My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Bramantio Wijaya; Penyesalanku



"Sofi, apa Dewi sungguh putri ku?" tanyaku sungguh-sungguh.


"Aku tahu mas Bram akan meragukan itu. Tapi, sampai detik ini, aku tidak lagi berhubungan dengan pria lain. Aku pun menyadari kehamilanku, ketika usia kandunganku memasuki tiga belas Minggu lebih. Itu artinya, saat itu aku masih menjadi istrimu yang sah." Sofia menjelaskannya secara rinci.


"Mungkin, saat mba Sofia sakit, ternyata mba Sofia sedang hamil mas." Rianti mencoba mengingatkanku ketika Sofia sakit.


Logikaku menolak kebenaran itu. Tapi entah mengapa hatiku menerima itu semua. Aku tak percaya. Mengapa setelah aku melepaskan Sofia, anugerah itu hadir? Mengapa juga ketika anugerah itu hadir, justru Sofia merahasiakannya?


"Kenapa baru sekarang kau beritahu aku?" tanyaku dengan nada suara mengintimidasi.


"Karena ku pikir, kau tidak menginginkannya." ucap Sofia lirih.


Aku tercengang mendengar ucapan yang keluar dari mulut Sofia. Mana ada ayah yang tidak menginginkan darah dagingnya sendiri? Apa lagi, sudah sepuluh tahun aku menanti kehadirannya.


Salahku memang yang tidak sabar menanti mukjizat itu. Salahku yang dengan terus terang menyatakan ingin menikah lagi hanya karena alasan keturunan. Tapi, bukan berarti aku tidak menginginkan keturunan dari istri yang sangat aku cintai.


"Apa aku seburuk itu di matamu?" tanyaku lirih. Dia menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku mba. Karena kehadiranku, mba merasa tersisih dan terabaikan." ucap Rianti dengan isak tangis. Aku merengkuhnya kedalam pelukanku.


"Jangan menyalahkan dirimu. Aku tidak pernah menyesali kehadiranmu. Tanpamu, aku tidak akan bisa merasakan mengurus seorang anak. Karena melalui Brian, aku belajar mengurus Dewi. Sungguh aku tidak pernah menyalahkan dirimu Rianti." Aku semakin merasa bersalah.


Aku menyesal dengan semua yang terjadi. Menyesal karena sudah membuat dua wanita ini, menyalahkan diri mereka sendiri.


Jika waktu bisa di putar kembali, aku ingin memperbaiki semuanya. Aku tak ingin menyakiti kedua wanita ini. Aku tak ingin membuat putriku jauh dariku.


Apa yang harus ku perbuat? batinku.


"Sofi, kembalilah. Biarkan Dewi merasakan kasih sayang dariku." aku ingin mereka kembali. Istri dan anakku.


"Tidak mas. Kau dan aku sudah bukan siapa-siapa lagi. Yang menghubungkan kita hanyalah Dewi." ucap Sofia.


Haruskah ku beritahu padanya, jika kami belum bercerai? Tidak, ini bukan waktu yang tepat. Aku tidak ingin Sofia semakin menjauhiku.


"Mba, tapi kasihan Dewi tidak merasakan kasih sayang seorang ayah." ucap Rianti.


"Tidak Rianti. Sesekali, aku akan biarkan Dewi tinggal dengan kalian. Tapi, aku tidak akan kembali. Biarkan seperti ini." sepertinya, keputusan Sofia sudah bulat. Bagaimana caraku menggoyahkan keputusannya?


"Bagaimana dengan Dewi? Jangan egois Sofia!?" aku masih mencoba membujuk Sofia.


"Aku tidak egois mas. Tapi, keadaan ini akan lebih baik. Dewi pasti akan mengerti. Dia anak yang cerdas." ucap Sofia.


Jika di teruskan, perdebatan ini tidak akan berakhir. Baiklah lebih baik seperti ini dulu. Aku dan Rianti, tidak bisa berbuat apa-apa. Kami segera menghampiri Brian dan Dewi.


Aku menghampirinya dan memeluknya dengan penuh kerinduan. Ahhh.... Sungguh aku kehilangan setiap moment berharga bersamamu nak.


Setelah aku melepaskan pelukanku, Rianti pun turut memeluknya. Ia terisak dan berkali-kali mengucapkan kata maaf. Gadisku hanya terdiam.


Detik berikutnya, aku turut bermain bersama anak-anakku. Putriku terlihat sangat bahagia. Ingin sekali aku menghentikan waktu saat ini juga.


Aku sempat meminta mereka menginap, namun lagi-lagi Sofia menolak. Entah kapan aku akan bertemu dengannya lagi. Sofia seakan menghukum ku. Dengan menjauhkan ku dari putriku sendiri.


Tuhan, aku benar-benar menyesal. Menyesal sudah menyia-nyiakan wanita baik hati ini. Aku sendiri tidak tahu, bagaimana selama ini Sofia membiayai kehidupannya. Dia tidak pernah meminta sepeserpun dariku. Tuhan, bisakah aku memiliki Sofia lagi seperti dulu? Berlebihankah apa yang ku minta ini? Aku menginginkan mereka hadir di hidupku.


Sofia, maafkan aku atas semua kesalahanku. Maafkan aku yang tak memiliki kesabaran seperti dirimu. Maafkan aku yang sudah menduakan cintaku padamu. Aku selalu mencintaimu. Bahkan rasa cintaku padamu, tidak pernah berubah. Terlalu banyak kesalahanku padamu. Kembalilah padaku. Kumohon.


Dewi, papa tahu kamu tidak mengetahui cerita yang sebenarnya antara papa dan mamamu. Tapi suatu hari, papa akan memberitahumu sendiri. Biar dirimu yang menilai papa. Apakah papa layak mendapat cinta darimu atau tidak. Maaf, karena papa tidak pernah hadir di saat kau membutuhkan kehadiran papa. Jadilah anak baik. Turuti mamamu. Dan jagalah mamamu nak. Papa akan selalu menunggu kalian kembali. Papa akan selalu menyayangimu.


💐💐💐💐💐💐


Hola readers.....


Tiga part ini, aku lagi bikin part flashback antara Sofia dan Bram. Silahkan kalian nilai sendiri sikap Bram sebagai suami dan ayah ya. Karena setiap orang punya penilaian sendiri.


Intinya kehabisan ide cerita sih 🤭🤭🤭🤭 ahhh jadi malu aku.


Terimakasih buat kalian semua yang masih setia dengan novel ini. Yang sudah memberikan like👍, komen🗯️, bahkan memberikan rate ⭐.


Kalau gak keberatan, mau dong 🌷nya.... hehehe🤭🤭🤭


Tapi gak di kasih juga gak apa apa kok author gak akan marah...


Maafkan author yang updatenya sering molor dan gak tepat waktu ya...


Buat kalian yang merayakan hari raya idul Fitri, author mengucapkan mohon maaf🙏 lahir dan batin.... Selamat, sudah menuntaskan ibadah puasa selama satu bulan ini.....👍👏👏Kalian hebat👍, the best👍, mantap👍.


Selama hari raya, makannya di jaga ya.... Karena, di suguhin makanan enak itu, susah nolak....🤭🤭🤭🤭


Jaga jarak aman juga ya guys....


Keep safe and keep healthy....


Love you all...


Thank you....