
Malam hari, setelah pulang bekerja Genta membuka ponselnya. Genta melihat ada banyak panggilan tak terjawab dari Kiara adiknya. Ada juga pesan yang di kirim Kiara.
"Kiara di ibu kota?" Genta tersenyum senang.
Genta pun membalas pesan Kiara. Sebenarnya ia ingin menelepon Kiara, namun ini sudah larut malam. Tidak mungkin Kiara belum tidur. Adiknya itu, pasti sudah terlelap.
'Besok kakak akan menemui mu. Kiara mau bertemu dimana?' setelahnya, Genta membersihkan diri dan segera tidur.
Pagi hari, Kiara bangun lebih dulu dari teman-temannya. Ia membuka ponselnya dan melihat pesan yang di kirim Genta. Kiara melihat jam di atas nakas. Jam enam pagi. Mungkin kakaknya masih tidur. Melihat jam Genta membalas pesannya jam satu dini hari.
Kiara pun mengirimkan alamat apartemen Dewi. Setelahnya, Kiara mulai membersihkan diri. Setelah selesai, ia melihat Dewi sudah terbangun.
"Kamu bangun lebih dulu ya. Semangat ya yang mau ketemu kak Genta?!" goda Dewi.
"Hahaha.. Aku sudah kirim alamat apartemen mu. Jadi nanti kak Genta akan ke sini." Dewi terkejut.
"Oh..." Dewi menutupi keterkejutannya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Dewi melompat senang dengan suara yang di tahan. Ia tidak ingin Kiara curiga. Kemudian, Dewi menenangkan diri dan mulai membersihkan dirinya.
Setelah Dewi keluar, kini giliran Puspa yang mandi. Mereka bertiga kini terlihat lebih segar. Saatnya untuk menikmati sarapan pagi.
"Pagi ma." sapa Dewi.
"Pagi Tante." sapa Puspa dan Kiara bersamaan.
"Pagi para gadis. Ayo, kita sarapan dulu."
Dewi, Puspa dan Kiara, duduk di meja makan. Dewi hanya mengambil dua lembar roti dan mengoleskan selai kacang di atas rotinya. Sementara Puspa dan Kiara, menyantap nasi goreng yang sudah di siapkan mbok Narti.
Dewi dan mamanya Sofia, terkadang hanya sarapan roti tawar dengan selai. Puspa dan Kiara merasa, tidak cukup jika hanya memakan roti.
"Emang kenyang ya wi kalau cuma makan roti?" tanya Puspa yang penasaran.
"Kenyang kok. habis makan roti, minum susu." jawabnya.
"Kayanya kurang puas deh wi, kalau gak makan nasi?" Dewi hanya tersenyum. Ia bingung menjelaskannya. Hingga Dewi memilih tersenyum.
Selesai dengan sarapannya, Dewi mengajak Kiara dan Puspa ke taman yang berada di area apartemen. Mereka berpamitan pada Sofia. Saat akan turun dengan lift, Kiara melupakan ponselnya, hingga ia harus kembali lagi.
"Eh, ponselku ketinggalan di meja makan tadi. Aku ambil dulu ya." tutur Kiara.
"Ya sudah Ki, kita tunggu di loby ya." ucap Dewi.
"Oke." Kiara segera kembali ke apartemen Dewi.
Sepuluh menit kemudian, Kiara kembali ke lift. Sayangnya Dewi dan Puspa, sudah mencapai lantai bawah. Akhirnya Kiara harus menunggu lift kembali lagi ke lantai delapan, tempatnya menunggu.
Lima menit kemudian, Lift sampai di tempatnya. Ia segera masuk dan memencet tombol LD (lantai dasar). Belum tiba di lantai itu, pintu lift kembali terbuka di lantai lima. Masuklah seorang anak laki-laki, yang terlihat tampan. Sepertinya, perbedaan usia mereka tidak jauh. Mungkin sekitar dua tahun di atasnya.
Kiara mencuri pandang padanya melalui dinding lift. Anak laki-laki itu menyadarinya, hanya ia pura-pura tidak tahu. Hingga tiba di lantai dasar, anak laki-laki itu ikut keluar. Kiara pun tak lagi fokus padanya. Ia mulai mencari keberadaan Dewi dan Puspa.
Pria itu melirik ke arah Kiara. Kampungan. ucapnya dalam hati. Wajahnya di buat sedatar mungkin tanpa senyuman. Namun, sesaat kemudian pria itu melihat Kiara tersenyum. Entah mengapa wajah anak laki-laki itu, ikut tersenyum.
"Kiara.. sini.." panggil Puspa. Dewi melihat ke arah datangnya Kiara dan tersenyum.
Kiara berjalan cepat ke arah mereka dengan senyum manisnya.
POV Kiara
Lima menit kemudian, lift sudah sampai di lantai tempat ku berada. Aku pun memasukinya dan menekan lantai dasar. Baru saja lift beranjak turun, lift yang ku Naoki berhenti kembali di lantai lima.
Di sinilah aku melihat seorang pria yang sangat tampan. Mungkin usianya dua tahun lebih tua dari ku. Tak ada pembicaraan antara aku dan dia. Aku gugup, hingga memalingkan wajahku ke arah dinding lift. Sayangnya, pantulan wajah pria di sampingku ini terlihat jelas.
Lift berhenti di lantai dasar. Aku keluar lebih dulu. Ku alihkan pandanganku dari pria itu. Aku mulai mencari keberadaan Dewi dan Puspa. Sedetik kemudian, aku tersenyum setelah melihat mereka.
Ekor mataku menangkap pria itu melihatku dan tersenyum. Aku gugup. Sangat gugup. Hingga ku dengar suara Puspa memanggilku dan Dewi tersenyum padaku, aku pun memutuskan mempercepat langkahku.
••••••••••••••
Setelah Kiara sampai di dekat Dewi dan Puspa, mereka pun keluar dari gedung apartemen itu. Mereka berjalan terus menuju taman seperti tujuan awal mereka.
Sesampainya di taman, ternyata banyak penghuni apartemen yang membawa anak-anak mereka bermain di sana. Pada akhirnya, mereka tidak jadi ke sana
"Ke minimarket saja yuk. Beli camilan." ajak Dewi.
"Boleh tuh. Habis itu, kita naik lagi." ucap Puspa.
"Naik lagi? Di atas kita mau ngapain?" tanya Kiara.
"Kalian suka drama gak?" Dewi bertanya. Langkah mereka kini berjalan ke arah minimarket. Kiara dan Puspa tersenyum seraya menganggukkan kepala.
"Kalau gitu kita nonton drama saja." usul Dewi.
"Setuju." ucap Puspa dan Kiara bersamaan. Mereka pun tertawa.
Kini, berakhirlah mereka di dalam apartemen Dewi dan menonton drama Korea. Ketika mereka sedang menonton sambil berkomentar tentang drama itu, bel berbunyi. Mereka bertiga saling pandang.
"Siapa ya?" Dewi melangkahkan kakinya.
Dewi pun membukakan pintu. Ia terkejut melihat siapa yang datang. Dewi diam tak bergerak. Senyumnya mengembang. Wajah yang di rindukannya kini hadir di depannya.
"Aku gak di suruh masuk nih?" suara pria itu.
Dewi menghambur ke pelukannya. Pria itu balas memeluknya.
"Gak malu? Kan ada Kiara?" mendengar nama Kiara, Dewi segera melepas pelukannya.
"Masuk kak."
Ya, pria itu adalah Genta. Genta tersenyum dan melangkah masuk. Ia tak melihat keberadaan Kiara dan menatap Dewi. Dewi yang mengerti apa maksud Genta pun. menunjuk ke arah kamar.
"Kiara, ada yang cari kamu." teriak Dewi. Genta terkekeh.
Kiara keluar dari kamar. Matanya menatap Genta dengan tatapan rindu. Tanpa pikir panjang, Kiara memeluk kakaknya.
"Kak Gen, Kiara kangen." Genta balas memeluk Kiara dan mengusap rambut panjang adiknya.
"Kok kakak gak pulang-pulang?" Kiara melepaskan pelukannya dan menunjukkan wajah merajuknya.
"Kakak kan belum libur de kuliahnya. Kakak juga kerja." tutur Genta.
"Kakak gak kangen sama bapak dan ibu?"
"Kangen dong. Apalagi sama kamu." Genta mencubit hidung Kiara. Mereka pun terlibat obrolan seru bersama.