My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
(Special episode) Memori yang terlupakan



Bram duduk termenung di atas pasir. Pandangannya menyapu hamparan laut lepas di hadapannya. Dua bulan menyendiri di tempat itu, membuatnya memikirkan semua hal yang terjadi di hidupnya.


Bayangan masa lalu terlintas di pelupuk matanya. Ia sadar, ia sudah melupakan banyak hal. Bahkan ia lupa untuk bersyukur.


Banyak hal yang bisa ia syukuri dalam hampir lima puluh tahun hidupnya. Namun ia melupakannya. Saat ia menyadari kesalahannya, semua sudah terlambat.


Kesalahan itu sudah seperti benang kusut yang sulit di uraikan dan di pulihkan. Bukan maksud hatinya lari dari kenyataan. Tapi ia butuh ruang dan waktu untuk mencoba mencari akar dari semua hal yang terjadi.


Sadar jika semua kesalahan itu berasal dari dirinya, membuatnya tak lagi berharap mendapatkan maaf ataupun kesempatan. Entah di mata Sofia, ataupun anak-anaknya. Ia merasa gagal. Baik sebagai suami, ataupun ayah.


Dalam karir ia bisa meraih kesuksesan. Tapi ia gagal dalam membangun keluarganya. Dia yang seharusnya menjadi pelindung keluarga, justru tak bisa melakukan peran itu. Airmatanya terjatuh seakan tak pernah habis menangisi setiap kesalahan yang di buatnya.


Bram bangkit berdiri dan berjalan menuju ombak yang berkejaran ke bibir pantai. Kesadarannya seakan mulai menghilang. Ingin rasanya ia menenggelamkan dirinya ke lautan. Berharap semua ini hanyalah mimpi.


Dirinya semakin jauh berjalan. Hingga ia tertelan ombak. Ia tenggelam dalam rasa frustasinya. Ia membiarkan ombak membawanya entah kemana.


Entah sudah berapa lama ia tak sadarkan diri. Saat ia membuka matanya, ia melihat langit-langit yang asing di penglihatannya.


Dimana aku? pikirnya.


"Kau sudah sadar?" Bram menoleh mendengar suara itu.


Matanya memicing melihat sosok yang ada di hadapannya. Banyak pertanyaan yang timbul di benaknya.


"Kau ingin bertanya kenapa aku menyelamatkanmu?" tanyanya.


Bram mencoba duduk dan menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang. Ia menarik nafasnya dalam.


"Hmm.." jawab Bram.


"Aku tidak suka bersaing dengan orang lemah sepertimu. Kalau caramu seperti ini, aku akan menang dengan mudah." cibir pria itu.


"Bukankah kau sudah menang?" lirih Bram. Ia menengadahkan kepalanya memandang langit-langit kamar itu.


"Hah... Aku heran, apa yang di lihat Sofia dari pria sepertimu. Kau itu lemah dalam segala hal." ejeknya.


"Dave.... itu namamu kan." tanya Bram.


"Hmmm.. kau benar." jawab Dave.


Bram tertawa sinis. Lebih tepatnya, pada dirinya sendiri. Dia yang berharap mati, malah di selamatkan oleh saingannya sendiri.


"Aku tidak punya apa-apa." Bram menatap Dave.


"Aku sendiri tidak tahu apa yang di lihat Sofia dariku. Hingga dia memilih meninggalkanmu dan bersamaku." lirihnya.


"B****..." cibir Dave.


"Kau menikah dan hidup bersama dengannya meski hanya sepuluh tahun, tapi tidak tahu itu?" Dave merasa, Bram adalah pria paling i**** yang pernah di kenalnya.


"Sebaiknya kau pikirkan baik-baik. Karena jika kau terlambat, akan ku pastikan hatinya berpaling darimu." ancam Dave.


Dave pun meninggalkan Bram dalam kegamangannya. Bram menatap punggung pria itu hingga tak lagi terlihat.


Berkali-jali ia mengerutkan dahinya. Mencoba mencari jawabannya. Apakah ada yang terlupa? Bram menatap kosong pada dinding di hadapannya.


Ia kembali menyusuri masa lalunya. Saat pertama bertemu Sofia di luar negeri. Wanita itu tak pernah berubah. Dia masih saja terlihat cantik.


*Sofia adalah cinta pertama Bram. Bertemu di universitas bergengsi di luar negeri. Ia tak menyangka, jika Sofia pun memiliki rasa yang sama padanya. Hingga menyandang gelar sarjana, mereka pun memulai hubungan sebagai kekasih.


Awalnya, Bram merasa tidak percaya diri berada di dekat Sofia. Namun, berkali-kali Sofia terus mendekatinya. Wanita itu sangat mudah bergaul dengan semua orang.


Jujur saja, hingga detik ini Bram tidak tahu apa yang mendasari Sofia memilih dirinya. Sejak awal bertemu, Bram tidak pernah sengaja mendekatinya. Malah lebih terlihat menjaga jarak.


Jadi, apa yang di lihat Sofi? Baik? Ada begitu banyak pria baik di dekatnya. Sopan? itu pun sama. Pekerja keras? Itu pun banyak. Sederhana? Ada beberapa mahasiswa yang datang dari kalangan atas dan bersikap sederhana. Itu tidak menjadi masalah.


Apa lagi? Rasanya semua kriteria itu ada pada banyak pria yang mengelilinginya. Terutama Dave. Apalagi, Dave adalah pewaris tunggal dari Barata Com.. Jika dua perusahaan besar itu bersatu, besar kemungkinannya mereka akan menguasai setiap aspek perekonomian negara.


"Ketika di luar sana banyak pria yang melihat aku karena latar belakangku, kau hanya melihat aku. Ketika pria lain menginginkanku karena harta, kau tidak. Di saat aku ingin menolong mu, kau selalu bilang; laki-laki harus bisa bertanggung jawab untuk dirinya lebih dulu. Jika tidak, bagaimana ia bisa bertanggung jawab pada keluarganya nanti? Itu yang kau katakan. Aku, semakin jatuh hati padamu. Aku tak bisa mengendalikan hatiku. Aku mencintaimu."


Memori indah itu berputar di kepalanya. Ia melupakan itu. Ia lupa, jika Sofia mampu menerima kondisinya sebagaimana adanya. Jadi, mengapa ia harus menyakitinya?


Masihkah Sofia menyimpan rasa itu untuknya? Ataukah Sofia sudah menguburnya jauh di dasar hatinya?


Kehadiran buah hati, hanyalah alasan klise yang ia ciptakan sendiri. Hanya karena ia malu menjadi bahan olok-olok teman-temannya.


Tidakkah ia ingat jika Sofia tidak malu padanya? Tidak bisakah ia membela istri tercintanya di hadapan teman-temannya? Bram malu. Ia semakin merasa bersalah.


Ketika Sofia rela kehilangan keluarganya demi mempertahankannya, ia malah melepasnya hanya karena ejekan para manusia yang tidak bertanggung jawab.


Bram meraung meratapi kebodohannya. Bisakah kali ini ia mendapatkan hati Sofia lagi? Dia tidak akan tahu jika tidak mencobanya.


Bram menghapus airmatanya. Ia berjalan ke kamar mandi dan mencuci wajahnya. Memandang pantulan dirinya di cermin. Ia bertekad, akan memperjuangkan Sofia kali ini. Bram tidak akan menyerah.


Langkah awal adalah, ia harus kembali ke ibu kota. Tunggu dulu, bagaimana Dave bisa ada di sini? Tidak mungkin pria itu mengikutinya bukan? Bram akan bertanya padanya nanti.


Perut Bram berbunyi. Rupanya, ia sudah melewatkan jam makan. Ia bergegas mencari makanan.


Melewati restoran pinggir pantai, ia melihat wanita yang sedari tadi bergelayut di pikiran nya. Wanita itu duduk bersama saingannya di sana.


Jadi, Sofia juga berada di sini? pria itu mengepalkan tangannya erat. Bram melangkah perlahan ke hadapan Sofia.


Sofia menatap Bram terkejut. Tampilan Bram terlihat tak terurus dan berantakan. Bram tersenyum menatap Sofia.


🌹🌹🌹🌹


Hai genks.... aku hadir kembali. thank you buat support kalian.


Apalah artinya aku tanpa kalian genks.... Thank you so much....


Keep safe and keep health ...


big hug for you....😘