My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Extra part: Penyesalan Bram



Lagi-lagi, Kiara mengerang kesakitan. Bulir keringat, sudah membasahi sekujur tubuhnya. Dewi tengah menghubungi dokter kandungan Kiara. Genta tetap fokus pada jalan di hadapannya.


Setelah berkendara selama hampir setengah jam, mereka tiba di rumah sakit. Genta segera berlari mengambil ranjang rumah sakit.


Dengan segera, para perawat mendekati Kiara yang sudah memasuki IGD. Genta dan yang lainnya di larang masuk.


Kecemasan sangat terlihat jelas di raut wajah Randy, suami Kiara. Tak lama, para orangtua pun tiba. Termasuk Brian, Cindy dan Kinanti.


"Bagaimana?" tanya ibu.


"Sedang di periksa Bu." jawab Randy.


"Tenang saja." ibu tersenyum mengusap lengan Randy.


Dokter kandungan Kiara pun tiba dan langsung menuju ruangan Kiara.


"Sudah ada bukaan sus?" tanya dokter itu.


"Sudah dok. Masih bukaan empat. Tapi, cairan amnion sudah pecah." jawab suster yang sudah memeriksa Kiara tadi.


Suster menyerahkan hasil pemeriksaan itu pada dokter yang menanganinya. Dokter memindai data-data itu.


"Cairan amnion nya tidak sampai habis kan?" tanya dokter lagi.


"Iya dok." jawab perawat.


Kiara kembali merasakan sakit. Kali ini, jauh lebih sakit dari saat pertama ia merasakannya tadi. Dokter menghampirinya.


"Sudah sejak kapan mulasnya?" tanya dokter itu ramah.


"Sore tadi dok." jawab Kiara tertahan, karena rasa sakit yang masih menderanya.


"Saya periksa lagi ya." Dokter kembali memeriksa pembukaan jalan lahir.


"Sus, persiapkan peralatan sekarang." perintah dokter.


"Dok, boleh suami atau ibu saya ikut menemani?" tanya Kiara lemah.


"Tunggu sebentar ya." dokter itu tersenyum dan segera keluar ruangan.


Randy terus menerus merapal doa dalam hatinya. Berharap istri dan anaknya dalam kondisi sehat dan baik-baik saja. Di tengah kegalauannya, seorang suster memanggil.


"Keluarga ibu Kiara .." panggil seorang perawat.


"Saya suaminya sus." jawab Randy cepat.


Seluruh keluarga serempak menatap pada perawat dan Randy.


"Ibu Kiara meminta untuk di temani. Silahkan pak." perawat meminta Randy masuk ke dalam ruang bersalin.


Seketika, wajah Randy berubah pucat pasi. Ada ketakutan yang terpancar di wajahnya. Dewi mendekati Randy. Di belakangnya, Genta mengikuti.


"Kenapa Ran?" tanya Dewi.


"Aku.... Aku... Aku taku darah wi." lirihnya.


"Apa, minta ibu saja yang menemani?" tanya Genta.


Randy terdiam. Sejujurnya, Randy ingin melihat sendiri, momen kelahiran buah hatinya ini. Namun, dirinya begitu ketakutan jika melihat darah. Pikiran dan hatinya, bertolak belakang.


Tidak. Aku pasti bisa. Mana mungkin ibu yang menemani istriku? Tidak apa jika aku sedang tidak di sini. Ayo Randy... demi istri dan anakmu. batinnya.


Dengan langkah percaya diri, Randy memasuki ruang bersalin. Genta dan Dewi saling berpandangan dan mengangkat bahu.


*****


Setelah menunggu beberapa lama, terdengarlah suara tangis bayi. Selama proses kelahiran, baik Dewi maupun Genta merasa sedikit khawatir pada Randy.


Akan tetapi, hingga tangis bayi terdengar, sepertinya tidak terjadi hal buruk. Mereka semua mengucap syukur. Disaat yang lain tengah merasakan kelegaan karena kelahiran bayi Kiara dan Randy, Bram justru merasa sedih. Matanya menatap Sofia dan Dewi bergantian.


Bram kembali teringat dengan kehadiran Dewi. Dulu, dirinya tidak ada di sisi Sofia. Baik disaat masa mengidam, maupun kelahiran. Apakah saat mengidam dulu Sofia tak merindukannya? Apakah Sofia tak menginginkan sesuatu yang harus Bram sendiri yang melakukannya?


Wajahnya berubah sendu. Sofia menangkap hal itu.Sama dengan Bram, Sofia pun merasakan hal yang sama. Ia teringat masa-masa kepahitan dalam hidupnya. Sulitnya menjalani kehamilan tanpa kehadiran suami di sisinya.


Bram menyingkir dari tempat itu lebih dulu. Tanpa di sadari nya, Dewi mengikuti langkahnya.


*****


Bram menengadahkan pandangannya ke langit yang gelap tanpa bintang malam itu. Ia menghalau airmata yang akan tumpah. Pria itu menghela nafas berkali-kali, mencoba mengurangi sesak di dadanya.


Dari balik pilar rumah sakit, Dewi masih memperhatikannya. Dewi tahu, papanya kini tengah menangis. Itu terlihat, dari bahunya yang bergetar.


Kakinya melangkah mendekati. Saat jarak hanya tersisa satu langkah lagi, Dewi berhenti. Samar-samar, dia mendengar isakan yang keluar dari mulut Bram papanya.


"Maaf.... Maaf..." Dewi mengernyit mendengar permintaan maaf yang terlontar dari b**** papanya. Enyah untuk siapa permintaan maaf itu di tujukan.


Setelah Dewi merasa Bram lebih tenang, ia duduk di samping Bram. Bram yang melihat kehadiran Dewi, hampir saja terjungkal dari tempatnya duduk. Ia tak menyangka putrinya mengikuti dirinya.


"Kenapa disini nak?" tanya Bram.


"Tidak melihat Kiara?"


"Apa yang papa tangisi?" bukannya menjawab, Dewi justru balik bertanya. Pertanyaan yang memang sudah muncul sejak dirinya melihat sang papa menangis.


Selama ini, dia tak pernah melihat papanya menangis. Bahkan, saat mengetahui kematian Rianti dulu pun, airmatanya tak pernah mengalir.


"Kamu melihatnya?" Dewi mengangguk tanpa memandang papanya. Pandangannya menatap lurus ke arah taman rumah sakit.


"Keb****an papa dulu." kali ini, Dewi menatap wajah Bram.


Mungkinkah ini tentang mama dan aku? pikirnya.


"Papa menyesalinya. Menyesal tidak mendampingi mama mu saat dia mengandung mu sampai melahirkan mu. Meninggalkannya di saat dia membutuhkan kehadiran papa." kali ini, Dewi melihat jelas airmata itu.


"Maaf kan papa nak. Rasanya, selama ini papa belum minta maaf padamu dengan cara yang benar dan tulus." Bram menggenggam jemari tangan Dewi.


Dewi tersenyum. Dia menyandarkan kepalanya di d*** sang ayah.


"Dewi sudah lama memaafkan papa." ucapnya.


Ada rasa haru serta bahagia dalam hati Dewi, saat mendengar permintaan maaf Bram yang begitu tulus. Dewi juga tahu, Bram menyesali perbuatannya.


Tugas Dewi saat ini, adalah memaafkannya. Tidak ada gunanya mengingat kesalahan yang lalu. Namun, jika kesalahan itu membuat kita termotivasi untuk melakukan yang terbaik, justru akan memberikan efek yang positif.


"Terimakasih nak. Terimakasih." ucap Bram senang.


Dari balik pilar, Sofia ikut menitikkan airmata. Akan tetapi, tidak ada niatnya untuk kembali merajut asa bersama. Asa yang pernah mereka bangun.


Sofia memilih meninggalkan tempat itu lebih dulu.


"Papa ingin kembali pada mama?" Bram tertunduk malu.


"Entahlah. Papa tidak yakin mamamu mau." lirihnya.


"Sudah papa coba?" Bram menggeleng.


"Coba saja dulu. Meski belum tentu mama menerima papa lagi. Setidaknya, papa tidak akan kembali menyesal." ucapnya bijak.


"Wah.... Kamu benar. Doakan papa ya nak." Bram mengecup puncak kepala Dewi.


Mereka pun memutuskan kembali kedalam. Bram mengubah wajah sendunya, menjadi wajah yang ceria dan bersinar.


Kiara sudah di pindahkan ke ruang perawatan bersama bayinya. Bayi Kiara terlihat sangat menggemaskan. Dewi berdoa, semoga Tuhan berbaik hati memberikannya anugerah itu.