
Rianti masuk ke dalam ruang kerja Bram. Ia tahu suaminya pasti berada di sana. Ia menutup pintu rapat. Ia tak ingin Brian dan Kinanti terbawa masalah ini.
"Mas, jangan seperti ini. Sebaiknya kita bicara baik-baik dengan mba Sofi." Bram yang tengah menutup kedua matanya segera membukanya saat mendengar nama Sofi di sebutkan.
"Sofi...." geramnya.
Kau benar-benar tidak menganggap ku? Apa sudah tidak ada artinya lagi aku untukmu? gumamnya.
Rianti yang melihat diamnya Bram, segera meraih benda pipih miliknya dari dalam tas. Mencari nama Sofi dan menekan tanda panggil. Tak perlu menunggu lama, panggilan itu segera terjawab.
"Halo mba." sapa Rianti.
"Kenapa Ri?"
"Mba, apa benar Dewi berpacaran dengan Genta pengawal dari Brian?" Bram masih menutup bibirnya rapat. Ia hanya mendengarkan pembicaraan Rianti dan Sofi yang sudah di loud speaker oleh Rianti.
"Iya itu benar." Rianti menutup mulutnya tak percaya.
B******k.... gumam Bram dalam hati.
"Apa benar mereka akan segera bertunangan?" lanjutnya.
"Iya, hanya menunggu Dewi lulus saja." Bram semakin geram dan merebut ponsel milik Rianti.
"Sofia, kau harus menemui ku besok. Atau, haruskah aku yang mendatangimu?" kilat amarah, terlihat jelas di kedua bola mata Bram.
"Terserah kamu mas. Aku yang datang padamu, atau kau yang mendatangiku? Ku rasa sama saja." Rianti terperangah mendengar percakapan itu.
Bram segera mematikan telepon itu secara sepihak. Ia menggenggam erat ponsel milik Rianti, seakan ingin meremukkannya.
Rianti meremas kedua tangannya. Ia berharap tidak akan ada pertengkaran antara Bram dan Sofia. Rianti memberanikan diri mendekati suaminya Bram.
"Sudah mas. Tahan amarahmu." wanita itu memeluk Bram dari belakang.
Tak ada respon dari Bram. Sepertinya kabut amarah telah menutupinya. Rianti semakin mengeratkan pelukannya. Namun, semua sia-sia.
Sofia, lihat apa yang akan aku lakukan padamu. Kau benar-benar sudah membuatku marah.
Sementara Brian dan Kinanti, sudah berada di dalam rumah. Ingin rasanya mereka menerobos masuk ke dalam ruang kerja ayahnya. Namun, mereka takut melihat Bram marah.
"Kak, gimana ini?" lirih Kinanti.
"Kakak gak tahu dek. Selama ini, papa gak pernah marah sampai begitu. Kali ini, sepertinya papa sangat marah." mereka menatap pintu ruangan yang tertutup itu.
"Aku mau ke kamar saja deh. Aku takut." Brian berjalan bersama Kinanti menuju kamar adiknya.
Aku takut mama Sofi akan bertengkar dengan papa. B***h banget sih Lo Brian. Kenapa kemarin gak jadi ngomong ke papa. Masalahnya jadi tambah runyam begini kan? rutuk Brian.
••••••••
Genta tiba di kosannya. Baru saja ia duduk di pinggir ranjangnya seraya memikirkan kejadian tadi, ponselnya berbunyi. Ia menarik nafas dan mengambil benda itu dari saku jasnya.
Tanpa melihat nama si penelpon, Genta segera menggeser panel terima dan meletakkannya di telinga.
"Jangan takut. Mama yang akan hadapi ini. Tugas mu, cukup memikirkan cara membahagiakan putri mama." Genta menarik ponsel dan baru melihat nama si pemanggil.
"Mama... Mama sudah tahu?" ucapnya panik.
"Maaf ma, Genta tidak bisa membuat pak Bram langsung merestui hubungan Genta dan Dewi." ucapnya sendu.
"Tidak apa. Mama cukup tahu sifatnya seperti apa. Kamu tenang ya. Jangan panik." Sofia menenangkan Genta.
"Iya ma." telepon pun terputus.
Genta menyugar rambutnya kasar. Ia tak pernah melihat Bram marah sampai seperti itu, meski Brian berulang kali membuat masalah. Namun ketika masalah itu berhubungan dengan Dewi, entah hal apa yang membuatnya sampai semarah itu.
Apa mungkin karena pak Bram tahu belakangan? Atau karena dia tidak suka padaku? Kenapa masalahnya semakin rumit?
Keesokkan harinya, Sofia menemui Bram di salah satu restoran di ibukota. Sofia memutuskan untuk mendatangi Bram. Ia tak ingin Dewi melihat ayahnya marah karena hal ini. Sampai detik ini, bahagia Dewi, adalah bahagia untuknya.
Sofi memasuki ruang VIP yang tertutup dan terasa lebih privasi. Saat membuka pintu, Bram sudah duduk di dalam bersama Rianti. Suasana ini, mengingatkannya saat Bram memperkenalkan Rianti sebagai calon istrinya yang kedua.
Sayangnya, kali ini berbeda. Rianti sudah menjadi istrinya, dan dirinya, sudah tak lagi bersama dengan Bram. Jika dulu terlihat suasana penuh cinta, maka saat ini suasana mencekam menyelimuti ruangan itu.
Sofi duduk di hadapan Bram dan Rianti. Meletakkan tas tangan miliknya. Bram mengamati wajah Sofia yang terlihat biasa saja. Entah mengapa, hati Bram terasa sakit melihatnya. Hatinya terasa tertancap oleh tombak beracun.
"Silahkan bicara." ucap Sofi santai. Rianti tak habis pikir pada Sofia. Wanita itu tersenyum sinis menatap Sofia.
Kemana perginya Sofia yang penuh dengan kelembutan, sopan, ramah, baik hati, dan penuh cinta itu? Pertanyaan itu muncul dalam benak Rianti. Sementara Sofia hanya memandang sekilas pada Rianti.
Bram terperangah mendengar ucapan Sofia. Kemana Sofia yang dikenalnya? Benarkah wanita didepannya ini Sofia? batinnya.
"Kau keterlaluan Sofia." ucap Bram dengan nada terdengar menahan amarah namun, ia menahannya dengan menggertakan giginya.
Sofia bersikap tenang dan tak gentar. "Jika ini tentang hubungan Dewi dan Genta, kau tidak perlu sampai semarah ini." ucapnya lembut. Rianti kembali di kejutkan dengan ucapan Sofia.
"Mba Sofi, bagaimanapun, mas Bram itu ayah Dewi. Ayah kandungnya." ucap Rianti. Sofi menatap dalam manik mata milik Rianti dan tersenyum lembut.
"Lalu?" Bram dan Rianti mengernyitkan dahi mereka.
"Kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal? Kenapa?" teriak Bram. Sofi tidak gentar. Ia tetap bersikap santai. Ia tatap mata Bram yang sudah membola dan terlihat marah.
"Apa selama ini kau sudah bertindak selayaknya seorang ayah untuk putriku? Apa kau pernah sedikit saja memberi perhatian pada putriku? Apa kau pernah tahu apa yang di inginkan putrimu sendiri?" ucap Sofia tanpa emosi berlebih. Bram tak bisa menjawab, pria itu terdiam.
Hampir saja air mata jatuh dari mata Sofia. Sekuat tenaga, ia menahan air mata itu. Ia tidak ingin lagi di anggap lemah.
"Mas Bram, jika kau bisa egois, maka aku pun bisa. Ingat satu hal, aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan kebahagiaan putriku." Sofia bangkit dan pergi dari tempat itu.
Bram merasakan hatinya terhujam ribuan jarum. Sakit sekali, sangat sakit. Tak lama ia tersadar dan segera menyusul Sofi. Rianti meneteskan air mata mendengar semua keluhan Sofia pada Bram.
Sejak awal, dirinya sudah merasa bersalah. Namun saat keserakahan menguasai dirinya, ia melupakan rasa bersalahnya, dan berusaha memiliki semuanya secara utuh.
Kini ia tenggelam dalam pusaran keserakahannya. Saat melihat Bram terdiam tanpa bisa menjawab semua ucapan Sofi pada Bram, terlihat jelas hatinya yang terluka akibat perbuatannya sendiri. Sakit.... Rasanya sangat sakit. Rianti memegang d**anya. Rasanya sangat menyesakkan.