
Satu bulan berlalu. Dewi kini sudah di sibukkan dengan jadwal kuliah yang cukup padat. Ia memutuskan mengambil dua jurusan sekaligus. Meski dia tahu, dia akan sangat sibuk dan kehilangan banyak waktu bersama tunangannya.
Beruntung Genta sangat mensupport nya. Beberapa kali, Bram mencoba menghubungi Dewi untuk memenuhi keinginan sang putri yang sempat di utarakan nya. Sayangnya, Dewi tak pernah menggubrisnya sedikitpun.
Rasa kecewa yang teramat dalam pada ayahnya, membuat dirinya tak ingin lagi di kecewakan dengan berbagai janji yang di ucapkan Bram saat ayahnya itu menjenguknya.
Bram pun memutuskan menemui Sofia dan meminta Sofia untuk berbicara dengan Dewi. Bram dan Sofia bertemu di salah satu mall di ibukota.
Bram tiba lebih dulu di restoran bergaya oriental dalam mall itu. Sebelumnya, saat tengah menuju restoran itu, dirinya melihat sebuah dress cantik yang ia yakini akan sangat bagus di kenakan putrinya. Bram pun memutuskan membeli dress itu.
Bram mengembangkan senyum manisnya saat membayangkan putrinya akan tersenyum padanya dan mengucapkan terimakasih. Lamunannya terputus saat Sofia datang.
Sofia terlihat cantik dalam balutan pakaian formal berwarna putih. Lagi dan lagi, Bram jatuh cinta pada pesona Sofia. Make up yang tidak mencolok, dan rambut pajang dan lurus yang tergerai indah.
"Mas... mas...." panggil Sofia.
"Kau sangat cantik." puji Bram. Sofia menahan senyum dan berdeham untuk menetralkan hatinya yang berbunga. Sudah lama dirinya tak melihat tatapan penuh cinta seperti itu.
Dulu, saat mereka baru menjalin rumah tangga, tatapan itu selalu membuat jantungnya berdegup kencang. Entah sejak kapan tatapan itu menghilang darinya. Bahkan, hingga mereka resmi bercerai tatapan itu seakan tak pernah ada.
Tapi kali ini, entah mengapa jantung Sofia kembali berdegup seperti dulu. Sofia menenangkan jantungnya lebih dulu sebelum berbicara.
"Terimakasih." ucapnya.
"Ada apa mas ingin bertemu denganku?" tanyanya.
"Aku ingin minta tolong padamu." Sofia menatap lekat pada Bram. Membuat Bram di landa kegugupan.
"To-tolong pertemukan aku dengan Dewi." pintanya.
"Akan ku sampaikan." Sofia tersenyum.
"Boleh aku bertanya?" tanya Bram. Sofia mengangguk setelah meminum seteguk jus buah yang sudah di pesan Bram untuknya.
"Kenapa kau tidak memberitahuku jika Dewi ingin aku bersamanya dulu?" seketika Sofia menatap tajam pada Bram.
"Kau menyalahkan aku?" Bram menggeleng.
"Bukan itu maksudku. Tapi, jika kau memberitahuku saat itu, aku pasti akan datang menemuinya. Dan hal kemarin tidak akan terjadi." Sofia menutup mata dan menghela nafas berat.
"Mas, sepertinya kau amnesia. Coba kau ingat-ingat lagi. Berapa ratus kali aku mengabari mu tentang keinginan putrimu, atau seberapa sering aku memintamu datang ketika Dewi sakit, dan seberapa banyak aku memberitahu mu, jika Dewi mendapat nilai yang bagus?" Sofia menarik nafas lagi.
"Tapi apa, kau justru tak pernah membalas pesanku atau pun memenuhi permintaanku."
"Aku menelpon mu pun, hingga ribuan kali tak kau angkat."
"Sekarang dimana letak kesalahanku?"
"Dewi menunggumu hingga usianya beranjak dewasa."
"Jika dia menyalahkannya saat ini, tanyakan pada dirimu, dimana kamu saat putrimu membutuhkanmu?"
Bram tercengang mendengar penuturan Sofia. Ia merasa tak pernah menerima pesan ataupun telepon yang Sofia katakan hingga ribuan kali pun, tak pernah ia tahu.
"Tapi, aku tidak pernah menerima pesan atau pun telepon darimu?" tutur Bram dengan raut wajah yang bingung.
Sofia mengerutkan dahinya menatap Bram. Ia bisa melihat kebingungan yang terlihat dari mata Bram. Sofia menarik kesimpulan, jika setiap dirinya menghubungi Bram, kemungkinan besar ponsel Bram tidak ada padanya.
"Apa ada orang lain yang sering memegang ponselmu?" tanyanya lagi.
"Rianti." lirihnya. Sesaat kemudian Bram dan Sofia saling pandang.
Mereka sama-sama berpikir, jika Rianti pasti mengetahui semua itu. Yang tidak mereka ketahui adalah, untuk apa Rianti melakukan hal itu?
Tidak mungkin. Itu lah pikiran Bram dan Sofia. Mereka mencoba mengenyahkan pikiran buruk itu. Tidak ada alasan bagi Rianti melakukan itu pada Sofia dan Dewi. Terlebih, saat itu posisi Sofia masih istri sah Bram.
"Sudahlah tak usah kita pikirkan." ucap Bram setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Itu terserah padamu mas. Tapi ingat, jangan pernah kau menyalahkan ku. Kesalahanku hanya pada saat aku tidak memberitahumu keberadaan Dewi hingga dia berusia lima tahun." tutur Sofia.
Bram mengangguk. Sepertinya, dia harus bertanya pada Rianti tentang masalah ini. Jika benar Rianti yang melakukannya, Bram harus menanyakan alasannya.
"Oh iya, tolong berikan ini pada Dewi." Bram menyerahkan paper bag berisi dress yang tadi di belinya.
Sofia melihat dan tersenyum. "Baiklah."
"Apa itu selera Dewi?" tanya Bram lagi.
"Apa kau mengizinkanku melihatnya? Aku hanya melihat sepintas tadi." ucap Sofia. Bram mengangguk.
Sofia mengambil dress itu dan melihatnya secara detail.
Cantik, meski mas Bram tidak pernah pergi berbelanja bersama Dewi, dia cukup tahu selera Dewi. Sofia mengangguk.
"Bagaimana kau tahu seleranya?" Bram mengangkat bahunya.
"Hanya menebak." mereka saling melemparkan senyum.
Setelahnya, mereka berpisah. Bram mengendarai mobilnya kembali ke Wijaya Group. Sofia pun, melajukan mobilnya menuju Hadinata Corp..
Sofia kembali terbayang tatapan Bram padanya tadi. Ia memegang dadanya yang kembali berdegup dengan kencang meski hanya mengingatnya.
Sofia merasa bahagia hanya dengan melihat tatapan itu. Sama halnya dengan Bram yang kembali mengingat pertemuan mereka tadi. Bram tersenyum. Ia lupa, sejak kapan Bram melupakan rasa cintanya pada Sofia?
Hingga hari ini, ia kembali merasa jatuh cinta lagi.
Sekali lagi, aku jatuh cinta padamu. Seperti tiga puluh tahun yang lalu, saat kita bertemu. Sekali lagi, aku merasa jantungku kembali berdetak, ketika aku melihatmu. Dan sekali lagi, aku kembali menginginkanmu. Sofia, kau selalu menempati hatiku. (Bram)
Sekali lagi, jantungku berdegup hebat seperti tiga puluh tahun yang lalu. Setelah sekian lama aku tak pernah merasakannya. Kini, aku kembali merasakan cinta itu. Dan aku melihat cinta itu di matamu mas. Setelah sekian lama aku mengubur mu jauh di dasar hatiku, namun saat aku melihat cinta itu lagi, seakan kau yang terkubur di sana, bangkit kembali. (Sofia)
Bolehkah aku berharap kau kembali lagi bersamaku? (Sofia dan Bram)
Dua insan manusia yang terpisah, kini kembali merasakan cinta yang terkubur dalam diri mereka. Yang pernah membuat mereka bersatu dan bahagia.
••••••••••
Hai semua kesayanganku.... Terimakasih ya buat setiap dukungan kalian. Menurut kalian, apa Sofia akan berhasil membuat Dewi memaafkan Bram dan memberinya kesempatan? Terus, apa Sofia akan kembali dengan Bram dan Bram menceraikan Rianti setelah Bram tahu kelicikan Rianti nanti?
Jangan lupa like, komen dan kalau boleh votenya ya....💖💖💖💖💖✌️✌️
Thank you so much😘 I love you gengs...