My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Brian Mengunjungi Sofia dan Dewi



Sudah lebih dari empat bulan Brian tak berkomunikasi dengan Sofia dan Dewi. Pagi ini, sebelum ia turun sarapan, Brian mengambil benda pipih miliknya di atas nakas dan mencari kontak Sofia. Ia mendialnya dan meletakkan benda itu di telinganya.


Namun, Sofia tak jua mengangkatnya. Brian tak putus asa, ia mencoba menghubungi nomor Dewi. Hingga panggilan dari mbok Siti, menghentikannya mencoba lagi.


Tut...Tut... Tut.... panggilan itu tak jua di jawab.


Tok... Tok... Tok... "Den, sudah di tunggu oleh Bapak sama ibu di ruang makan." panggil mbok Siti.


"Iya mbok, saya segera turun." sahutnya seraya mematikan panggilan tersebut dan menyimpannya dalam saku.


Saat di meja makan, Brian menutupi kegelisahannya. Ia mencoba berpikir positif tentang Sofia dan Dewi. Brian tak ingin, suasana kekeluargaan yang terasa hangat ini hancur karena ulahnya.


Sejujurnya, Brian sangat ingin tinggal bersama Sofia dan Dewi. Namun, setelah mendengar ucapan mamanya, Brian merasa tak ada lagi harapan untuk membujuk Sofia.


Brian, mama Sofia tidak akan kembali ke sini. Kemarin, mama menghubunginya. Setelah kami berbasa-basi, mama langsung menanyakan pertanyaan mu pada mama Sofia. Mama Sofia bilang, dia tidak akan pernah kembali tinggal di rumah kita. kata-kata Rianti terngiang di telinganya.


"Brian, apa yang kau pikirkan nak?" tanya Rianti. Rianti sudah memperhatikan Brian sejak ia duduk di meja makan tadi.


"Tidak ada ma. Brian hanya sedang memikirkan pekerjaan saja." jawabnya. Brian tersenyum pada Rianti.


"Kinanti kapan kembali ke sini ma?" tanya Brian. Ya, sudah sejak delapan bulan yang lalu, Kinanti melanjutkan studinya di luar negeri.


"Sampai dia selesai pendidikan S2 di sana." kali ini, Bram yang menjawab.


"Iya, dan Minggu depan, papa dan mama akan ke sana dan menemaninya." sambung Rianti. Brian mengangguk.


"Kenapa Dewi tidak papa suruh melanjutkan pendidikannya di sana juga?" tanya Brian asal.


Terdengar bunyi dentingan sendok yang di banting di atas piring. Seketika, Rianti dan Brian menatap Bram terkejut. Raut wajah Bram memerah menahan amarah.


"Mas.." Rianti mengusap punggung tangan Bram lembut. Tatapannya pun lembut.


Apa ada yang aneh dengan ucapan ku? Brian terkejut melihat reaksi papanya.


Bram pun menghela nafas dan menghembuskannya perlahan. Ia menutup kedua matanya untuk meredakan amarah yang sempat naik.


Setelahnya, Bram meninggalkan meja makan dan masuk ke dalam ruang kamar milik Sofia dulu. Setiap ia merasa tidak tenang dan menahan amarah, ia masuk ke kamar itu dan menenangkan dirinya. Saat keluar, seakan amarah yang sebelumnya ada, menghilang sudah. Dan ia memperoleh ketenangan.


"Brian, mama susul papa dulu ya. Jika kamu sudah selesai, langsung saja berangkat." BRI mengangguk. Rianti segera menyusul Bram.


"Aneh..." gumam Brian.


Setelah nya, Brian segera berangkat menuju kantornya bersama dengan Genta yang sudah menunggunya di depan.


••••••••


Rianti masuk ke dalam kamar yang di tempati Sofia dulu dan memeluk Bram dari belakang. Bram menoleh dan membiarkan Rianti memeluknya.


"Mas merasa bersalah?" tanya Rianti.


Bram sendiri tidak mengerti dengan perasaan tidak nyaman ini. Entah mengapa, ketika Brian menyinggung Dewi yang tak melanjutkan pendidikannya di luar negeri, Bram merasa tersinggung sekaligus tak berguna dalam mendidik Dewi, putrinya bersama Sofia.


Bram kembali mengingat, alasan Sofia yang tak memberitahunya akan kehadiran Dewi. Sofia, lebih memilih membesarkannya sendiri. Hatinya tiba-tiba berdenyut nyeri.


"Aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri." jawabnya. Rianti melepaskan pelukannya dan menatap sendu pada Bram. Terlihat jelas, ada luka yang Bram tampakkan dari matanya.


"Pelan-pelan saja mas. Suatu saat, mbak Sofi pasti akan memaafkan kita." Rianti turut merasa bersalah.


"Bukan itu masalahnya. Sejak bertemu dengan Dewi, Sofia tidak mengijinkan ku turut andil mendidik Dewi. Aku pernah meminta Sofia, agar Dewi di perbolehkan melanjutkan pendidikannya ke luar negeri bersama Kinanti. Tapi dia menolaknya." tutur Bram.


Sebagai perempuan, Rianti sangat tahu alasan Sofia melakukan itu. Jika dirinya berada di posisi Sofia saat itu, dia pasti akan melakukan hal yang sama seperti Sofia.


Rianti menekan dadanya. Seakan ia turut merasakan rasa sakit Sofia saat itu.


••••••••••


Keesokan harinya adalah akhir pekan. Brian memutuskan untuk meliburkan diri dari kegiatan bekerja. Ia menghubungi Jenny untuk me-reschedule jadwalnya. Dan Genta pun di liburkan.


Brian berencana mengunjungi Sofia dan Dewi ke desa. Setelah seharian kemarin, baik Sofia maupun Dewi, tak ada yang dapat di hubungi.


Setelah menghubungi Genta dan Jenny, Brian bersiap-siap berangkat. Ia tak memberitahu papa dan mamanya.


Brian mengendarai mobilnya menuju desa. Tiba di sana, Brian segera menuju rumah yang di tempati Sofia dan Dewi.


Tok... Tok... Tok... Brian mengetuk pintu. Tak lama, pintu di buka. Mbok Narti, terkejut melihat kehadiran Brian.


"Mbok, mama ada?" tanya Brian ketika melihat mbok Narti.


"Den Brian. Masuk den. Ibu ada di kamar." jawab mbok Narti.


Brian melangkah masuk. "Dewi kemana mbok?" tanya Brian.


"Non Dewi di kamar ibu." jawab mbok Narti singkat.


"Emang mama kenapa mbok?" tanya Brian.


"Den Brian masuk saja. Lihat sendiri keadaan ibu." jawaban mbok Narti, membuat jantung Brian berdegup kencang.


Sepertinya, kekhawatirannya kemarin benar-benar terjadi. Brian yang sempat terdiam dan terkejut selama beberapa detik, langsung tersadar dan melangkah cepat menuju kamar Sofia.


Ia mengetuk kamar itu perlahan. Tok... Tok... Tok...


"Masuk." terdengar suara Dewi dari dalam.


Tubuh Brian bergetar saat akan membuka pintu kamar Sofia. Pikirannya sudah melayang jauh. Ada rasa takut, serta cemas yang meliputinya.


"Ma..." panggil Brian yang melihat Sofia terbaring lemah di atas ranjang. Sofia dan Dewi menoleh dan terkejut melihat kehadiran Brian.


"Brian..." Sofia mencoba tetap tersenyum meski kondisinya sedang lemah.


Brian mendekati ranjang dan memegang jemari Sofia serta menciuminya. Air matanya menetes tiba-tiba.


"Sudah. Mama sudah lebih baik jangan menangis lagi." pinta Sofia.


"Ini salah satu alasan Brian menginginkan mama dan Dewi tinggal dengan Brian. Brian khawatir ma." Sofia tersenyum mendengar ucapan Brian. Perasaannya tersentuh dengan kasih sayang Brian yang tulus padanya.


"Anak nakal, kenapa kamu tidak hubungi kakak jika mama sakit?" Dewi terkekeh.


"Mama yang tidak ingin kalian tahu." jawab Dewi.


Pada akhirnya, Brian menemani Sofia di sana. Ada perasaan haru yang hadir di hati Dewi. Meski Dewi dan Brian lahir dari wanita yang berbeda, rasa sayang mereka, layaknya kakak adik kandung.


••••••••


Happy reading....


Thank you readers ku tersayang......


Love you😘