
Dia pergi. Hatiku sangat sakit. Bahkan ia tak mengharapkan apapun dariku. Sedikitpun dari hartaku, tak ada yang di mintanya.
Saat aku pulang, aku masuk ke kamarnya. Ku lihat isi kamar itu. Tidak ada yang berubah. Ku buka lemarinya. Hanya beberapa yang di bawa Sofia. Aku menangis. Hatiku sangat sakit.
Ku lihat di atas meja, ada surat gugatan cerai yang kuberikan padanya kemarin. Ku ambil dan kubuka berkas itu. Tertera dengan jelas tanda tangannya. Ku remas surat itu dan aku menangis.
Kenapa rasanya sangat sakit? Jauh lebih sakit ketika aku menikah lagi.
Ketika aku menangis, kudengar suara putraku memanggil Sofia. Ku hapus air mataku dan ku buka pintu kamar Sofia.
"Brian kenapa nak?" tanyaku.
"Papa, mama Sofia masih sakit? Kenapa gak keluar-keluar dari kamar dari kemarin?" aku terbelalak. Bukankah siang tadi Sofia ke kantorku? Kenapa Brian bilang tidak keluar kamar?
Satu hal ku tahu, dia pergi tanpa di ketahui Brian.
Rianti menghampiriku dan membawa nampan berisi makanan. Aku mengernyit heran. Jika Brian tak di beritahu tentang kepergian Sofia, aku bisa mengerti. Tapi, apa Rianti juga tak mengetahuinya?
"Mbak Sofi tidur mas? Dia belum makan. Aku mau antar makanan untuk Mbak Sofi." dia mengangkat nampan di tangannya.
Benar dugaan ku. Rianti tidak tahu apa-apa.
"Rianti, aku ingin bicara." aku harus memberitahunya. Masalah ini, harus cepat selesai.
"Brian, kamu ikut sama mbok Siti dulu ya." pinta ku. "Mbok, tolong bawa Brian ke ruang tengah atau kamarnya ya." ucapku.
Ku tutup pintu kamar utama. Aku berjalan ke ruang kerjaku. Aku tahu, Rianti pasti bingung. Tapi dia harus tahu keadaannya.
Tiba di ruang kerja, Rianti segera menutup pintu. Ku hembuskan nafas dengan kasar. Aku bingung, darimana aku harus memulai.
"Ada apa mas?" ku balikkan badanku menghadapnya. Ku pegang pundaknya dan menatap jauh ke dalam manik matanya. Dia menatap ku juga.
"Sofi, sudah pergi." lirihku. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia tak percaya.
"Bohong. Kenapa Mbak Sofi mendadak pergi? Pasti kamu yang membuatnya pergi." tuduhnya. Aku membelakanginya dan menyugar rambutku kasar.
"Iya kau benar. Kemarin, aku melayangkan surat gugatan cerai padanya." ungkap ku.
"Mas benar-benar keterlaluan. Aku gak ngerti dengan jalan pikiran mas. Bukankah mas sendiri yang bilang, kalau mas gak bisa hidup tanpa Mbak Sofi? Aku juga tahu, mas jauh lebih mencintai Mbak Sofi daripada aku. Aku rela mas. Karena aku merasa bersalah pada mbak Sofi." dia menangis.
Aku sudah menyakiti dua wanita sekaligus. Dua wanita, yang sama-sama memiliki hati yang baik. Yang sama-sama rela berbagi. Bahkan, mereka rela meski cinta ku lebih berat pada satu orang.
Aku putuskan, tidak menceraikan Sofi. Sampai kapanpun, dia akan tetap menjadi istriku.
Lima tahun kemudian
Rumah tanggaku dan Rianti sudah baik-baik saja. Awal kepergian Sofia, membuat Brian sakit dan terus memanggil namanya. Namun, usahaku mencarinya tak membuahkan hasil sedikitpun. Entah dimana dirinya berada.
Aku sendiri selalu merindukannya. Ketika aku merindukannya, aku akan tidur di kamar utama. Karena, sampai detik ini kamar itu tetap di kosongkan dan di biarkan seperti semula.
Suatu hari, ada telepon masuk ke ponselku. Nomor yang tidak ku kenal. Panggilan pertama ku abaikan. Hingga panggilan ketiga, baru aku mengangkatnya.
Aku terkejut. Suara itu, adalah suara orang yang ku rindukan. Ya, Sofia. Dia menyampaikan, jika dia ingin bertemu denganku. Ada rasa bahagia ketika dia mengatakan ingin bertemu aku. Aku meng-iyakan.
Kami berjanji temu akhir pekan ini. Aku merasa gugup. Bahkan aku sudah menyiapkan diriku sejak jauh-jauh hari. Aku ingin tampil sempurna di hadapannya. Di hadapan wanita yang ku masih ku cintai sampai saat ini.
Kebetulan, Rianti ingin mencari kado juga untuk teman sekolah Brian yang akan mengadakan pesta ulangtahun malam nanti. Kami pun pergi bersama.
Dari jauh, aku sudah melihat dirinya.
"Sofia." sapaku. Aku tersenyum melihat gadis kecil di samping Sofia. Dia pun balas tersenyum.
"Mas. Loh, sendiri? Mana Rianti dan Brian?" tanya Sofia ketika aku duduk di sampingnya.
"Mereka sedang memilih sebuah hadiah. Katanya, malam ini Brian di undang ke acara ulang tahun temannya. Jadi minta Rianti memilihkan hadiah." jawabku.
"Oh, iya. Siapa gadis kecil ini?" tanyaku kemudian.
"Papa, kenalkan aku Dewi." ucap gadis itu yang langsung memanggilku dengan sebutan 'papa'.
Aku terkejut. Aku menatap Sofi seakan menuntut sebuah penjelasan.
"Bisa jelaskan ini?" tanyaku.
"Iya mas. Dewi adalah putrimu." Aku semakin terkejut. Ada rasa tak percaya di hatiku. "Saat aku pergi, aku tak menyangka jika aku sedang mengandung dirinya. Maafkan aku mas, karena aku tidak pernah memberitahumu tentang keberadaannya."
Lidahku terasa kelu. Aku melihat Gadis kecil itu. Gadis yang keberadaannya tidak ku ketahui sejak hampir enam tahun ini. Bahkan, yang keberadaannya tak pernah ku duga.
Aku terpaku dengan pernyataan Sofia mengenai gadis kecil itu. Aku benar-benar tak tahu harus bicara apa. Pikiranku pun seakan melayang entah kemana. Hingga aku tak menyadari kehadiran Rianti dan Brian.
"Mas." panggil Rianti.
Aku tersadar, ketika Rianti mengusap pundakku perlahan. Sofia tersenyum melihat Rianti dan Brian di depannya.
"Sudah dapat hadiahnya?" tanyaku. Kemudian, ia alihkan pandangannya pada Sofia dan menghampirinya.
"Mba Sofi." Rianti memeluk Sofia dan menitikkan air matanya.
"Brian, ayo sini. Brian ingat dengan Mama Sofi kan nak?" tanyanya pada Brian.
"Mama Sofi?" ucapnya ketika mengingat Sofi. Sofia memeluk Brian erat.
"Apa kabar nak. Kamu sudah besar ya." ucap Sofi.
"Mama kenapa gak tinggal di rumah papa lagi?" "Mama sudah tidak sayang Brian lagi ya? Atau Brian nakal? Kasih tahu Brian ma, Brian tidak akan nakal lagi. Brian janji." aku memperhatikan interaksi yang terjadi antara mereka
"Mama." panggil gadis itu menyadarkan kami yang juga ada di sana.
"Sayang, kenalkan ini mama Rianti dan ini kakak kamu Brian." Sofia memperkenalkan Rianti dan Brian.
"Siapa gadis ini mba?" tanya Rianti.
"Putriku." jawab Sofia.
Reaksi Rianti sama denganku. Namun Brian, terlihat senang.
"Brian punya adik ma?" Sofia mengangguk.
"Yeay.... Brian sudah punya adik. Sebentar lagi mama Rianti juga akan memberikan Brian adik. Jadi adik Brian ada dua." Brian terlihat sangat senang dan antusias.
"Brian, ajak adikmu main ya. Nanti papa hubungi jika papa dan mama selesai bicara. Bisa nak?" pintaku.
"Bisa pa. Brian akan bawa adik Brian ke arena permainan. Brian akan jaga dia. Papa dan mama tenang saja." ucap Brian.