My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Salah paham



Liburan masih berlangsung. Namun, pak Gunawan dan Bu Asih, tidak bisa berlama-lama di ibukota. Mereka hanya tinggal selama tiga hari di ibukota.


Sore ini, mereka akan segera kembali. Genta sudah tiba di apartemen Dewi. Sambil menunggu orangtuanya bersiap, Genta duduk bersama Dewi, Kiara dan Puspa.


"Kalian gak ada niat keliling kota?" tanya Genta.


"Belum kepikiran kemana kak." jawab Kiara sendu.


Mereka memang belum merancang acara liburan kali ini. Di karenakan pak Gunawan dan Bu Asih akan segera pulang.


"Nanti, setelah ibu dan bapak pulang, kami akan merancangnya kok." ucap Dewi.


Genta menggenggam jemari Dewi dan tersenyum. "Kalau butuh supir, aku siap menemani." ucapnya berbisik. Namun, masih bisa di dengar Kiara dan Puspa.


Kiara dan Puspa, terkekeh geli mendengarnya.


"Hahaha supir gratisan wi." ucap Kiara. Genta hanya tersenyum.


"Nanti kita jalan-jalannya lebih bebas wi. Kan ada kak Gen." kata-kata Puspa membuat mata Dewi dan Kiara berbinar.


"Siapa bilang? Tetap ada batas waktu loh, meski jalan sama aku." sambung Genta.


"Oh iya, kakak kan kerja ya. Jadi, tetap saja gak susah untuk kita jalan." seketika, wajah mereka berubah sendu.


Tak lama pak Gunawan dan Bu Asih, sudah selesai berkemas. "Kiara, nanti jangan susahkan kakakmu ya nak." nasihat bapak.


"Iya pak. Bapak sama ibu hati-hati ya." Kiara memeluk bapak dan ibunya.


"Nak Dewi, ibu titip Kiara ya." pinta Bu Asih. Bu Asih memeluk Dewi dengan erat.


"Iya Bu. Ibu dan bapak hati-hati di jalan ya. Jangan lupa kabari kami jika sudah sampai." Dewi mencium punggung tangan Bu Asih dan pak Gunawan.


Sofia baru kembali dari luar ketika mereka tengah berpamitan. Saat Sofia keluar pagi tadi, pak Gunawan dan Bu Asih lupa mengatakannya.


"Loh, bapak dan ibu mau menginap di tempat Genta?" tebak Sofia.


"Bukan ma. Tempat Genta hanya muat untuk Genta. Kasihan bapak sama ibu kalau nginap di tempat Genta."


"Iya mbak Sofi, kami mau pulang sekarang." ucap ibu Asih.


"Kok buru-buru mbak, mas?" tanya Sofi.


"Gak apa-apa. Soalnya, kios harus tetap berjalan mbak. Kalau terlalu lama di tinggal, kasihan pelanggan. Sudah menunggu." Sofia tertawa mendengar alasan dari pak Gunawan.


"Mas Gunawan ini bisa saja." ucap Sofi.


Akhirnya, Genta mengantarkan bapak dan ibunya menuju travel terdekat. Menunggu travel yang di tumpangi orangtuanya berangkat. Setelah menunggu selama satu jam, travel yang di tumpangi pak Gunawan dan Bu Asih pun berangkat.


Setelahnya, Genta kembali ke apartemen Dewi untuk mengembalikan mobil yang di berikan Sofia padanya.


••••••••••


Dewi tengah berkirim pesan dengan Brian. Berjanji temu di sebuah cafe. Dewi pergi menemui Brian seorang diri. Kebetulan, cafe tempat mereka bertemu adalah cafe tempat Genta bekerja dulu.


Dewi tiba lebih dulu. Sambil menunggu kedatangan Brian, Dewi memilih duduk di dekat jendela kaca tepat di pinggir jalan Ia memesan ice coffe dengan tiramisu cake kesukaannya.


Kembali Dewi mengirim pesan pada kakaknya. Memberitahu, jika ia sudah menunggu. Dewi meletakkan ponselnya saat Brian duduk di hadapannya. Ia tersenyum melihat kakaknya. Begitupun sebaliknya.


"Maaf ya kakak terlambat." Dewi menggeleng dan tersenyum.


Apalagi, dia mengenal Brian atasannya. Ia mulai memotret mereka dari berbagi sudut. Saat Brian memegang jemari Dewi, bahkan, ketika tatapan Brian terlihat seperti kerinduan.


Banyak yang tidak mengenal Dewi sebagai putri dari Bramantio Wijaya di ibukota. Yang mereka tahu, dua orang anak. Putra dan putri. Putra keluarga Wijaya, sudah banyak diketahui orang. Begitupula putri keluarga Wijaya yaitu Kinanti.


Jika dilihat baik-baik, Dewi dan Brian memang tidak memiliki kemiripan layaknya saudara kandung. Brian lebih terlihat mirip dengan Kinanti. (Ya iyalah ya. Adik kakak kandung loh😒)


Setelah mengabadikan foto itu, wanita yang melihat mereka, mengirimkannya pada Genta. (Sudah bisa di tebak siapa orangnya ya)


Genta yang tengah menunggu lampu lalu lintas berganti warna, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Saat ini, ia berada di dekat cafenya dulu bekerja. Tersenyum saat mengingat hari-harinya bekerja di sana, ekor matanya menangkap sosok yang sangat familiar.


Satu atasannya, dan satu lagi gadis yang di cintainya. Ia sempat tidak mempercayai penglihatannya. Hingga lampu berganti hijau, ia pun melajukan mobilnya menjauh dari cafe tersebut.


Ponselnya berdering. Tanda masuknya pesan. Genta mengabaikannya dan fokus berkendara. Tiba di parkir apartemen, Genta keluar dan menuju lift. Sambil menunggu lift terbuka, Genta membuka ponselnya.


Matanya terbelalak melihat foto-foto yang di kirimkan. Genta segera membuat panggilan telepon ke nomor itu.


"Halo." sahut seorang wanita di seberang sana.


"Dari mana Lo dapat foto-foto itu?" tanya Genta to the point.


"Kenapa, ternyata gadis Lo itu gak sepolos yang Lo pikirkan ya?"


"Jangan asal fitnah. Lo tahukan, pria di depannya itu atasan kita."


"Tahu. Ternyata gadis itu matre ya. Lo yang hanya anak buah, di duakan dengan pria yang jauh lebih mapan dari Lo." wanita itu tertawa.


"Cindy, jaga omongan Lo. Jangan sampai foto-foto itu tersebar. Mengerti." ancam Genta.


"Lo takut image gadis kesayangan Lo itu rusak ya. Lo ngebuang gue yang jelas-jelas lebih baik dalam hal kesetiaan daripada anak kecil itu. Selamat atas pilihan Lo." ucap Cindy.


Panggilan pun terputus. Genta menghela nafas kasar. Entah apa yang akan terjadi jika foto itu tersebar. Genta memutar otaknya untuk menjaga image dari atasannya. Termasuk image kekasihnya.


Ini adalah salah satu tugasnya sebagai pengawal Brian. Genta menghubungi rekan pengawalnya dan meminta mereka untuk menemukan Cindy dan menahannya sebentar. Ia harus membereskan ini secepatnya.


Genta tidak jadi masuk lift. Ia melangkah lagi ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Dalam waktu lima belas menit, Genta tiba di cafe itu. Genta segera menemui rekannya yang sudah menahan Cindy.


"Berikan hpmu." perintah Genta.


"Lo takut ya gue ngebuka aib gadis kesayangan Lo itu?" tanya Cindy.


"Bukan urusan Lo." Genta dengan segera mengambil ponsel milik Cindy.


Setelah selesai menghapus foto-foto Dewi dan Brian, Genta mengembalikan ponsel milik Cindy. Kemudian ia menghampiri Brian dan Dewi.


•••••••


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Tunggu kelanjutannya besok ya...


Thank you all buat kalian semua yang masih setia. Tetap dukung novel ku ya... Jangan lupa like komen dan vote ya....


I love you so much😘


Happy reading...