
Hari berganti hari, Dewi kini mulai kembali seperti semula. Dukungan dari para sahabat dan mamanya serta cinta dari pria yang di sayangnya, seakan sudah mengembalikan jati dirinya.
Dengan penuh kesabaran, Kiara dan Puspa selalu mengalihkan pikirannya dari rasa kecewa. Kehadiran genta pun seakan memberinya semangat. Brian pun ikut memberi semangat meski terkadang, dirinya merasa tidak layak berada di sana.
Terlebih saat Brian mendengar kisah perjalanan rumah tangga Sofi dan Bram yang ternyata, Rianti, yang adalah ibu kandungnya, turut andil dalam menyakiti hati Sofi dan Dewi.
Brian merasa malu memiliki ibu yang menjadi penyebab ketidak bahagiakan Sofi dan Dewi. Sofi sendiri sudah menasihati Brian, bahwasanya, masalah ini tidak sepenuhnya salah dari Rianti.
Andai saja Bram tidak egois, andai pria itu juga menjaga hati Sofi, semua ini tidak akan terjadi. Baik Sofi maupun Rianti, tidak akan terjebak dalam posisi itu.
Sofia mengatakan, jika dirinya memaklumi perasaan Rianti sebagi wanita pada Brian. Namun hal itu di anggap berbeda oleh Brian. Brian merasa malu di hadapan Sofi dan Dewi. Ia merasa tidak pantas berada di tengah-tengah mereka.
Saat ini, Brian dan Genta sudah dalam perjalanan kembali ke ibukota setelah Dewi membaik secara emosional. Brian lebih banyak diam. Hal itu tak luput dari perhatian Genta.
"Bapak kenapa?" tanya Genta.
"Gak usah terlalu formal kalau cuma kita berdua." pinta Brian.
"Maaf kak." Brian mendesah.
"Kakak da masalah?" tanya Genta lagi.
"Aku malu." Brian menunduk dalam. Genta mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Brian.
"Malu? Alasannya?" tanyanya tak mengerti.
"Kamu sudah dengar cerita mama Sofi kan?" Brian menatap Genta melalui ekor matanya.
"Kalau aku boleh kasih saran, kak Brian tidak perlu ikut campur urusan itu. Karena itu adalah urusan orang tua." saran Genta.
"Kau benar. Tapi aku tidak mengerti dengan perasaanku. Entah kenapa, aku merasa tidak nyaman di dekat mama Sofi dan Dewi setelah mendengar cerita itu." Brian menarik nafas berat dan menyandarkan kepalanya kebelakang.
Genta memahami perasaan Brian. Sejujurnya, ia pun merasa geram atas tindakan Bram dan sikap Rianti selama ini. Rianti terlihat acuh tak acuh saat mengetahui Sofi dan Bram sudah memiliki Dewi. Apalagi, sikap Rianti yang terlihat dominan pada Bram.
Mungkin benar apa yang di katakan Sofi pada Genta. Rianti, sudah terlalu mencintai Bram hingga tak ingin berbagi. Entahlah, Genta pun tak ingin menduga-duga. Bagaimanapun, kehidupan Sofi dan Bram, memberinya pelajaran hidup.
Dalam hatinya Genta berjanji, apapun yang terjadi pada rumah tangganya kelak, ia akan selalu berada di sisi Dewi. Genta tidak ingin, kehidupan yang sama terulang kembali.
•••••••••
Waktu terus berlalu. Kinanti sudah kembali ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan nya bersama Rianti. Bram kini bersikap semakin dingin dan tak menghiraukan Rianti.
Meski status mereka menikah, namun sikap Bram terlihat seperti pada orang lain terhadap Rianti. Rianti merasa sangat sedih, namun tak bisa berbuat apa-apa.
Tidak hanya Bram yang bersikap dingin pada Rianti, Brian pun bersikap sama padanya. Brian yang terlanjur kecewa pada ibu kandungnya itu, memilih diam dan tak banyak bicara pada Rianti.
Hingga akhirnya, Rianti memilih mengikuti Kinanti di bandingkan berada di sisi dua pria yang di cintainya. Ia tak sanggup menghadapi tatapan dingin dan kecewa dari sang putra, dan sikap dingin sang suami.
Brian tenggelam dalam kekecewaan dan kesedihan. Pria itu semakin kecewa ketika mendapati ibu kandungnya tak ada niat untuk menemui Sofi dan meminta maaf. Brian memilih tenggelam dalam pekerjaan.
•••••••
"Maaf pak, sebaiknya rapat malam ini di tunda besok siang saja." saran Genta. Pasalnya, malam ini akan ada rapat bersama CEO dari PT. Future Furniture.
Mereka akan mengadakan kontrak kerjasama. Dimana Wijaya Group, akan menggunakan furniture dari PT tersebut untuk hotel yang baru saja selesai di bangun di pulau B.
"Tidak apa. Aku juga tidak ada kegiatan ataupun janji." tolak Brian.
"Tapi pak..." Brian menatap Genta kesal.
"Aku tahu. Tidak masalah. Kau pulang saja." Brian kembali fokus pada berkas di hadapannya.
Tepat pukul enam sore, Genta, Brian dan Jenny segera menuju restoran yang sudah di reservasi oleh Jenny. Rapat akan di mulai tepat pukul tujuh malam.
Empat puluh lima menit waktu yang di tempuh, akhirnya mereka tiba. Gadis yang menjadi CEO dari PT. Future Furniture, sudah tiba lebih dulu. Gadis itu menyunggingkan senyum termanisnya pada Brian.
Genta menatap tajam pada gadis itu. "Hati-hati pak. Gadis ini, selalu mencari celah untuk menjatuhkan anda. Jangan sampai anda terjebak." Brian tak merespon.
Mereka memulai rapat. Jenny dan Genta fokus pada berkas perjanjian. Memperhatikan isi dari perjanjian itu, hingga tidak ada yang di rugikan.
"Bagaimana tuan Brian, sama-sama di untungkan bukan?" tanya gadis itu.
"Tunggu sebentar biar asisten dan sekertaris saya memeriksanya." jawab Brian dingin.
Setelah memeriksa secara seksama, Genta dan Jenny menjamin, tidak ada yang salah dengan surat perjanjian kerjasama itu. Brian pun menandatanganinya.
"Aku tidak akan menjebak mu melalui kerjasama. Tapi, aku masih menginginkan dirimu Brian. Kau selalu saja menolakku." gadis itu bangkit berdiri dan mendekati Brian. Namun Genta segera menghadang langkahnya.
"Oke..." raut wajah gadis itu berubah kesal.
"Kalian benar-benar menghancurkan rencana ku. Menyebalkan." batin gadis itu.
"Nona Jasmine, saya berterimakasih karena anda tidak berniat menjebak saya. Tapi, saya akan tetap menolak anda. Karena saya tidak mencintai anda. Saya tidak berniat melakukan pernikahan politik." Brian bangkit berdiri dan segera keluar dari restoran itu.
Gadis bernama Jasmine itu menggigit bibirnya kesal. Sejak masa kuliah, gadis itu sudah mencintai Brian, namun selalu di tolak olehnya. Bahkan, gadis yang menjadi masa lalu Brian pun, di buatnya menyingkir. Beberapa kali, gadis itu berusaha menculik Brian demi membuat pria itu menjadi miliknya. Namun selalu gagal. Genta selalu berhasil menggagalkan rencananya.
Jasmine menghela nafas kasar. Hatinya begitu kesal pada sikap Brian yang selalu dingin padanya. Padahal, Brian dulu adalah pria yang lembut sebelum dirinya di tinggalkan kekasihnya yang juga sahabat dan saudara tiri Jasmine.
"Kau belum bisa move on dari Cia ya Brian?" gumamnya.
"Akan ku buat kau menjadi milikku bagaimanapun caranya. Aku tidak ingin, usahaku yang sudah menyingkirkan Cia menjadi sia-sia." rencana jahat semakin timbul di hatinya.
Apakah rencana Jasmine akan terlaksana? Dapatkah kali ini, Genta melindungi Brian kembali? Rencana apa yang akan menghancurkan Brian?