
Hari presentasi pun tiba. Nathan bertugas menjadi juru bicara dari kelompoknya. Setiap kelompok memiliki waktu sepuluh menit untuk mempresentasikan tugasnya, dan lima menit untuk sesi tanya jawab.
Hingga presentasi daan sesi tanya jawab selesai, Nathan dan timnya pun kembali ke tempat duduk mereka. Syukurlah, nilai mereka cukup memuaskan meski tidak hanya mendapatkan B.
••••••••••••
Sejak kedatangan Genta ke rumahnya beberapa waktu lalu, terutama saat mamanya mengatakan menyukai Genta dan menerimanya sebagai calon pacar Cindy, Cindy mulai melakukan pendekatan padanya.
Selama ini, Cindy hanya bisa mengaguminya. Terkadang ia mengumpat Genta dalam hati karena Genta yang bersikap dingin dan cuek. Namun, di balik semua itu, Genta merupakan pribadi yang hangat. Itu membuat Cindy semakin menyukainya.
"Genta." panggil Cindy. Genta menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
Cindy mendekat dan memberikan kotak makan yang di titipkan mamanya. Ia bersikap datar dan biasa. Sebenarnya, Cindy merasa sangat gugup saat ini. Sebisa mungkin ia terlihat biasa.
"Ini." Cindy mengulurkan tangannya yang memegang kotak makan.
Genta mengernyitkan dahinya. Cindy tahu maksud dari kernyitannya.
"Mama minta gue kasih ke Lo. Katanya, biar Lo bisa hemat." Cindy membuang pandangannya ke arah lain.
"Gak usah repot-repot cin. Gue jadi gak enak sama Tante." tolaknya halus.
"Lo ambil saja. Nanti gue kasih tahu mama kalau lo gak mau ngerepotin." ketus Cindy.
Genta menghela nafasnya kasar. Ia mengambil kotak makan itu dan mengucapkan terimakasih. Setelahnya, ia berlalu meninggalkan Cindy.
Sementara Cindy menghela nafas lega. Ia merasa hampir pingsan walau hanya bicara seperlunya saja. Hana yang sedari tadi diam terkekeh geli melihat sahabatnya itu.
"Lo tuh lucu banget tahu cin. Di depan Genta saja, Lo sok galak. Giliran dia pergi, Lo kaya ikan mau mati." Cindy menatap sahabatnya tajam.
Seperti tak peduli, Hana tetap tertawa melihat ekspresi sahabatnya itu.
"Gue kan gugup." jawab Cindy.
"Segitu cintanya Lo sama dia?" ledek Hana.
"Apa itu benar cinta?" gumam Cindy. Pikirannya menerawang memikirkan perasaannya pada Genta.
Hari berikutnya, mama Cindy ingin menitipkan lagi makanan untuk Genta. Sepertinya, mama Cindy sangat menyukai Genta dan berharap, Cindy bisa melakukan pendekatan pada pria itu.
"Cin, ini kamu kasih lagi ya, ke nak Genta." pinta sang mama.
"Gak ah ma. Kemaren saja dia nolak." tolak Cindy.
"Kamu saja yang gak bisa narik perhatiannya. Kamu tahu gak, mama lihat Genta itu pria yang baik dan bertanggung jawab. Jadi, mama pengen kamu sama dia jadi dekat." ada binar kebahagiaan dalam mata mamanya. Sepertinya, mama Cindy sangat berharap jika Genta dan Cindy semakin dekat.
"Ih, mama ngehayal nya ketinggian." Cindy pun meninggalkan mamanya.
Tak ia pedulikan lagi suara sang mama yang memanggilnya untuk membawa kotak makan itu. Ia memutuskan, agar mendekati Genta dengan caranya sendiri.
•••••••••••••
Hari berganti hari. Setiap ada kesempatan, Cindy selalu mendekati Genta dengan cara menjadi sahabatnya dan Bagas. Cindy selalu ikut makan siang dengannya di kantin.
Sudah lebih dari tiga bulan Cindy dan Genta menjalin hubungan pertemanan. Kini Cindy yakin, jika ia benar mencintai Genta. Cindy semakin terjatuh dalam pesona Genta.
Di mata Cindy, Genta adalah pria mandiri, baik dan pintar.
"Lo kenapa senyum-senyum sendiri Cin?" tanya Hana yang sudah duduk di samping Cindy. Hana memegang dahi Cindy.
"Gak apa apa. Lagi seneng saja." jawab Cindy.
"Pasti ini ada hubungannya sama Genta." Cindy mengangguk. Hana hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Namun, di luar dugaan, Cindy dan Hana mendengar pembicaraan Bagas dan Genta mengenai wanita lain. Cindy menajamkan telinganya mendengarkan pembicaraan mereka.
"Sebentar lagi, sekolah libur kan?" tanya Bagas pada Genta.
"Iya. Kiara bilang dia akan berlibur lagi ke sini." Genta tersenyum. Sungguh ia merindukan adiknya itu. Terutama gadis kecil pemilik hatinya.
"Wah, calon pacar Lo datang juga dong?" goda Bagas. Genta tersenyum. Wajahnya menampilkan semburat merah saat Bagas menggodanya.
"Bisa saja." jawab Genta malu.
Calon pacar? Siapa? batin Cindy.
Cindy dan Hana,saling pandang mendengar ucapan Bagas.
"Tapi benarkan?" godanya lagi. Genta mengangguk.
"Nanti, kalau mereka datang, kenalin ya. Gue penasaran sama gadis imut calon pacar Lo itu. " ucap Bagas bersungguh -sungguh.
"Tenang saja."
Cindy dan Hana terkejut. Mereka saling pandang dan tak lagi melanjutkan langkah mereka mengikuti Bagas dan Genta.
Sejak mendengar percakapan Bagas dan Genta, Cindy merasa tak lagi bersemangat mendekati Genta. Ia tampak murung dan menjauhi Genta.
Hana yang melihatnya seperti itu merasa iba. Apakah ia harus memberitahu Genta tentang isi hati Cindy? Namun, nuraninya menolak keras hal itu. Lagi pula, ia tak berhak ikut campur urusan hati seseorang.
Hana mendekati Cindy. "Cindy." Cindy yang melihat Hana pun tersenyum. "Lo baik-baik saja kan?" tanyanya.
Cindy menghela nafas. Ia tak tahu harus bicara apa. Ingin rasanya ia berkata jika ia baik-baik saja. Namun Hana pasti tidak akan percaya.
Hana ikut menghela nafas melihat sahabatnya ini. "Kenapa gak Lo kasih tahu saja ke Genta kalau Lo itu suka sama dia?" usul Hana.
"Gak mungkin lah Han. Lo kan tahu dia sudah punya pacar." jawab nya lesu.
"Eits, bukan pacar. Tapi CALON PACAR." Hana menekankan kata 'calon pacar' pada Cindy.
"Apa pun itu." Cindy merasa malas membahasnya.
"Lo gimana sih? Itu tandanya Li masih punya kesempatan!?" Hana menepuk pundak Cindy sedikit kencang. Maksud hati untuk menyadarkan Cindy.
"Auw.. Sakit tahu." Cindy mengelus pundaknya.
"Lagian sih Lo. Semangat dong. Sebelum status Genta berubah jadi 'Pacar orang', Lo harus cepat-cepat kasih tahu perasaan Lo ke dia." saran Hana.
Cindy berpikir sejenak. Hingga ia tersenyum menyadari keb*d***nya. Benar apa kata Hana. Ia masih memiliki kesempatan. Apalagi, Genta belum resmi berpacaran.
Semangat Cindy pun kembali membara. "Lo benar. Thank you my best friend." Cindy memeluk Hana dan kembali ceria. Hana senang melihat Cindy telah kembali lagi.
"Your welcome." Hana tersenyum.
Cindy kembali mendekati Genta dan bersikap biasa. Genta hanya tersenyum melihat kelakuan Cindy. Hingga akhirnya Cindy mengatakan isi hatinya.
"Gen, gue mau ngomong sama Lo." ucap Cindy. Kebetulan saat ini mereka berada di taman kampus.
"Ngomong saja." Genta mempersilahkan.
"Gue suka sama Lo. Lebih dari seorang teman." ucap Cindy. Genta terkejut dan menatap Cindy.
Sedetik kemudian. "Sorry Cin, gue gak bisa. Karena ada hati yang harus gue jaga." tolak Genta tanpa berbasa-basi