
Aku Sofia Larasati. Ibu dari seorang gadis yang ku beri nama Dewi Adianna. Putri, yang di berikan Tuhan padaku, ketika pernikahanku berakhir dengan suamiku Bramantio Wijaya.
Aku sebatang kara. Orangtuaku sudah meninggal saat aku memaksa menikah dengan suamiku. Begitu pun dengan Oma dan Opa ku.
Rumah yang ku tinggali saat ini, adalah peninggalan Oma dan Opa. Sementara rumah kedua orangtuaku, kubiarkan tanpa penghuni. Bukan tanpa penghuni sebenarnya. Hanya saja, rumah itu di tempati oleh pelayan yang masih setia pada keluargaku.
Aku memilih tinggal di desa Oma dan Opa, karena ingin menenangkan diriku dari perceraian. Aku tidak pernah menyangka, jika suami yang sangat ku cintai, akan mengakhiri pernikahan kami yang sudah berjalan sepuluh tahun.
Apakah karena dia sudah mendapatkan keturunan dari istri keduanya, hingga ia ingin membuang ku yang tak kunjung memberinya keturunan?
Entahlah, hanya dia dan Tuhan yang tahu jawabannya.
Aku memilih pergi dari hidupnya di bandingkan mendengarkan putusan cerai dari pengadilan. Namun, baru beberapa bulan aku di desa ini, aku di nyatakan hamil.
Perasaanku senang bukan main. Kehamilanku, cenderung tidak merepotkan ku. Bahkan, aku hanya mengalami pusing dan tidak enak badan di awal. Selebihnya, aku baik-baik saja.
Buah hati yang ku tunggu tumbuh di rahimku. Ingin sekali rasanya ku datangi mantan suamiku. Ingin ku beritahu padanya, bahwa buah hati yang di inginkan nya, kini hadir di rahimku. Namun, mengingat dia yang melepas ku, membuat aku memendamnya sendiri. Hanya mbok Narti yang tahu.
Mbok Narti, sangat setia padaku. Dia membantuku mengurus Dewi sejak bayi. Putriku itu sangat pintar sejak kecil. Dia juga sangat cantik. Aku menyayanginya.
Aku ingat, saat usianya lima tahun, ia merengek minta bertemu papanya. Hingga aku putuskan, akan mempertemukan mereka. Ketika mereka bertemu, mas Bram sangat terkejut. Entahlah, aku tidak tahu apa yang di pikirkan nya saat itu.
Setelah pertemuan itu, Dewi sering ku ajak bertemu papanya. Terkadang, mas Bram dan keluarganya yang datang ke desa.
Kini, putriku sudah berusia lebih dari lima belas tahun. Aku tak sengaja melihatnya berjalan dengan seorang pria yang kukenal. Ya anak dari tetanggaku. Genta.
Terlihat mesra. Sepertinya, mereka punya hubungan istimewa. Ku ikuti mereka ke pasar malam. Setelah mengikuti mereka selama tiga puluh menit, aku yakin mereka punya hubungan lebih dari teman.
Aku tiba di rumah lebih dulu. Ku bersihkan diriku dan ku tunggu ia kembali. Benar saja, tepat pukul setengah sembilan, ia kembali.
"Baru pulang sayang?" ia terkejut dan tersenyum kaku padaku. Aku tahu ia terkejut.
"Mama belum tidur?" tanyanya. Sepertinya, putriku mengalihkan topik pembicaraan.
"Belum. Mama baru pulang. Kamu darimana?" tanyaku tanpa melihatnya.
"Habis jalan sama kak Genta." ucapnya lirih.
"Oh.... Gak apa apa. Mama sih setuju saja. Yang penting kamu bisa jaga diri. Pergaulan sekarang itu, sangat menyeramkan." aku memutuskan menasihatinya saja.
"Mama gak marah?" aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku.
"Sudah malam, istirahat ya. Mama juga mau istirahat." ku belai rambut panjangnya.
Satu Minggu kemudian, ketika aku tengah joging, aku melihat Genta. Ku sapa dia. Namun, berkali-kali ku sapa, anak itu tak menyahut. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
Akhirnya ku tepuk pundaknya hingga ia terkejut. Aku tertawa melihat ekspresinya.
"Pagi-pagi kok melamun." sapaku.
"Tante..... astaga...." ia berhenti dan mengusap dadanya karena terkejut. Aku tertawa geli.
"Hahaha.... maaf ya, Tante gak maksud ngagetin kamu." ucapku seraya menghapus air mata yang tergenang di sudut mataku.
Ku lihat ia menarik nafas betkali-kali.
"Gak apa apa Tante." jawabnya. Kini, ia terlihat lebih tenang.
"Kamu ngelamunin apa sih? Jangan ngelamunin Dewi ya. Biarkan Dewi sekolah yang benar dulu. Nanti baru kamu lamunin. Atau, kamu lamar sekalian." Genta menatapku terkejut.
Aku tahu, ia pasti sangat terkejut. Sangat terlihat di wajahnya.
"Kenapa? Kamu kaget ya?" ia mengangguk.
"Tante itu pernah muda juga. Jadi Tante tahu arti tatapan mata kamu ke Dewi." jelasku.
"Kamu gak mau jelasin apa-apa?" masih diam
"Maaf kalau Tante marah." ucapnya. Aku tersenyum.
"Tante gak marah kok. Tante yakin, kamu bisa menjaga Dewi." aku mengusap pundaknya.
"Jangan panggil Tante ya. Panggil mama saja seperti Dewi." pinta ku.
"Hah?" dia terkejut.
"Karena Tante sangat setuju kamu jadi calon suami untuk Dewi di masa depan." dia semakin terkejut.
"Kamu tenang saja, Dewi itu tipikal setia. Bukan 'setiap tikungan ada' ya." aku terlihat seperti mempromosikan putriku.
"Hahahaha.... Tante bisa saja." dia tertawa terbahak.
"Sebentar lagi, Dewi pasti ke rumah kamu. Ya sudah, mama pulang ya. Ingat, jangan panggil Tante. Tapi mama." dia
menganggukkan kepala.
"Coba..?" aku berdiri dari dudukku.
"Iya ma. Sekalian Genta pamit. Genta akan kembali ke ibukota." dia berdiri di sampingku. Kemudian, ia mencium tanganku.
"Kamu hati-hati ya." aku memeluknya.
Setelahnya, aku melanjutkan joging sampai ke rumah. Benar saja apa yang ku katakan pada Genta. Tiba di rumah, ku lihat putriku sedang membuat bekal. Puas meledek calon menantu, kini aku ingin meledek putriku.
"Ekhmm..." Dewi menoleh padaku dan tersenyum.
"Baik banget anak mama. Mau buat bekal untuk mama ya?" tanyaku.
"Ini yang buat mama." tunjuk nya. Aku mengangguk.
"Yang itu untuk siapa sayang? Ini kan hari Minggu. Jadi kamu libur." tanyaku lagi.
"Buat kak Genta." lirihnya.
"Oh.... buat pacar ya." Dewi tertegun.
"Tenang saja sayang. Mama restuin kok. Jadi calon suami juga. Hahahaha...." tawaku.
Aku meninggalkannya dan mandi. Masa muda adalah masa yang menyenangkan. Sayang, pernikahanku kini kandas. Aku akan pastikan, pernikahan putriku bertahan.
Aku tidak ingin, Dewi mengalami nasib yang sama sepertiku. Rela di madu, hanya untuk mendapatkan keturunan. Ketika sudah mendapatkannya, di hempaskan begitu saja.
Rasanya sangat menyakitkan.
Tuhan, jaga anakku. Berilah dia hati yang di penuhi kelembutan. Hingga, ketika dewi harus mengalami rasa sakit itu, dewi tak menyimpan dendam. Namun, jika aku boleh meminta padaMu, jangan biarkan putriku merasakan rasa sakit yang sama sepertiku. Cukup aku saja yang tahu rasa sakit itu.
🥀🥀🥀🥀
Happy reading all..
Thank you so much buat kalian yang sudah me- rate, like, komen, bahkan favoritkan novel ini. Aku sangat-sangat berterimakasih buat kalian. Like yang kalian berikan dan komentar dari kalian, membuatku semangat menulis.
Buat yang menjalankan puasa, semoga masih berjalan lancar ya puasanya. Semoga kita semua di berikan kesehatan.
Keep safe and keep healthy☺️🤗