My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Extra part: Suasana mencekam



Di kediaman Wijaya


Bram tak lagi semangat bekerja. Akhirnya, setelah dari apartemen Sofia pria itu memilih kembali ke rumah. Biarlah pikirnya. Bukankah perusahaan sudah di alihkan pada Brian?


Meski terkadang, Bram masih harus turun tangan menangani beberapa masalah. Juga, menghadiri rapat bulanan dan tahunan.


Saat Bram tiba, Kinanti rupanya berada di rumah.


"Loh, kamu gak magang nak?" tanya Bram pada Kinanti.


"Gak pa. Kinan mau ke kampus menyerahkan skripsi. Sudah izin tadi." jelas Kinanti.


Bram menganggukkan kepalanya. Sejak Rianti masuk ke penjara hingga meninggal dunia, Kinan memang tak seceria dulu lagi.


Bram mendekap putri kecilnya itu. Di masa tuanya, Bram selalu saja merasakan penyesalan. Pria itu sadar, ini adalah buah dari perbuatannya dulu. Namun, bolehkah ia berharap Tuhan berbaik hati padanya, untuk memberikannya kesempatan kembali pada Sofia?


*****


Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore saat Brian menutup laptop di hadapannya. Ia menekan intercom nya.


"Salsa, apa masih ada jadwal saya?" tanyanya.


"Tidak ada pak." jawab sekretarisnya.


"Oke. Bisa tolong panggilkan Bagas?" lanjutnya.


"Baik pak."


Setelah itu, Brian bersiap-siap akan kembali. Ia mengambil ponselnya yang terletak di meja kerjanya. Mengirimkan pesan pada sang kekasih hati.


To; Cindy❤️


Sayang, kamu sudah selesai kan? Kita ada undangan makan malam di rumah Dewi dan Genta.


Selesai mengirim pesan, masuklah Bagas. Brian mengangkat pandangannya.


"Bagaimana, sudah kau carikan tempat paling romantis untuk aku melakukannya?" tanya Bagas.


"Sudah pak. Saya jamin, bapak pasti puas dengan hasilnya. Apa perlu saya siapkan cincinnya juga?" Bagas balik bertanya.


"Tida usah. Biar aku saja." Brian tersenyum.


Bagas memang selalu bisa ia andalkan. Selain Genta, hanya Bagas yang mengerti apa yang di inginkan nya. Semoga saja semua lancar sampai waktu yang di tentukan nya.


"Bapak sudah akan pulang?" Brian mengangguk.


"Saya ada undangan makan malam di tempat pengantin baru."


"Kenapa saya tidak di undang?" tanya Bagas lebih kepada dirinya sendiri. Brian terkekeh.


"Kau urus saja kedua anakmu. Kasihan Jenny, pasti dia kerepotan dan juga stress. Apalagi, dia sudah tidak bekerja." ucap Brian.


"Bapak benar. Saya saja suka pusing sendiri saat sudah di rumah. Apalagi dia yang seharian?" timpal Bagas. Pikirannya melayang membayangkan kesibukan Jenny mengurus kedua anak mereka yang sangat aktif.


"Kenapa tidak kau Carikan pengasuh saja?" usul Brian.


"Dia tida mau. Katanya, pengasuh sekarang suka banyak modusnya." jawab Bagas.


Brian mengangguk mengerti. Memang benar, jika kita tidak hati-hati dalam memilih pengasuh untuk seorang anak, bisa jadi akan membahayakan mereka. Entah itu di culik, di bunuh, atau apa pun itu. Pada akhirnya, sebagai orangtua, pasti akan menyalahkan diri sendiri.


*****


Semua hidangan sudah siap. Kini, Dewi akan segera bersiap-siap. Saat memasuki kamar, Genta sudah selesai mandi. Wangi maskulin dari tubuh suaminya itu menguar di indera penciumannya.


"Sudah selesai?" tanya Genta. Dewi mengangguk.


"Mandi sana. Kakak sudah siapkan air hangat tadi. Sebelum jadi dingin." Dewi tersenyum. Lelahnya seakan menghilang.


"Terimakasih suamiku." ucap Dewi dengan manis. Genta balas tersenyum dan mengecup puncak kepala istrinya itu.


Dewi pun segera membersihkan tubuhnya yang sudah berkeringat. Ia merendam tubuhnya dalam bathtub.


"Ah... Segarnya." gumam nya.


Mendapat perhatian dari suami, adalah hal paling menyenangkan baginya. Setengah jam kemudian, Dewi sudah selesai dan segera mengenakan pakaian.


Saat ia keluar dari kamarnya, hampir seluruh anggota keluarganya sudah berkumpul. Ia pun menghampiri papa dan mamanya. Memeluk, mencium tangan mereka, dan pipi mereka. Bergantian dengan Kinanti.


Dewi menanyakan kabar Kinanti. Kinanti memang merasa lebih nyaman bercerita pada Dewi. Sejak dulu, Kinan juga sudah dekat dengannya.


"Loh, kak Brian mana?" tanya Dewi.


"Biasa kak, jemput calon istrinya." Dewi menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Brian sih yakin. Tapi, Cindy sepertinya masih bimbang." timpal Bram.


"Jika sudah jodoh, pasti akan di permudah." ucap bapak bijak.


"Amin..." semua serempak mengaminkan.


"Apa yang di aminkan?" tiba-tiba saja, Brian masuk.


"Kamu sudah hamil?" tanya Brian pada Dewi. Cindy menepuk lengan Brian gemas.


"Mana ada hamil secepat itu." kedua alis Cindy sudah menyatu di dahinya.


"Kau menuduhku mencobanya lebih dulu?" sambar Genta.


"Siapa tahu." kali ini, Dewi menatap horor pada kakaknya itu.


"Maaf. Aku hanya bercanda." Brian tersenyum kaku dan memeluk sang adik.


"Bagaimana Cin?" tanya Sofia tiba-tiba.


"Apanya yang bagaimana ya Tante?" tanya Cindy heran.


"Kamu masih ragu menjadi istri dari Brian?" tanya Sofia lagi.


Wajah Cindy merona dan menunduk dalam.


"Cepat bro. Jangan sampai menyesal?" alis Brian terangkat sebelah.


"Kenapa?" Genta mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Brian.


Setelah selesai, Genta terkekeh melihat wajah Brian yang memerah dan menatapnya tajam.


Selesai bercanda ria, mereka pun menuju meja makan dan makan bersama. Cindy sangat menyukai semua menu yang terhidang.


"Ini semua, kamu yang masak wi?" tanya Cindy.


"Tidak. Ada hasil karya Kiara dan ibu juga." jawab Dewi.


"Nanti, minta resepnya ya." Dewi mengedipkan sebelah matanya seraya mengatakan ok.


Makan malam pun berlanjut dengan suasana yang akrab. Suasana kekeluargaan yang selalu Dewi dapatkan selama tujuh tahun belakangan.


Canda tawa selalu terlihat. Bram turut memberi perhatian kecil pada Sofia. Sofia menyadarinya dan membiarkannya. Tidak mungkin ia membuat malu Bram di saat seperti ini.


Pras ayah Randy, tidak turut hadir. Ia dan istrinya tengah berkeliling Nusantara seperti keinginannya dulu.


Namun, suasana itu berubah mencekam kala Kiara mengaduh kesakitan.


"Aduh..... Perutku sakit...." Kiara mencengkeram lengan Randy dengan kuat.


"Apa kamu sudah akan melahirkan? Bukannya masih tiga Minggu lagi sayang?" Randy terlihat panik sekaligus cemas.


Sofia dan ibu Genta pun mendekati Kiara.


"Tarik nafas dalam dulu sayang." ucap ibu.


Sofia mengusap perut besar Kiara, seraya mengajak janin itu bicara. "Sabar ya anak pintar."


Kiara melakukan petunjuk dari ibunya. Saat itu, Sofia melihat kaki Kiara yang sudah di banjiri air ketuban.


"Gen, siapkan mobil." perintahnya.


Genta segera mengambil kunci mobil dan berlari keluar. Seketika wajah Randy pucat pasi. Ia merasa ketakutan.


"Ini sudah akan melahirkan Bu. Sebaiknya, segera kita bawa." ucap Sofia.


"Randy, gendong istrimu. Genta sudah menunggu di luar."


Randy segera tersadar dan menggendong Kiara hati-hati. Dewi ikut berlari dan masuk ke dalam mobil. Ia mengambil posisi duduk di depan.


Genta membawa mobil itu dengan kecepatan lebih dari biasanya.


"Mau ke rumah sakit mana Ran?" tanya Genta masih dengan fokusnya.


"Yang terdekat dari sini mas. Kami periksa di sana." jawab Randy.


"Sudah menghubungi dokternya?" tanya Dewi.


"Belum wi." Dewi segera menekan nomor dokter yang memeriksa Kiara, setelah di beritahu Randy.


Kiara mengerang menahan sakit yang timbul secara tiba-tiba.