My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Keputusan Bram



Pagi ini, langit terlihat mendung. Seakan mengiringi langkah kaki Bram. Bram sudah mengambil sebuah keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Setelah memikirkannya selama satu Minggu, Bram kini akan kembali dan memberikan jawaban atas pernyataan Rianti.


Cukup sudah baginya menyakiti Sofia dan Dewi. Pria yang sudah memasuki usia separuh abad itu, tidak ingin menyakiti Rianti juga. Wanita, yang menemani hampir separuh masa hidupnya.


Mang Joni selaku supir pribadi Bram, segera melajukan mobil yang di kendarai nya menuju ibukota. Bram meminta mang Joni, mengubah tujuannya sebelum bertemu dengan Rianti.


Pria itu, akan menemui seseorang lebih dulu. Bram tiba di sebuah restoran yang menyediakan ruang privasi bagi pelanggannya. Restoran ini, menyediakan masakan luar dan dalam negeri.


Saat masuk ke dalam Resto, Bram di sapa oleh seorang waiters. Bram mengatakan jika dirinya sudah di tunggu di salah satu ruangan privasi. Waiterspun mengantarkannya ke ruangan yang memang sudah di pesan.


Setelah melewati beberapa ruang, waiters membukakan pintu ruangan yang dituju Bram. Bram masuk dan segera menutup pintu.


"Selamat siang pak Bram." sapa pria yang terlihat lebih tua dari Bram. Pria itu menjulurkan tangannya, hendak menjabat tangan Bram.


"Siang pak." balas Bram. Bram pun menyambut uluran tangan pria itu. Kemudian mereka duduk berhadapan.


"Terimakasih pak James mau menemui saya." ucap Bram.


"Tentu saya akan menemui bapak. Bapak adalah salah satu klien saya." jawab pria yang bernama James itu ramah.


Mereka mulai terlibat obrolan ringan hingga Bram, menyampaikan maksudnya memanggil pria itu.


"Maksud saya memanggil bapak adalah, untuk mengalihkan saham milik saya pada putri kandung saya Dewi." pria itu menggunakan kacamatanya dan mencatat poin-poin penting dalam pembicaraan mereka.


"Serta, satu villa yang terletak di jl x di desa...." imbuh Bram kemudian.


"Oh ya, satu hotel dan satu resort di pulau A atas nama Dewi Adianna." pria itu menatap Bram tak percaya.


"Maaf pak saya menyela. Bukankah resort di pulau A, adalah resort termewah dan terbesar milik anda? Bahkan, keuntungan dari resort itu jauh lebih besar dari resort dan hotel lainnya." Bram mengangguk.


"Resort pertama yang ku bangun. Aku ingin, putriku yang memilikinya." ucap Bram. Pria itu hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Setelah urusan dengan pria itu selesai, Bram segera kembali ke kediamannya. Empat puluh lima menit waktu yang di tempuhnya dari restoran tadi.


Tiba di kediamannya, Bram mendapati tempat itu sepi tanpa penghuni. Ia memanggil mbok Siti.


"Mbok Siti..." panggilnya. Mbok Siti yang mendengar panggilan itu, segera menemui tuannya.


"Iya pak. Ada yang bisa mbok bantu?" tanya mbok Siti sopan.


"Ibu sama anak-anak kemana? Kenapa sepi?" tanyanya.


"Ibu dan non Kinanti, sedang keluar pak. Den Brian, pergi bersama mas Genta ke desa tempat ibu Sofi." jawabnya.


Bram terkejut mendengar Brian ke tempat Sofi. Ada perlu apa putranya itu menemui Sofi? pikirnya saat itu.


"Oh iya, mulai sekarang panggil Genta seperti kamu memanggil Brian ya. Dia calon menantu saya." ucap Bram seraya bangkit dari duduknya dan menuju kamarnya.


"Iya pak." jawab mbok Siti.


Bram segera membersihkan dirinya. Setelah mandi, tubuhnya terasa segar. Ia turun dan menuju ruang kerjanya.


Kinanti yang melihat kehadiran ayahnya segera berlari memeluk Bram dengan erat. "Papa... Kinan kangen banget...." ucapnya manja.


Bram mengecup puncak kepala Kinanti dan membelai rambut panjang putrinya itu. "Mandi sana. Kamu bau asem." ejek Bram. Kinanti segera memonyongkan bibirnya.


Ada kerinduan yang terpancar dari kedua bola mata Rianti. Namun, sekuat tenaga ia tahan. Wanita itu begitu rindu untuk menyentuh pria yang sudah menjadi suaminya itu selama lebih dari dua puluh tahun.


"Ikut aku ke ruang kerja." ucap Bram tanpa ekspresi setelah Kinanti menuju kamarnya.


Rianti menghela nafas. Jantungnya berdebar kencang. Ada firasat buruk yang menghinggapi dirinya. Sejujurnya, ia ingin lari sekarang. Ingin dia menulikan telinganya dari kata-kata Bram yang akan terucap.


Bram membelakangi Rianti. Rianti meremas jemarinya menunggu ucapan Bram. Bram berbalik dan menatap Rianti. Rianti menelan salivanya berat, mendapati tatapan Bram padanya.


"Ada apa mas." Rianti lebih dulu memecah keheningan di antara mereka.


"Apa kau masih ingin tahu siapa yang menempati hatiku?" jantung Rianti semakin berdegup cepat.


"Aku takkan membohongimu. Hatiku, sepenuhnya hanya milik Sofi." kesedihan langsung terpancar jelas di mata Rianti.


"Tapi, aku tidak bisa menceraikanmu." Rianti mengerutkan dahinya.


"Apa maksudmu mas. Kau tidak mencintaiku. Jadi, kenapa kau menolak menceraikanku?" tanyanya.


"Itu janjiku pada ayahmu sebelum beliau wafat." airmatanya tak tertahan.


Sakit sekali hati Rianti mendengar ucapan Bram. Bram mempertahankannya hanya karena janji, bukan cinta. Sejak awal, Rianti sudah tahu akan hal ini. Namun, wanita itu masih berharap Bram memberinya sedikit rasa cinta. Meski hanya setitik.


Sayang, semua hanya angannya saja. D**a Rianti terasa sesak sekali. Beberapa kali ia memukul d**anya. Namun rasa sesak itu tak juga menghilang.


Bram memeluknya. "Maaf. Tapi aku sudah memutuskan akan mendampingi mu meski aku tak bisa memberi cintaku padamu." Rianti terisak.


Apa salahku Tuhan, kenapa kau berikan padaku pria ini? Sedikitpun dia tak mencintaiku. Tapi dia pun tak ingin melepasku. Janji dia bilang...? Aku sungguh benci pria ini. Sangat membencinya. Ingin sekali aku memukulnya. Tidak tahukah dia aku juga membutuhkan cintanya? Dasar pria egois..


Rianti mendorong Bram dan berlari meninggalkannya. Beruntung, Kinanti tidak melihat kondisinya yang menangis. Entah apa yang akan terjadi jika gadis kecilnya melihat.


Bram membenamkan wajahnya di telapak tangannya. Berulang kali mengatakan pada dirinya, jika keputusannya sudah tepat.


Jika ia melepas Rianti, maka dia akan menjadi pria yang tidak bertanggung jawab. Dia sudah mengingkari janjinya pada Sofia. Dia tak ingin lagi mengingkari janji yang di buatnya pada ayah mertuanya dulu, sebelum meninggal.


Bapak titip Rianti ya Bram. Jaga dan sayangi dia sama seperti kau menyayangi istri pertamamu. Jangan pernah tinggalkan dia. Ucapan itu kembali terngiang di telinganya.


"Maafkan aku Rianti. Aku akan tetap menahanmu di sisiku. Maaf, karena hatiku telah di isi oleh Sofia. Maaf, karena namamu tidak terukir di hatiku." gumamnya sendiri. Bram menyugar rambutnya.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Hai-hai readers ku tercinta.... Bagaimana kabarnya hari ini?


Jangan lupa like, komen dan votenya ya.... Thank you buat kalian yang masih sabar menunggu kelanjutan ceritaku.


Love you all๐Ÿ˜˜