My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Cemburu



Waktu terus berlalu. Tanpa terasa, sebentar lagi Genta akan melakukan wisuda. Genta memberi kabar pada keluarganya. Ibu dan bapaknya berjanji akan hadir. Sangat kebetulan, saat itu adalah libur sekolah bagi Dewi dan Kiara.


Karena momen ini, Sofia mengajak Kiara dan keluarganya berlibur sekalian ke ibukota bersamanya. Tidak lupa, mereka mengajak Puspa yang juga sahabat Kiara dan Dewi.


Sejak Rabu sore, Kiara sudah membereskan semua perlengkapannya dan orangtuanya. Dewi datang membantu Kiara berkemas.


"Sudah semua Ki?!" tanya Dewi yang sudah berada di depan kamar Kiara.


"Kayanya sudah Wi." Kiara masih mengecek satu persatu barang bawaannya.


"Kamu tuh, bawa barang kok kaya orang mau pindahan sih Ki?!" tanya Dewi.


"Ini itu, gak cuma baju aku. Ada baju bapak sama ibu. Kita kan sekalian liburan juga." Dewi menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, aku mau ke ibu sama bapak dulu ya." Kiara mengangguk.


Dewi meninggalkan Kiara yang masih mempersiapkan barang-barangnya. Di ruang tengah kedua orang tua Genta tengah berbincang.


"Ibu sama bapak lagi ngomongin apa sih? Kok kelihatan senang?" Dewi duduk di samping ibu.


"Bukan apa-apa nak. Ibu sama bapak hanya merasa, kalau waktu itu tidak terasa. Dulu, kami di anggap miskin dan tidak akan mampu membiayai anak-anak kami sekolah sampai Sarjana." Dewi memeluk ibu dari samping dan menyandarkan kepalanya ke kepala ibu.


"Tapi ternyata, kami berhasil menghantarkan Genta mendapatkan gelar sarjananya. Meski, bukan sepenuhnya kami yang biayai." ibu menitikkan air matanya mengenang saat-saat dulu. Saat keluarganya, menjadi bahan cemoohan.


"Ibu dan mama punya sifat yang sama. Lembut, penuh kasih, tulus, dan apa adanya. Dewi beruntung bisa kenal ibu dan keluarga." Dewi tersenyum tulus.


"Apa ibu tahu, bahkan Dewi bisa merasakan kasih sayang seorang ayah dari bapak."


"Ibu tahu kan, Dewi sangat jarang ketemu papa." ibu mengusap wajah mulus Dewi.


Dewi menitikkan air mata mengingat kehidupannya. Ibu yang melihatnya segera menghapus air mata Dewi dan memeluknya.


"Kamu yang sabar ya nak. Bapak yakin, suatu saat kamu pasti akan menemukan kebahagiaanmu." doa bapak.


••••••••••


Hari Jum'at pun tiba. Pagi hari, baik Kiara dan Puspa segera mempersiapkan diri dan segera membawa barang mereka ke rumah Dewi.


Semua barang bawaan mereka, sudah di masukan ke dalam bagasi mobil. Kiara dan Puspa, segera mengambil posisi bangku belakang. Ibu dan bapak Genta serta mbok Narti di bangku tengah.


Sofia menyetir mobil sendiri. Dewi menemaninya. Perjalanan yang cukup jauh, sungguh membuat mereka lelah. Beberapa kali Sofia memilih beristirahat.


Mereka tiba di ibukota, saat waktu sudah menjelang malam. Sofia mengajak mereka beristirahat di apartemen miliknya di ibu kota. Apartemen yang tidak di ketahui Bram, Rianti ataupun Brian.


Untungnya, apartemen milik Sofia cukup luas dan memiliki Empat kamar. Ruang kerja yang tak digunakan, di ubah sebagai kamar tamu dalam waktu singkat.


Mereka segera membersihkan diri, makan malam dan mengistirahatkan tubuh mereka. Esok hari, mereka akan menghadiri wisuda Genta bersama. Lebih tepatnya, hanya keluarga Genta dan Dewi saja.


Genta sudah di beritahu saat keluarganya sudah tiba dan beristirahat di apartemen kekasihnya.


"Pak, ini berkas yang seharusnya saya selesaikan besok." Brian menatap genta.


"Saya tahu. Kerjamu cukup bagus. Serahkan tugas pengawalan pada Rendi." perintah Brian.


"Sudah pak. Jika ada keadaan urgent, silahkan hubungi saya." Brian menganggukkan kepala.


"Apa bapak ingin kembali sekarang?" Brian melihat jam tangannya.


"Oke." jawabnya setelah melihat waktu di jam tangannya.


Mereka pun segera meninggalkan ruangan itu dan menuju parkiran. Setelahnya, Genta mengantarkan bosnya itu kembali ke rumahnya.


Dalam perjalanan, mereka hanya diam saja. Hingga tiba di rumah, tidak ada kata terucap. Brian sibuk membuka Ipad-nya.


Tugasnya kini selesai. Genta segera kembali ke kosannya dan mengistirahatkan tubuhnya. Mempersiapkan dirinya untuk hari esok.


••••••••••••


Genta segera menuju kampusnya. Keluarga dan kekasihnya akan langsung menuju kampusnya.


Tiba di kampus, Genta segera menunggu keluarganya di depan aula tempat wisuda berlangsung. Cindy dan Hana menghampirinya.


"Hai Gen." sapa Cindy dan Hana. Genta hanya tersenyum.


"Kok Lo gak masuk?" tanya Hana.


"Duluan saja. Gue masih menunggu keluarga" Cindy teringat pada adik Genta yang pernah membuatnya kehilangan kepercayaan diri selama beberapa hari.


"Oh..." mereka pun masuk lebih dulu.


Tak lama, kedua orang tuanya tiba bersama Sofi dan Dewi. "Selamat ya nak." Sofia memberi selamat lebih dulu. Ia memeluk Genta dan mencium pipi kiri dan kanannya.


"Terimakasih ya ma."


"Anak ibu, ibu sangat bangga sama kamu nak." ibu menitikkan air mata terharu.


"Iya Bu. Pak." Genta memeluk ibu dan bapaknya bergantian.


"Selamat kakak ku sayang." Kiara memeluk Genta.


"Terimakasih ya dek." Genta balas memeluk Kiara.


"Selamat ya kak. Semoga, ilmu yang kakak dapat bisa berguna di masa depan." ucap Dewi tulus. Dewi mengulurkan tangannya. Hal itu tak luput dari pandangan para orang tua dan Kiara.


"Peluk juga gak apa-apa kok kakak ipar." bisik Kiara.


"Hus..." Dewi memberi isyarat, jika dirinya merasa malu di depan orang tua mereka.


"Terimakasih. Setelah ini, akan ada kejutan untuk kamu." Dewi membelalakkan matanya.


Genta segera membawa mereka ke dalam, karena acara akan segera di mulai. Genta terlihat sangat gagah dengan jas dasi yang di gunakan. Di tambah dengan baju toga, membuatnya semakin menawan.


Banyak teman-teman wanita Genta yang menatap kagum padanya. Membuat Dewi cemburu. Rupanya, sang kekasih banyak di sukai para wanita.


"Kamu tenang saja, kakakku itu adalah pria setia." Kiara mencoba menenangkannya.


"Bukan setiap tikungan adakan Ki?" candanya. Kiara menatap horor pada Dewi.


"Enak saja. Gak lah. Aku tahu banget kak Gen itu sangat cinta sama kamu. Mana ada wanita lain yang bisa bikin dia senyam senyum kaya orang gila selain kamu." tutur Kiara.


Dewi terkejut mendengar pernyataan Kiara. Namun, tatapan kagum para wanita ini, tetap membuat risih hati Dewi. Seakan, Dewi tak ingin berbagi wajah tampan Genta pada siapa pun.


🌹🌹🌹🌹🌹


Hai readers ku sayang.... Bagaimana kabarnya hari ini?


Sabar ya sayang²nya aku.... Komennya seru-seru. Membuatku semangat. Sayangnya, waktuku benar-benar sulit di bagi dengan pekerjaan real life.


Baru sempat up sekarang.


Dan sekarang, rasa lelah sudah mendera ku. Hiks.. sedihnya aku cuma bisa up 1 malam ini.


Gak apa ya.


Jangan lupa like, dan komen ya sayangku.


Terimakasih buat semua bentuk dukungan kalian.


Night all...


I Love you so much....😘