My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Cindy...?



Tiba di kediamannya, Genta memeluk ibunya dan juga bapaknya dengan erat. Rindu yang terpendam, kini tersalurkan.


"Genta kangen banget sama ibu." tangis ibunya pun pecah. Selama ini, beliau ingin sekali menjenguk putranya ke ibukota. Namun, Genta melarangnya. Genta tak ingin ibunya kelelahan.


Setelah ibu melepas pelukannya, Genta menghapus air mata ibunya dengan jemarinya dan mencium kening sang ibu. Kemudian, ia beralih memeluk bapaknya.


"Bapak sehat kan?" dengan senang hati, bapak menyambut Genta dalam pelukannya dan menangis haru.


"Iya nak. Wah, kamu tambah ganteng saja ya." goda bapak. Genta terkekeh.


"Kita makan siang dulu ya nak." ajak ibu.


"Bu, Kia ajak Dewi boleh gak?"mendengar nama Dewi, wajah Genta langsung memerah. Kia yang melihatnya, tersenyum menggoda kakaknya.


"Boleh kok." ucap ibu.


"Ya sudah, Kia mau telepon dulu." ucapnya. Niat menggoda kakaknya, mendapat restu dari sang ibu. Meski sebenarnya, ibu tak tahu jika Kia ingin menggoda Genta.


"Genta ke kamar ya Bu." tanpa menunjukkan wajahnya, Genta berlalu menuju kamarnya yang ada di sebelah kamar Kiara.


Kiara, baru memutar handel pintu kamarnya ketika Genta menarik kerah baju bagian belakangnya. Hingga Kia, terkejut.


"Kakak kenapa sih?" sungutnya.


"Kamu yang kenapa. Kecil-kecil sudah bisa godain kakak kamu ya?" tuturnya.


Kiara tak menanggapinya. Ia hanya tertawa dan berlari cepat ke kamarnya dan menutup pintu kamar. Genta hanya menggelengkan kepalanya.


••••••


Cindy dan Hana, akhirnya tiba di rumah yang sudah di beli oleh mama Cindy. Mereka memutuskan bertanya pada orang yang kebetulan lewat.


Ternyata, rumah yang di beli oleh mama Cindy, berada di arah rumah Dewi. Hanya saja, mereka belum tahu dimana rumah Dewi berada.


"Akhirnya...." Hana merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tengah. Lelah sekali rasanya.


"Lo mau minum apa Han?" tanya Cindy.


"Nanti gue ambil sendiri Cin." jawab Hana masih dengan menutup matanya.


Cindy berjalan ke arah kamar dan meletakkan barang bawaannya. Setelahnya, ia menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar itu dan membersihkan diri.


Udara panas yang mendera, membuat tubuh Cindy terasa lengket. Selesai mandi, Cindy menuju dapur dan melihat bahan makanan yang ada.


Meski Cindy merupakan orang yang cukup berada, namun ia bukanlah anak yang tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Memasak, menjadi salah satu hobinya.


"Bahan makanan gak ada nih Na." ucap Cindy yang tengah berada di dapur dan memeriksa isi dalam kulkas. Ya, mama Cindy memang sudah mengisi rumah itu dengan berbagai perabotan rumah tangga yang cukup lengkap. Hanya saja, untuk bahan makanan, ia tidak mengisinya. Toh, tempat itu hanya akan di gunakan saat Cindy menginginkannya. Atau, saat mamanya ingin suasana damai seperti di tempat itu.


"Terus, Lo mau nyuruh si mbok Lo itu belanja dulu?" tanya Hana seraya bangun dari duduknya. Ia menghampiri sahabatnya itu, yang masih berada di dapur.


"Kita pesan saja ya. Besok saja kita belanja." Hana yang tengah menenggak air putih yang sudah di ruangnya hanya menganggukkan kepala. Hingga ia tersadar dengan perkataan Cindy 'kita'.


"What? Tunggu, Lo bilang kita?" Cindy mengangguk. Raut wajahnya terlihat bingung.


Apa yang salah dengan kata 'kita'? tanya nya dalam hati.


"Gila Lo. Ke pasar gitu?" Cindy masih tak mengerti dengan sikap Hana yang berubah.


"Lo kenapa sih? Emang Lo gak pernah ke pasar?" kesal Cindy yang di angguki Hana.


"Emang gue orang kota." pekiknya kesal. "Meski gue sering ke pasar juga sih." gumamnya pada diri sendiri. Namun sayangnya, masih terdengar jelas di telinga Cindy.


Cindy menoleh mendengar ungkapan sahabatnya itu dan terbahak.


"Lagak Lo sok kota. Nyatanya Lo sering keluar masuk pasar." Hana hanya melengkungkan bibirnya dan kembali duduk di sofa.


"Suruh mbok saja Cin. Malu tahu sama orang desa sini. Masa kita datang dari kota belanjanya ke pasar?" protes Hana. Bibirnya kini sudah mengerucut.


"Kenapa harus gengsi? Kalau Lo gak mau ikut, ya gak apa apa. Biar gue saja sendiri. Si mbok biar beres-beres rumah." bibir Hana semakin mengerucut.


*****


Esok harinya, Cindy pergi berbelanja ke pasar tradisional di desa itu. Berbekal arah yang di tunjukkan si mbok, ia sampai di pasar dalam waktu dua puluh menit. Ia pun mulai memasuki pasar dan memilih bahan makanan.


Di tempat yang sama, Genta mengantar ibunya dan membantu ibunya berbelanja di sana. Genta membawakan tas belanja ibunya. Sebagai seorang pria, Genta tidak merasa malu ikut berbelanja. Menjadi suatu ke banggakan bagi ibunya sendiri.


Genta dan ibunya tiba di penjual ikan segar bersamaan dengan Cindy. Namun keduanya belum menyadari satu sama lain. Ketika Genta melayangkan pandangannya, barulah ia menyadari sosok Cindy.


Kok kaya Cindy ya? Ah... Gak mungkin Cindy. Tapi, mirip banget. Apa, coba gue tegur sapa ya? batin Genta.


Genta melangkah mendekati Cindy. "Cindy?" panggil Genta. Gadis itu pun menoleh mendengar seseorang yang memanggilnya.


"Genta?" Cindy terkejut. Bukan terkejut karena bertemu Genta, tapi karena baru kali ini Cindy melihat pria muda seperti Genta mau memasuki pasar tradisional.


"Kamu kok bisa ada di sini? Sama siapa?" tanya Genta yang merasa penasaran dengan kehadiran Cindy. Cindy terbelalak. Otaknya seakan berpikir keras untuk mencari alasan.


"Gu--gue la--lagi liburan." ucapnya terbata. Genta mengangguk.


"Gen, ayo nak. Ibu sudah selesai." suara ibunya mengalihkan perhatian Genta.


"Iya Bu. Duluan ya Cin." Cindy hanya mengangguk.


Setelahnya, Genta dan ibunya berlalu. Sementara Cindy, menatap kepergian mereka dengan rasa sedikit kecewa.


Kecewa, karena Genta terlihat menjaga jarak. Kecewa, karena Genta tak menghiraukannya. Ia pun menghela nafas kasar. Ia sadar, Genta tidak menganggapnya lebih dari sekedar teman. Tapi Cindy sudah memutuskan, akan tetap menarik perhatian pria itu. Hingga pria itu, menyadari cintanya.


Di perjalanan, ibu Genta menatap putra kesayangannya itu.


"Tadi itu siapa?" tanya ibu.


"Teman kuliah Genta Bu." jawab Genta jujur.


"Sepertinya, ibu baru lihat dia di kampung ini."


"Tadi aku juga berpikir begitu Bu." Genta mengernyit. Saat bertemu Cindy tadi, ia tidak menanyakan alasan gadis itu berlibur ke desanya.


Hingga mereka tiba di jalan menuju ke rumah, Genta dan ibunya bertemu Kiara da Dewi.


"Ibu..." panggil Kiara. Genta dan ibunya menoleh dan tersenyum.


"Pagi Tante." sapa Dewi seraya mencium punggung tangan ibu dari sahabatnya itu. Ibu pun tersenyum hangat.


"Darimana kalian?" tanya ibu.


"Beli bubur untuk mbok Narti Tante. Kebetulan ketemu Kiara, jadi Dewi ajak sekalian." ibu Genta mengangguk paham dan tersenyum. Genta pun tersenyum melihat perhatian Dewi pada mbok Narti.