My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Makan Bersama?



Kinanti merasakan rindu pada ayah dan kakaknya. Sudah lama sejak ia kembali ke luar negeri, Bram dan Brian tak menghubunginya. Sepertinya, merek benar-benar di sibukkan dengan pekerjaan.


Kinan berulang kali meminta untuk melanjutkan studinya di ibukota saja. Namun, berkali-kali pula Rianti menolaknya. Kinan tahu, akan percuma jika dia hanya membujuk mamanya. Mamanya akan tetap pada pendiriannya.


Kinan memutuskan menghubungi Bram. Ia akan meminta papanya yang membujuk Rianti. Siang ini, Rianti sedang tidak ada di apartemen mereka. Kondisi ini di manfaatkan Kinanti untuk menghubungi Bram.


Panggilan itu masuk. Jika di tempatnya saat ini siang hari, seharusnya di tempat papanya tinggal sudah menjelang malam. Papanya pasti sudah pulang bekerja.


Tak lama panggilan itu di angkat.


"Halo sayang." sapa Bram.


"Pa, aku bosan di sini." Kinanti langsung bicara pada intinya.


"Jadi?"


"Apa aku boleh melanjutkan pendidikan ku di sana saja?" Bram terdiam. Kinanti menanti dengan cemas. Ia menggigit bibirnya.


"Oke. Semester depan kau akan pindah ke sini. Biar papa yang urus." Kinan tersenyum.


"Benar pa. Yes. I love you pa..." Kinan memberikan kecupan jauh pada Bram.


"Bagaimana kabarmu nak?" tanya Bram.


"Kinan dan mama baik kok pa. Kenapa papa dan kak Brian jarang menghubungi Kinan dan mama di sini?" Kinan bertanya dengan nada merajuk.


"Maafkan papa ya nak. Papa sangat sibuk. Begitu juga kakakmu."


"Kalau begitu, sudah dulu ya."


Panggilan pun mati. Kinanti merasa sedikit kecewa. Namun semua itu tergantikan saat ia mengingat jika dirinya akan segera kembali. Apalagi, semester berikutnya tinggal menunggu waktu kurang dari satu bulan.


•••••


Bram memutuskan panggilan internasional dari Kinanti. Saat ini, dirinya tengah berada di loby apartemen sahabatnya Pras dan mantan istrinya Sofia.


Kali ini, Bram ingin bertemu Pras. Ia segera menaiki lift dan menuju unit milik Pras yang berbeda dua unit dari unit milik Sofia. Tiba di lantai tersebut, Bram melangkah keluar dan menuju unit Pras.


Bram menekan bel. Tak lama, keluar seorang wanita yang Bram kenal sebagai istri Pras. Wanita itu tersenyum dan mempersilahkannya masuk. Ia memanggil suaminya.


"Bram, tumben ke sini." Pras duduk tepat di hadapan Bram.


"Ada yang mau aku tanyakan."


"Apa Sofia dan Dave sudah kembali bersama?" Pras mengangkat kedua alisnya. Kemudian pria itu tertawa.


"Hahahahaha.... Kau cemburu?" tanya Pras. Bram terdiam.


"Jika ku katakan Dave sedang melakukan pendekatan, apa kau percaya?" seketika tubuh Bram menegang.


Bram semakin terdiam seribu bahasa. Pras masih memperhatikan gerak tubuh Bram. Pras tahu, Bram tengah menahan kecemburuannya. Perasaan Bram pada Sofi, tak pernah mati sedikit pun. Pria itu hanya tersesat.


"Kau tahu, aku bisa melihat dengan jelas penyesalan yang tergambar di matamu."


"Kau bahkan tidak mencintai Rianti sedikitpun."


Pras berhenti sejenak seraya memperhatikan ekspresi Bram yang semakin sendu.


"Kenapa kau mempertahankan Rianti dan melepas Sofi?" tanya Pras penasaran.


Ia tak habis pikir dengan sahabatnya itu. Sejak dulu, Bram sudah mencintai Sofi. Namun, hanya karena masalah keturunan, Bram rela menggadaikan cinta itu.


"Kau tahu, dulu kalian bisa saja mengangkat anak. Daripada kau harus menikah lagi." Bram menatap Pras.


"Tapi aku ingin memiliki darah dagingku sendiri Pras. Bukan anak angkat." jawab Bram.


"Bukankah pada akhirnya Sofia memiliki anak? Cuma masalah waktu Bram." Pras menghela nafas kasar.


"Dave memang sedang berusaha mendekati Sofi."


"Kau masih menginginkannya? Kalau begitu, ceraikan Rianti." ucap Pras.


Bram terdiam. Bisakah ia melanggar janjinya pada orangtua Rianti dulu? Sebelum ayah Rianti meninggal, beliau sempat meminta Bram untuk 'menjaga' Rianti. Saat itulah Bram mengiyakan permintaan mertuanya.


Tapi memang seperti itu seharusnya. Dia tak bisa serakah dengan menginginkan keduanya.


Hingga larut malam, mata Bram tak jua terpejam. Ia memikirkan banyak hal. Menimbang setiap keputusan yang akan di ambil nya.


•••••••


Brian menyibukkan dirinya dengan setiap pekerjaan. Setelah pertemuannya dengan Patricia kemarin, moodnya berantakan total.


Hampir semua orang di jadikan pelampiasannya. Jenny, Bagas dan Genta pun tak luput dari rasa kesalnya. Brian tak mengerti dengan dirinya sendiri. Kenapa dia harus sekesal ini pada Patricia?


Cindy menghampiri meja Jenny. "Mba Jen, aku titip laporan ya." Jenny mendongak dan tersenyum.


"Bisa tolong kasih sendiri? Gue takut sama bos." ucap Jenny dengan suara lirih.


Cindy mengernyit heran. Ini bukan tugasnya berhadapan langsung dengan atasan. Apa tidak salah?


Intercom Jenny berbunyi. Terdengar suara Brian yang meminta di antarkan kopi. Jenny mengiyakan.


"Gue mau bikin kopi dulu. Lo masuk saja. Bye." Jenny meninggalkan Cindy yang melongo di tempatnya.


Cindy pun memberanikan diri memberikan laporan itu pada atasannya. Ia mengetuk pintu perlahan. Terdengar suara Brian yang menyuruhnya masuk.


Cindy mendorong pintu perlahan. Ia mengatur degup jantungnya yang tiba-tiba saja berubah cepat.


Brian menatap Cindy. Dahinya terlihat berlipat seperti bingung.


"Maaf pak, saya hanya ingin menyerahkan laporan pada bapak." ucapnya.


"Memang Jenny kemana?" tanya Brian. Pasalnya, karyawan divisi lain tidak pernah berhadapan langsung dengan Brian kecuali saat rapat.


"Mba Jenny gak ada di tempat tadi pak." ah, kenapa gue mesti bohong.... makinya dalam hati.


"Ya sudah. Mana sini." Cindy menyerahkan laporan itu.


"Oh iya, bisa temani saya makan siang?" Cindy membelalakkan matanya tak percaya.


"Saya pak?" tunjuknya pada diri sendiri. Brian mengangguk.


"Kenapa tidak bisa?" tanyanya.


"Bu–bukan gitu pak. Saya gak enak sama teman-teman yang lain." Cindy sebenarnya ingin menolak. Tapi ia takut.


"Tidak apa. Makan di ruangan saya saja."


"Jam makan siang, kamu harus sudah di sini. Kalau tidak, saya akan minta pengawal saya yang menyeret kamu ke sini."


"Saya permisi pak." Cindy bergidik ngeri mendengar ancaman atasannya.


Baru kali ini ada orang yang ngajak makan gue pakai ancaman. Ih... maksa pula... Cowok apaan begitu. Tapi kalau bukan karena dia nolong gue waktu itu, gue sih ogah makan bareng dia. Okelah hitung-hitung balas Budi. batinnya.


Saat jam makan siang, Cindy menepati janjinya untuk datang ke ruangan Brian. Jenny dan Bagas yang akan keluar sedikit heran melihat kedatangan Cindy.


"Lo ngapain Cin?" tanya Bagas.


"Bos ngajak makan siang bareng." jenny dan Bagas saling pandang.


Tak lama, terlihat Genta yang datang membawa bungkusan. Sepertinya, Brian sudah meminta pria itu nembawakan makanan ke ruangannya.


"Cindy? Ngapain Lo di sini?" Cindy menghela nafas kasar.


"Satu lagi yang punya pertanyaan seperti ini, bakal gue lempar piring sekalian." umpatnya.


"Bos ngajak dia makan bareng." jawab Jenny. Reaksi Genta, sama seperti Bagas dan Jenny tadi. Mereka terkejut.