My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Rahasia yang terbongkar



Rianti mendengar suara mobil Brian. Ia memejamkan mata dan membukanya. Tiba-tiba ia menangis dan berlutut di kaki Dewi.


Dewi tidak menyadari maksud dan tujuan Rianti. Ia mengernyitkan dahi bingung.


"Bangun Tante..." pintanya.


"Maafin Tante wi.... Tante tahu Tante salah..... hiks...hiks..."


"Tapi Tante sungguh khilaf memisahkan mu dan ayahmu...." entah sejak kapan airmata Rianti mengalir.


"Apa maksud Tante? Bukankah Tante bilang papa yang tidak menginginkanku?" tanya Dewi bingung.


"Tante tidak pernah bicara seperti itu padamu..." pintu terbuka. Brian melihat ibunya berlutut.


Brian menarik pundak Rianti. "Bangun ma..." Rianti berdiri dibantu Brian.


Brian menatap Dewi. "Ada apa ini wi?" tanyanya.


Dewi masih tidak mengerti dengan yang terjadi. Ia terkejut dengan perubahan sikap Rianti yang berubah seratus delapan puluh derajat.


"Ini bukan salah Dewi Brian. Ini salah mama. Mama sudah melakukan banyak dosa pada Dewi dan ibunya." ucapnya di sela Isak tangisnya.


"Maafkan mama ya wi." pinta Brian dengan wajah sendu.


"Aku janji, mama tidak akan mengulangi hal itu lagi."


Seketika Dewi sadar akan kondisinya. Rupanya, Rianti tengah bermain sandiwara. Dewi tahu pasti, wanita ini ingin mengambil simpati Brian. Karena sudah dua bulan ini, Brian mengacuhkannya.


Dewi membuang nafas kasar. Ia lelah melihat hal ini. Ia menatap lekat pada Brian. Saat Dewi ingin bicara, pintu kembali di buka. Terlihat Genta memapah seorang wanita yang sangat mirip dengan Rianti.


Wanita itu terlihat lemah dan ketakutan. Beberapa polisi, Bram, Dave, Prasetyo serta Sofia pun ada di sana. Dewi dan Brian saling pandang tak mengerti. Bahkan, Rianti yang berada di pelukan Brian pun terkejut.


Matanya membola. Mulutnya menganga tak percaya. Seorang polisi mendekat.


"Nyonya Ranti, anda kami tangkap atas tuduhan pembunuhan terhadap nyonya Sarah, dan penipuan." ucap seorang polisi berseragam dan menunjukkan surat penangkapan.


"Saya Rianti pak, bukan Ranti." ucapnya. Terlihat jelas rasa takut di matanya.


"Ranti, kenapa kau menuduhku?" dia terisak.


Wanita dalam pelukan Genta segera menengadah dan menatap wanita di hadapannya. Terdengar suara lembut dari wanita itu.


"Aku menuduh mu?" ia menangis tersedu-sedu.


"Bertahun-tahun kau mengambil posisiku, bahkan kau mencuri kasih sayang anak-anakku, dan juga memecah keluarga suamiku, apa kau belum puas?" ucapnya di sela tangisnya.


Bram membelalakkan matanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Itulah yang ada dalam pikirannya.


Brian sendiri masih terlihat bingung. Namun, mendengar suara wanita yang ada di pelukan Genta, ia merasa sangat mengenalnya.


"Apa yang kau bicarakan Ranti?" sangkalnya.


"Sudah, cukup sandiwara mu." sela Sofia.


"Tangkap dia pak."


Polisi mendekati wanita yang di panggil Ranti itu dan mengeluarkan borgol. Dengan cepat, ia mengambil pistol di pinggang polisi dan berniat menodongkannya pada Dewi.


Genta yang sudah melihatnya, segera memegang tangan wanita itu dan mencoba merebutnya. Polisi itu ikut menarik pistol itu. Di tengah perebutan itu, terdengar bunyi tembakan yang sudah di lepas.


Dorr....


Seketika, mereka semua terdiam dan melihat ke arah perebutan pistol tadi. Genta segera mengangkat tangannya. Begitupun polisi itu.


Rupanya, tembakan itu mengenai Ranti tepat di bagian perutnya. Darah mengalir deras dari lukanya. Ranti melepaskan pistol itu.


"Rantiiiii...." teriak Rianti.


Ia memeluk saudara kembarnya itu. Menangis meraung-raung. Bagaimanapun, mereka tetaplah bersaudara. Dari luar, Daniel ikut berlari.


"Tidak.... Sayang.... bangun sayang...." Hampir semua di antara mereka terlihat terkejut. Tidak dengan Sofia, Prasetyo dan Dave.


"Maafkan aku adikku. Aku, sudah membuatmu malu. Aku mohon, tolong jaga putriku Jasmine." ucapnya terbata.


"Daniel, maaf aku sudah menjerumuskan mu dalam keserakahan. Jaga Jasmine untukku. Beritahu dia, jika aku ibunya." airmata Ranti tak Terbendung.


Tak lama kemudian, Ranti menghembuskan nafas terakhirnya. Rianti semakin menangis kencang. Saudara satu-satunya kini telah pergi.


Polisi membawa Daniel dengan paksa. Sementara Rianti, membawa jenazah Ranti untuk di makamkan. Jasmine di minta hadir di sana. Namun ia belum tahu, jika Ranti, adalah ibu kandungnya.


Setelah Ranti di makamkan, Jasmine di minta untuk ikut ke kediaman Wijaya. Mereka perlu meluruskan beberapa masalah. Dewi dan Sofia pun ada di sana.


Genta memeluk tubuh Dewi yang bergetar ketakutan. Ia mengecup puncak kepala Dewi.


"Jangan takut lagi." bisik Genta.


"Aku takut, tembakan tadi mengenai kakak." airmata Dewi mengalir.


"Sudah jangan menangis lagi. Aku baik-baik saja." Dewi mengangguk.


"Ada yang bisa jelaskan padaku tentang semua yang terjadi?" tanya Bram.


"Akan ku jelaskan." ucap Sofia.


Sofia mengatakan kecurigaannya pada Rianti setelah permasalahan berbulan-bulan lalu. Dimana Sofia mengatakan, jika ia selalu menghubungi Bram saat Dewi memintanya datang. Sofia tahu, jika Rianti tidak akan mungkin melakukan hal-hal seperti itu.


Apalagi, ketika Daniel begitu bersikukuh untuk menikahkan Jasmine dan Brian. Sofia, yang kebetulan bertemu Dave kembali, sengaja memintanya untuk menyelidiki latar belakang dan keluarga Rianti. Berhubung Dave, memiliki basic dalam pekerjaan itu.


Sofia tak menyangka, jika Rianti memiliki saudara kembar bernama Ranti. Dan ia, sudah menukar tempat Rianti dengan dirinya.


Mengetahui tujuan Ranti yang menginginkan harta milik Bram, membuat Sofia turun tangan


Mau tidak mau, Sofia ikut bermain dalam sandiwara ini. Sofia, tidak ingin Brian membenci ibunya. Bagaimanapun, Rianti tidak bersalah. Kesalahannya hanyalah jatuh cinta pada bram.


Genta pun ikut dalam permainan yang di ciptakan Ranti. Beruntung, calon menantunya itu cukup pandai mengatur strategi. Hingga kini, semua yang terjadi Genta sangat tahu kronologisnya. Termasuk menyingkirkan Patricia yang sudah salah paham pada Brian. Ia mengira, Rianti lah yang membunuh ibunya. Pada kenyataannya, itu adalah perbuatan Ranti.


Mereka semua tercengang. Rianti bersujud di kaki Bram. Ia menangis pilu.


"Maaf kan aku mas. Aku tahu, kau sudah menceraikan ku. Aku menerimanya dengan lapang dada."


"Aku tahu, semua ini pun ada andil ku."


"Bangun Rianti." Bram memegang pundak Rianti dan mendudukkannya di sampingnya.


"Aku juga salah. Kita sudah lama bersama, tapi aku tidak tahu sama sekali kau punya saudara kembar." ucapnya sendu.


"Maaf..." lirihnya.


"Jasmine, Ranti adalah ibu kandungmu. Chintya, adalah ibu tiri mu. Ayahmu berselingkuh dengan almarhum ibu kandungmu. Karena almarhum Chintya, tidak bisa memiliki anak, ia memutuskan mengambil mu sebagai anaknya. Awalnya, Chintya sangat marah mengetahui ayahmu berselingkuh. Namun, saat ia tahu ibu mu mengandung dirimu, mereka membuat perjanjian. Ketika kau lahir, ibumu harus menyerahkan mu padanya lalu ibumu Ranti, harus pergi jauh. Itulah sebabnya, aku selalu baik padamu sejak kecil." tutur Rianti.


Jasmine terdiam. Pandangannya kosong setelah mendengar pengakuan Rianti. Airmatanya mengalir deras. Kenyataan ini, membuatnya terpukul.


Kinanti menangis tersedu-sedu saat ia tahu, jika ia tidak bisa mengenali ibunya. Bagaimana mungkin ia tak bisa mengenali ibunya?


"Kinan minta maaf ma... Kinan tidak mengenali mama...." Rianti memeluknya.


"Brian juga ma." Brian ikut memeluk Rianti.


"Jasmine, maafkanlah ibumu. Anggap Tante sebagai ibumu. Kau boleh datang ke tempat Tante kapanpun kau mau." ucapnya pada Jasmine.


"Jasmine minta maaf Tante ... Jasmine pernah hampir menjebak Brian." tangis Jasmine pecah. Ia merasa bersalah pada keluarga Brian. Ia sangat malu pada keluarga Brian.


"Baiklah, semua sudah selesai. Kalau begitu, kami pulang dulu." pamit Sofia.


"Sofia...." panggil Bram.


Sofia menoleh. "Nanti saja mas. Tenangkan dulu perasaanmu. Aku tidak ingin kau tergesa-gesa."


Sofia, Dewi, Genta, Dave dan Pras pun berlalu. Dewi dan Genta saling menggenggam tangan dan tersenyum.