My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Amarah yang tertahan



Genta tiba di rumahnya setelah pukul tujuh malam. Biasanya, di jam ini keluarganya tengah makan malam bersama. Saat memarkirkan motornya, ia melihat mobil yang biasa di gunakan Sofia.


"Mama di sini?" gumamnya.


Ia melangkahkan kakinya masuk ke rumah. Baru saja pintu di buka, ia bisa mendengar tawa Dewi. Senyumnya merekah. Sesaat ia mengingat ci**** mereka beberapa hari yang lalu. Wajahnya berubah merah.


"Kakak kenapa berdiri di situ saja?" tanya Kiara heran. Genta mengusap da**nya terkejut.


"Kamu ngagetin kakak saja dek." ucapnya lirih.


"Kakak aneh. Masa ngelamun di depan pintu?" ejek Kiara. Kiara segera melangkahkan kakinya menuju meja makan.


"Suka-suka aku lah..." Kiara berbalik dan memandang Genta jengkel. Ia pun menjulurkan lidahnya dan membuang muka.


Genta terkekeh melihat sikap sang adik. Ia bergegas masuk ke kamarnya dan membersihkan tubuhnya sebelum bertemu dengan keluarganya. Lima belas menit kemudian, ia bergabung bersama mereka.


Genta duduk di samping Dewi. Dewi menatap Genta sekilas dan tersenyum. Sejujurnya, Dewi mati-matian untuk tidak terlihat canggung. Begitupun dengan Genta.


Selesai bercengkerama dengan keluarga Genta, Dewi berpamitan pulang karena hari pun sudah mulai malam.


"Pak, Bu, sudah malam, Dewi pulang dulu ya." ia bangkit berdiri dan mencium punggung tangan ibu dan bapak. Kemudian, ia mencium pipi kiri dan kanan Kiara.


Genta pun ikut berdiri saat Dewi selesai berpamitan. "Genta antar Dewi dulu ya pak, Bu."


Bapak dan ibu menganggukkan kepala.


"Loh kak, gak apa apa. Aku sendiri saja. Aku juga bawa mobil mama tadi." tolak Dewi saat Genta mengikutinya.


"Ini sudah malam sayang, aku gak mau kamu kenapa kenapa di jalan. Ayo." Genta menautkan jemarinya dengan jemari Dewi.


Dewi pun tersenyum dan mengikuti kemauan Genta. Mereka berjalan beriringan menuju mobil yang tadi Dewi bawa. Genta membukakan pintu samping kemudi untuk Dewi. Kemudian, ia memutari mobil dan duduk di belakang kemudi.


Mobil pun berjalan dengan kecepatan sedang. Dalam perjalanan, mereka hanya membicarakan keseharian mereka. Terkadang mereka saling menggoda satu sama lainnya.


Saat lampu lalu lintas berubah merah, mereka berhenti sejenak. Sambil menunggu lampu berganti, Genta melemparkan pandangan ke sekeliling arah. Tatapannya berhenti pada sosok wanita paruh baya di seberang sana.


"Nyonya Rianti?" gumam Genta yang masih terdengar oleh Dewi. Dewi mengikuti arah pandang Genta.


Dewi mengernyitkan dahinya melihat kejadian yang cukup jauh dari tempat mereka. Siapa laki-laki yang mendekati Tante Rianti? tanyanya dalam benaknya.


"Kakak tahu siapa pria itu?" tanya Dewi. Genta menatap Dewi sejenak kemudian menggeleng.


Mereka melihat adegan keributan yang ada di depan mereka itu. Hingga tak menyadari jika lampu lalu lintas sudah berganti warna. Para pengendara di belakang Genta, mulai tak sabar dan membunyikan klakson.


Genta dan Dewi tersentak. Kemudian, mereka berbelok ke arah Rianti dan pria itu. Mereka berhenti tak jauh dari mereka. Genta dan Dewi keluar dari mobil bersamaan.


"Kau pikir, hutangmu sudah lunas? Kau itu terlalu naif Rianti. Yang sebenarnya adalah, kau sudah dijual oleh saudaramu sendiri." pekik pria itu.


Seketika, tubuh Dewi dan Genta menegang mendengar pernyataan pria itu. Tidak hanya mereka, Rianti pun memiliki reaksi yang sama. Ia tak bisa menggerakkan tubuhnya. Entah mengapa, airmatanya ikut luruh saat mendengar kata-kata itu.


"Kau tidak percaya? Enam bulan yang lalu, Ranti malah meminta uang pemberian suamimu sebelum kalian menikah dulu. Jelas aku meminta jaminan padanya. Kau tahu apa yang dia katakan? Dia akan membuatmu bercerai dan di benci oleh anak-anakmu. Dia tidak peduli bagaimana nasibmu di tanganku.


"Meskipun dia tahu, kau hanya akan menjadi pelampiasan nafsu birahiku saja tanpa adanya pernikahan di antara kita." pria itu tertawa terbahak-bahak.


Tangan Genta mengepal erat di sisi tubuhnya. Kilat kemarahan pun terlihat jelas di kedua mata Dewi. Adakah saudara kandung yang setega itu? Kesalahan apa yang membuat Rianti harus membayarnya dengan seperti ini?


Apakah dengan menjadi istri kedua juga sebuah kesalahan? Tidak bisakah Tuhan menolongnya lepas dari serigala ini? Haruskah dirinya pasrah pada suratan takdir?


"Jika kau tidak mau, itu tidak masalah." seringai jahat muncul di wajah pria itu.


Rianti menghapus airmatanya dengan kasar. Ia menatap pria itu penuh harap. Mungkin saja, ia bisa bebas kali ini.


"Katakan." ucapnya setelah mendengar perkataan pria itu.


Pria itu melangkah mendekati Rianti Menundukkan kepalanya dan berbisik di telinga Rianti. Genta dan Dewi tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi, mereka cukup geram dengan tingkah Rianti yang berpura-pura baik.


Genta menarik tangan Dewi berbalik. Dewi menatap bingung saat Genta menariknya kembali ke dalam mobil. Genta membuka mobil dan meminta Dewi masuk ke dalam. Dewi menurut.


Setelah Genta duduk di belakang kemudi, ia menginjak pedal gas dan meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi. Pikirannya berkecamuk. Ada kemarahan yang menyelimuti jiwanya.


Ingin dia memaki dua orang tadi dan menghabisi mereka. Namun ia mati-matian menahan emosi yang tengah bergejolak itu. Ia tidak ingin bertindak gegabah. Jika sampai ia salah langkah, bukan hanya dirinya yang hancur, Dewi pun akan ikut hancur.


Dewi melirik Genta. Gadis itu bisa melihat wajah Genta yang memerah menahan amarah. Dewi mengernyit bingung. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Ingin dia bertanya, namun di urungkan nya. Dewi meremas seat belt nya dengan kencang.


Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di apartemen. Tidak ada pembicaraan. Genta mencoba menetralisir emosinya. Ia tidak ingin menakuti Dewi.


"Ayo turun. Aku antar ke atas." Genta mencoba tersenyum. Dewi menaikan pandangannya ke Genta.


Dewi membuka seat belt nya. Saat Genta ikut membuka seat belt, Dewi memeluk Genta dan terisak.


Apa dia tahu yang dibicarakan mereka tadi? Apa dia bisa membaca gerakan mulut pria tadi? wajah Genta pias seketika. Ada rasa takut yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Entahlah, dia tak bisa menjabarkan perasaannya.


"Kakak jangan berbuat seperti tadi ya." ucapnya di sela isak tangisnya.


Genta balas memeluk Dewi dan mengecup rambut Dewi. Airmatanya ikut luruh. D**anya terasa sesak. Hingga tanpa ia sadari, pelukannya terlalu erat.


Dewi masih terisak. Hingga kaos yang digunakan Genta sudah basah oleh airmata Dewi. Genta membiarkannya. Genta sendiri tak ingin kelihatan lemah di hadapan Dewi karena airmata yang tak bisa berhenti.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Bener gak sih genks, kalo cowok nangis itu pertanda lemah? Ayo, siapa yang pernah liat pasangannya nangis? Sebelum menikah ya.... And bukan karena di tinggal pergi selamanya ya....


Thanks genks buat support kalian.


Jangan lupa like, komen dan votenya ya genks....


Love you genks....😘