My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Mencurahkan isi hati #1



Plak..


Suara tamparan itu menggema di ruangan itu. Rahang Daniel mengeras setelah mendengar kegagalan dalam rencananya. Tubuhnya bahkan masih bergetar menahan amarahnya.


Daniel meraung dan melemparkan segala benda yang ada di ruang kerjanya. Bahkan orang yang di tampaknya tak berkutik sedikitpun.


Pria itu, hanya menunduk pasrah dengan yang terjadi. Ia bahkan tak menghiraukan sudut bibirnya yang pecah dan berdarah. Hatinya menciut menghadapi kemarahan bosnya itu.


Daniel mencengkeram rahang pria itu sekuat tenaga. "Kau benar-benar b***h. Bahkan kau cari mati dengan meniduri putriku?" Daniel berkata dengan suara yang keluar di sela-sela giginya. Matanya memancarkan aura yang menakutkan. Pria itu tak membuka mulutnya sedikitpun.


Pintu terbuka, menampilkan sosok gadis cantik sempurna. Siapa lagi jika bukan Jasmine. Jasmine melangkah dengan anggun. Wajahnya tak menampakkan ketakutan sedikitpun pada sang ayah.


"Ayah, aku tidak ingin lagi bertemu dengannya. Terserah ayah ingin apakan dia. Dia terlalu b***h dalam menyusun rencana." ucap Jasmine tanpa menoleh pada pria itu.


Pria itu menggigil ketakutan. Ia berlutut di hadapan Daniel dan Jasmine. "Tidak nona, ampuni saya. Saya sudah melakukan kesalahan besar." akunya.


Pria itu tahu, Daniel tidak akan segan-segan membunuhnya. Daniel memanggil anak buahnya yang lain dan menyuruh mereka menyingkirkan Rendy.


Rendy berteriak memohon pengampunan. Namun mereka tak menggubrisnya. Akhirnya Rendy melawan semua pengawal itu dan melarikan diri.


•••••••••


Dewi dan Genta tengah menghabiskan waktu bersama dengan mengelilingi ibukota bersama di saat ponsel Dewi berdering. Dewi melihat nomor tak di kenalnya. Ia pun mengabaikannya.


"Siapa? Kok gak di angkat?" tanya Genta. Tangannya tengah sibuk membelai dan memainkan rambut kekasihnya itu.


"Gak tahu. Nomor gak di kenal." jawabnya dan mereka pun salin berpandangan dan tersenyum.


Sekali lagi, ponselnya berbunyi. Ia menghela nafas kasar. Dewi memang enggan menerima telepon dari nomor yang tak di kenalnya. Genta pun mengambil ponsel Dewi dan mengangkatnya.


"Halo." ucapnya.


"Halo, selamat siang. Bisa bicara dengan nona Dewi Adianna?" tanyanya. Genta menatap Dewi. Dan Dewi mengangkat kedua alisnya.


"Kalau boleh saya tahu, ini dari siapa?" tanya Genta.


"Saya James pengacara pribadi pak Bram. Ada yang ingin saya sampaikan pada nona Dewi."


Genta menjauhkan ponsel dan menutup dengan telapak tangannya. Dewi menatap pada Genta.


"Ini dari pengacara pribadi papamu. Dia ingin bicara." Dewi mengerutkan alisnya.


"Pengacara?" Genta mengangguk. Dewi menadahkan tangannya meminta ponsel miliknya dari Genta. Genta pun memberikannya.


"Ya halo." jawab Dewi.


"Nona Dewi, bisa kita bertemu? Ada yang harus saya sampaikan pada anda."


"Iya, bisa pak. Dimana dan kapan?" tanyanya lagi.


"Di kantor saya di jl Xxx jam delapan pagi besok."


"Besok saya akan ke sana." Dewi merasa ada yang aneh. Untuk apa seorang pengacara menghubunginya?


"Kakak gak kerja?" Genta hanya tersenyum.


"Mau tidak?" Dewi pun mengangguk mengiyakan.


Mereka kembali ke apartemen karena langit yang cerah sudah mulai berganti gelap. Genta menggenggam jemari Dewi. Mereka banyak membicarakan hal-hal tidak penting dan bercanda ria. Mereka juga mulai membicarakan masa depan hubungan mereka.


Setiap bersama dengan Genta, Dewi selalu saja bisa tertawa dan tersenyum lepas. Ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa menyembunyikan sesuatu. Di saat Dewi mengalami masalah tersulit pun, Genta selalu ada untuknya.


•••••••


Keesokkan harinya, Genta menjemput Dewi dan mengantarkannya bertemu pengacara James yang kemarin menghubunginya. Tiba di sana, Dewi belum juga turun dari mobil. Ia meremas tali Sling bag miliknya.


"Kamu kenapa? Kamu takut? Ayo, aku temani kedalam." Genta menggenggam jemari Dewi yang terasa dingin.


Dewi tersenyum dan akhirnya melangkah masuk di temani Genta. Tiba di ruangan, pengacara itu menyambutnya dan bicara sedikit berbasa-basi sebelum mengatakan keinginan kliennya.


"Jadi, begini nona, pak Bram ingin memberikan satu villa yang terletak di jl x di desa...., satu hotel dan satu resort di pulau A atas nama nona. Dan saya sudh membuatkan surat pengalihannya. Hanya tinggal tanda tangan nona saja sebagai penerima. Sementara tanda tangan pak Bram sudah ada. Ini adalah bentuk penyesalan beliau karena tidak pernah ada untuk nona." tutur pengacara James.


Dewi hanya terdiam setelah mendengarkan penjelasan pengacara James. Genta memperhatikan raut wajah Dewi yang berubah sendu. Ia pun menggenggam jemari gadis itu dan tersenyum menenangkan.


"Maaf pak James, saya akan bicara pada papa saya lebih dulu. Jadi, saya tidak akan menandatangani berkas pengalihan itu sekarang." tolak Dewi.


Dewi pun berpamitan pada pengacara itu. Saat dalam perjalanan ia menelpon papanya dan berniat menyelesaikan masalah itu. Baru saja telepon itu masuk, sudah di jawab oleh pria di seberang sana.


"Pa, Dewi ingin bicara sekarang. Kita bertemu di cafe dekat Wijaya Group saja. Dewi sedang dalam perjalanan ke sana." ucapnya tanpa memberi waktu bagi Bram bicara.


••••••


Bram menatap ponselnya datar setelah mendengar ucapan Dewi. Sudah lama dirinya tak bertemu putri tercintanya ini. Terakhir kali adalah saat pertunangan Dewi dan Genta.


Dengan langkah pasti, Bram menuju cafe yang di maksud Dewi. Hatinya menghangat ketika Dewi mengajaknya bertemu. Setelah perceraiannya dengan Sofia, Bram sebisa mungkin menjaga jarak dengan mereka. Pria itu, tidak ingin menambah luka dua wanita tercintanya.


Bram sangat merindukan putrinya itu. Ia merangkai banyak rencana di otaknya. Mulai dari menuangkan rasa rindunya dengan memeluknya, menciumi puncak kepala putrinya dan banyak lagi.


Senyumnya terbit di setiap langkahnya. Senyum itu terus terpampang hingga membuat beberapa karyawan menatap heran padanya. Ia tak menghiraukannya.


Brian yang baru saja datang, melihat Bram keluar. Ia berniat mengikutinya jika saja Bagas tak mengingatkannya tentang rapat pembatalan kerjasama dengan PT Future Furniture.


Brian pun mengurungkan niatnya dan kembali menuju ruangannya. Bagas dan Genta, memang bisa mengimbangi cara kerja Brian dan sangat bisa di andalkan. Kini Brian memiliki asisten dan body guard yang sangat bisa di andalkan nya.


Bram tiba di cafe dan melayangkan pandangannya ke seluruh cafe. Mencari sosok yang di rindukannya. Matanya berhenti pada gadis yang duduk di bangku dekat jendela.


Ternyata, putrinya datang bersama calon menantunya. Senyumnya semakin merekah, kala Genta menatapnya dan memberikan ruang bagi dirinya dan sang putri. Dewi belum menoleh sedikitpun pada Bram.


Entah mengapa, airmata Bram menggenang di pelupuk matanya. Ia menghapus airmatanya dan menstabilkan diri dengan menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


Kemudian, pria paruh baya itu berdeham. "Sudah lama nak?" tanyanya saat ia duduk di hadapan Dewi.


Bram terkejut mendapati tatapan dingin dari Dewi putrinya. Skenario kerinduan yang sudah tersusun rapi itu pun buyar seketika. Yang di dapatnya adalah sorot mata dingin dan terluka.