
Setelah pembicaraan antara Rianti dan Bram, ada rasa penyesalan dalam hati Rianti. Penyesalan pertama adalah saat ia menyetujui permintaan Bram untuk menjadi istri keduanya. Kedua, saat ia tak bisa mencegah kepergian Sofia. Dan kali ini, penyesalan itu semakin kuat.
Setelah suami dan anak-anaknya tercinta pergi bekerja dan sekolah, Rianti menuju taman belakang. Taman yang kini juga menjadi favoritnya.
Di sekeliling taman itu terdapat banyak bunga lili putih yang di tanam oleh Sofia. Bunga yang melambangkan kesucian, kemurnian dan ketulusan.
Kenangan bersama Sofia di tempat itu kembali berputar. Memory nya, memperlihatkan kisah masa lalu yang terekam.
"Rianti, kamu tahu kenapa aku sangat menyukai bunga lili putih ini?" Rianti menggeleng sambil tersenyum.
Sofia tersenyum lembut. Sambil kembali menyiram bunga lili putih kesayangannya, ia berkata "Bunga ini, melambangkan kesucian, kemurnian dan ketulusan. Aku mencintai mas Bram dengan cinta yang suci, murni dan tulus. Begitupun aku menerimamu. Karena kau, adalah pilihan suamiku." Sofia menatap lembut pada Rianti.
Rianti menitikkan air mata saat ingatan itu berputar. Dadanya terasa sesak. Ingin sekali ia meluapkan emosinya.
"Mbak Sofi, salahkah aku yang kini menjadi egois?" Rianti tengah bermonolog dengan dirinya.
"Salahkah aku yang tidak ingin berbagi denganmu? Meski aku tahu dulu kau bisa menerima kehadiranku."
"Maafkan aku yang menjadi egois. Sungguh, aku tidak ingin menjalani rumah tangga seperti sebelas tahun yang lalu."
"Aku tahu, kau pun terluka menjalaninya."
"Maafkan aku mbak. Maaf."
Air mata kian deras membasahi pipi mulusnya. Keegoisan, kini merajainya. Hingga Rianti memutuskan, ingin menemui Sofia langsung.
Rianti pergi menuju desa yang di tinggali Sofia dan Dewi. Ia harus memastikan sendiri jawaban dari Sofia.
Aku harus bertemu mbak Sofi. Aku harus pastikan keputusannya. Tapi, aku tidak akan beritahu dia, jika sesungguhnya aku tidak rela dia kembali. batin Rianti.
Rianti tidak memberitahu Bram ataupun Brian. Pada mbok Siti pun, ia hanya mengatakan ingin jalan-jalan. Rianti di antarkan oleh supir. Ia sudah berpesan pada supirnya, untuk tidak memberitahu siapa pun kemana mereka pergi hari ini.
Dalam perjalanan, Rianti merasa resah. Ada rasa ragu yang melanda hatinya. Ingin ia berbalik dan tak jadi menemui Sofia. Tapi, ada rasa penasaran yang juga menggelayuti dirinya.
Berkali-kali ia mendesah kan nafas secara kasar memainkan jemarinya, dan memijat pelipisnya. Entah mengapa ia begitu gugup.
Pikiran negatif pun menghinggapi. Bagaimana jika Sofia setuju untuk kembali? Apa jika Sofia kembali, cinta Bram akan tetap sama? Ataukah seperti dulu yang jelas lebih memilih Sofia?
Ia tak bisa menghapus pikiran negatif itu. Semakin dekat, semakin cemas pula hari Rianti. Kembali, pikiran negatif hadir dalam benaknya.
Jika Sofia menolak, akankah Bram ataupun Brian memaksa Sofia kembali? Atau, Dewi yang akan menuntut Sofia untuk kembali? Apalagi, gadis itu tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah secara utuh.
Lagi dan lagi, Rianti semakin tenggelam dalam rasa takutnya. Ingin dia meneriakkan pada Sofia untuk tidak lagi kembali.
Haruskah aku mengatakannya? Sungguh, aku tidak ingin mereka kembali masuk kedalam kehidupanku. Atau, aku katakan saja pada mas Bram dan Brian? Hah... aku bingung sendiri.
Rianti tak menyadari, jika kini mobil yang membawanya sudah tiba di desa itu. Lamunannya berakhir saat sang supir mengatakan jika mereka sudah tiba di desa.
"Maaf nyonya, apa kita langsung menuju rumah nyonya Sofia?" tanya pak Manto supir keluarga Wijaya.
Rianti tersadar dan melihat sekelilingnya. "Kita ke cafe dekat butik mbak Sofi saja pak." jawab Rianti. Pak Manto mengangguk.
Rianti tahu dimana butik Sofi berada. Ia segera menghubungi Sofia untuk bertemu di cafe itu.
Tidak lama, mobil pun berhenti di cafe yang dituju. Rianti menunggu di dalam dan memesan es krim. Ia ingin mendinginkan hatinya dan menghilangkan kecemasannya dengan es krim.
Baru ia duduk, ponselnya berbunyi. Pesan dari Sofia. Ia membukanya. Hanya tertulis 'Ok'. Rianti pun menunggu kedatangan Sofia seraya memakan es krim pesanannya.
Dari dalam ia melihat ke arah butik milik Sofia. Ia melihat Sofia melangkah keluar dari butiknya, dan menuju cafe tempatnya berada. Satu kata yang terucap dari bibirnya. "Cantik".
Ya, sejak awal Rianti melihat Sofia, ia begitu kagum dengan kecantikan Sofia. Bahkan, di usia yang tak lagi muda, Sofia masih terlihat cantik dan mempesona. Rianti semakin takut jika Sofia kembali lagi.
Sofia mendekati Rianti yang sudah tersenyum ke arahnya. Sofia pun tersenyum dan mencium pipi kiri dan kanan Rianti dengan pipinya. Sofia pun duduk di depan Rianti. Pelayan mendatangi meja mereka guna mencatat pesanan.
"Mbak mau pesan apa?" tanya Rianti.
"Aku pesan cappucino ya." Sofia dan Rianti menatap pelayan itu dan tersenyum.
Setelah mencatat pesanan pelanggan, pelayan itupun meninggalkan meja mereka.
"Mbak Sofi apa kabar?" tanya Rianti. Seperti biasa, senyum Rianti terlihat hangat.
"Aku baik. Kamu sendiri?" Sofia balik bertanya.
"Baik mbak." jawab Rianti.
"Dewi bagaimana mbak?" Sofia tersenyum
"Dia juga baik." mereka terdiam. Tak lama, pelayan kembali dan menyerahkan pesanan milik Sofia.
Sofia menyesap pesanannya perlahan. Kemudian menatap manik coklat milik Rianti. Rianti merasa gugup di tatap Sofia. Ia pun mengalihkan pandangannya.
Sofia menarik nafas dalam dan menghembuskannya. "Katakan saja, ada apa kau mencari ku!?" tanpa basa basi, Sofia menanyakan tujuan Rianti.
Rianti menatap Sofia intens sebelum menjawab. Namun, belum sempat ia menjawab pertanyaan Sofia, Sofia langsung menebak niat Rianti menemuinya.
"Apa ini berhubungan dengan keinginan mas Bram dan Brian?" Rianti tersentak.
Rupanya, Sofia sudah menduganya. Apakah Sofia juga sudah tahu jika dirinya menginginkan cinta Bram hanya untuknya seorang. Rianti terdiam beberapa saat.
"Bagaimana mbak tahu?" tanya Rianti. Sofia tersenyum lembut. Namun bagi Rianti, senyum itu terlihat menakutkan. Ia semakin gugup.
"Kau ingin tahu jawabanku, atau...." Sofia menjeda kata-katanya. Jantung Rianti berdegup semakin kencang.
"Ingin membujukku juga?" Rianti menatap Sofia.
Seakan Sofia tahu isi hati Rianti, ia terkekeh. Rianti mengerutkan keningnya. Sofia berhenti dan menatap dalam mata Rianti.
"Dengarkan aku baik-baik, dan sampaikan pada mas Bram dan Brian. Aku... tidak... ingin... kembali..." Sofia, mengeja kata-katanya. Setah mengatakan jawabannya, ia berlalu meninggalkan Rianti yang masih membeku.
Rianti tersadar beberapa menit kemudian. Ada rasa senang sekaligus sakit saat sudah mengetahui jawaban dari Sofia.
Senang, karena keegoisannya membuahkan hasil. Sakit, karena tawa dan tatapan Sofia, mengintimidasinya. Ia tak tahu harus merespon apa. Ia pun kembali ke ibukota.