kehadiran Sofia.


Bahkan mungkin, sudah lama meredup. Hanya saja, dia tak menyadarinya. Lagi-lagi, wajah Sofia bermain dalam benaknya. Haruskah ia kembali mengejar Sofia?


"Aku akan selalu mencintaimu." kata-kata itu terngiang di telinganya.


Bram tersentak. Ia ingat, sebelum menikah, mereka pernah mengucapkan janji.


"*Maukah kau berjanji padaku?" tanya bram. Sofia menganggukkan kepala


"Apapun yang terjadi, tetaplah di sisiku." pinta Bram.


"Aku janji akan selalu mencintaimu apa pun yang terjadi. Kau pun harus berjanji padaku satu hal." Bram menatap mata Sofia dalam.


"Katakan." ucap Bram.


"Jangan pernah sakiti hatiku. Dengan begitu, aku akan tetap ada di sisimu." pinta Sofia*.


Ah.... Janji itu terlalu berat. Nyatanya, Bram sudah berulangkali menyakiti hati Sofia. Bram menggelengkan kepalanya seraya tersenyum sinis pada dirinya sendiri.


Dirinyalah yang menghancurkan pernikahan mereka. Bukan Sofia. Lalu, masih pantaskah ia meminta kembali?


Hatinya yang sempat berharap, kini terjun bebas saat teringat janji mereka dulu. Janji yang terucap ketika mereka masih dalam kondisi labil.


Tapi, tidak ada salahnya kan mencoba? Siapa tahu, Dewi keberuntungan berpihak padanya kali ini. Bermodal harapan, Bram memutuskan kembali mengejar Sofia.


*****


Ke esokkan harinya, Bram mendatangi Hadinata Corp.. Ia berniat mengajak Sofia makan siang bersama. Baru saja, menginjakkan kakinya di loby, ia melihat Sofia berjalan berdampingan dengan Dave.


Bram tak melanjutkan langkahnya. D***nya berdenyut perih melihat pemandangan itu. Matanya terus menatap pada mereka. Hingga netranya menangkap peristiwa, di mana Dave merangkul Sofia.


Bram mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya. Nafasnya memburu, dan rahangnya mengetat. Ada amarah, saat ia melihat Sofia di rangkul pria lain.


Bram berbalik dan meninggalkan tempat itu tanpa menoleh ke belakang lagi. Entah kenapa, ada rasa tidak rela yang menyeruak dari dasar hatinya.


Inikah yang di namakan cemburu? Sebelumnya, Bram tidak pernah merasakannya. Ia sangat tahu, jika Sofia sudah melabuhkan hatinya untuk dirinya. Oleh karena itu, ia tak pernah tahu apa itu cemburu.


*****


POV Sofia


Entah mengapa, siang ini Dave mendatangi kantorku. Ia hanya mengatakan, ingin mengajakku makan siang bersama. Aku yang memang sedang tidak sibuk pun mengiyakannya.


Apalagi, status ku saat ini adalah single. Sah-sah saja bagi ku bertemu pria lain. Dan aku pun tahu, Dave single. Oke, berarti tidak ada yang akan menuduh kami berselingkuh bukan?


Saat tiba di loby, ekor mataku menangkap keberadaan mas Bram. Namun, aku sengaja tak memperhatikannya dan sibuk berbicara dengan Dave. Yang aku sendiri, merasa tak ingat dengan isi pembicaraan kami.


Hingga aku tak menyadari, jika hak sepatuku tiba-tiba saja patah. Hal itu sontak membuatku hampir terjatuh. Jika bukan karena ada Dave di sampingku, mungkin aku sudah merasa malu di depan karyawan ku.


Saat itu juga, aku melihat mas Bram meninggalkan loby. Ingin aku memanggilnya, namun urung ku lakukan. Yang ku lakukan hanya menatap punggungnya hingga menghilang.


Sedang apa dia di sini? Apa yang dilakukannya? Kenapa pergi begitu saja tanpa menyapaku? Apa karena Dave, atau kejadian tadi?


Semua pertanyaan itu hanya muncul dalam benakku tanpa bisa ku tanyakan dan temukan jawabannya.


*****


Bram memukul kemudi berulang kali. Ingin ia melampiaskan kecemburuannya.


Malam harinya, Bram berputar-putar tak jelas di jalan. Entah kemana arah tujuannya. Pikirannya terasa buntu. Seakan tak bisa berpikir lagi.


Perutnya kini meronta minta di isi. Maklum saja, sejak kejadian siang tadi, nafsu makannya menghilang begitu saja. Sedikitpun makanan belum ia sentuh.


Ia memutuskan menuju cafe yang ada di depannya. Mungkin, segelas kopi dapat memberikan ketenangan baginya. Meski pada kenyataannya, ia tahu itu buruk.


Saat tengah menunggu pesanannya, ia melihat Dave yang duduk bersama seorang wanita muda tidak jauh darinya. Tiba-tiba saja, amarah Bram kembali menyeruak. Ia bangkit dan menghampiri Dave.


"Hei.. Bram. Duduk." ucap Dave mempersilahkan.


"Bisa kita bicara?" ucap Bram tanpa basa-basi.


"Oke." jawabnya.


"Sayang, aku keluar dulu ya." gadis muda itu mengangguk dan tersenyum manis.


Bram dan Dave kini berada di luar cafe. Tanpa pikir panjang, Bram mencengkeram kerah kemeja Dave dan menyudutkannya.


"Calm down man..." ucap Dave saat mendapat perlakuan itu.


"Jangan jadi b******* Dave. Wanita itu terlalu muda untukmu. Apa Sofi belum cukup untukmu?" geram Bram. Matanya membulat menatap Dave.


"Sofi?" tanyanya heran.


Sepertinya, dia mengira aku mengincar Sofi? Oke, aku akan membuatmu menyadari perasaanmu sendiri pada Sofi. Ah... juga membuatmu menyadari perasaan Sofi padamu. ucapnya dalam hati.


"Oh, wanita itu. Kau tahu berapa usianya?" tanya Dave.


"Jangan banyak bicara. Dari wajahnya saja, sudah terlihat usianya sekitar dua puluhan akhir." ucap Bram masih dengan mencengkeram kerah kemeja Dave.


"Hahahaha...." tawa Dave meledak. Perlahan, Bram melepaskan cengkeramannya dan mengernyitkan dahi.


"Dia itu seusia kita Bram." Bram terlihat tak percaya.


"Jika kau tidak percaya, tanyakan saja..." ucapannya terhenti, karena Bram menyela.


"Aku tidak ingin tahu mengenai wanita itu. Yang ingin ku katakan adalah jauhi Sofi jika kau lebih memilih wanita itu."


"Oh.... Jelas aku lebih memilih Sofi." Bram menatap tajam Dave.


"Apa kau ingin bertaruh, siapa yang akan Sofia pilih?" Bram terdiam.


"Oh... Ayolah, kau bahkan belum memulainya."


"Apa, kau ingin menyerah?"


"Wah.... sepertinya aku menang telak." Dave terus memanasi Bram.


"Hemm.... Siapa bilang aku menyerah!"


"Aku tahu, Sofia akan memilihku." ucapnya yakin. Meski sesungguhnya, Bram tidak yakin.


"Bagus. Mari kita mulai persaingan kita." Dave mengembangkan senyumnya dan mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan.


Bram menyambut uluran tangan Dave.


"Selamat berjuang." ucap mereka bersamaan.


Dave pun kembali ke dalam cafe. Meninggalkan Bram di sana sendiri. Bram masih berdiri termenung di sana.


Ya, aku yakin Sofia akan memilihku. Kau harus yakin Bram. Ingat, Sofia hanya mencintaimu. Tidak ada yang lain.


Bram mencoba menyemangati dirinya sendiri. Setelahnya, ia kembali ke rumah.


Benar kata Dave, ia harus mencoba mendekati Sofia lagi. Jika sampai akhirnya Sofia tak ingin lagi bertemu dengannya, di saat itulah ia harus mengibarkan bendera putih.


Kapan saat itu? Saat Sofia, lebih memilih Dave di banding dirinya. Saat Sofia, tak ingin lagi memiliki hubungan khusus dengannya. Saat itulah, dirinya harus menyerah.


Sekarang, adalah waktunya memperjuangkan hati Sofia. Mencoba meyakinkan wanita itu, bahwa dirinya adalah yang terbaik.


Semangat papa Bram.... Pendukung mu banyak ....💪💪💪☺️☺️💖