My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Kedatangan Brian



Satu tahun lebih sudah berlalu sejak Kinanti kembali ke ibu kota. Kini, Brian pun kembali setelah pendidikannya selesai. Ia akan segera mengambil alih perusahaan milik papanya 'Wijaya Group'.


Namun sebelum itu, ia harus mulai dengan jabatan wakil direktur.


Bertahun-tahun di negeri orang, membuatnya rindu dengan tanah air. Terutama keluarganya. Jika di tanya kekasih, Brian akan menjawab 'tidak ada'. Karena ia lebih ingin membahagiakan keluarganya.


Tiba di ibu kota, Brian tak langsung menuju kediaman Wijaya. Ia lebih memilih mengunjungi Dewi dan Sofia lebih dulu. Bukan ia tak merindukan papa, mama atau pun adiknya, namun untuk bertemu Dewi dan Sofia, butuh waktu lama lagi.


Untung saja, ia tidak memberitahukan kepulangannya pada papanya. Meski ia tahu, sebentar lagi papanya akan mengetahui kepulangannya.


Brian segera menyewa mobil pribadi untuk dia bawa ke tempat adiknya. Tubuhnya yang lelah, tak di hiraukan nya. Rasa rindu terlalu merajai hatinya. Bahkan, senyumnya terus mengembang sepanjang perjalanan.


Tidak sampai tiga jam, Brian tiba di rumah Sofia. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam saat ia tiba di rumah yang di tinggali Dewi dan Sofia.


Jantungnya berdetak cepat. Ia melangkah ke depan pintu dan mengetuk. Tok..tok..tok..


Brian terus tersenyum dan menunggu. Hingga tak lama, pintu pun terbuka menampakkan Sofia.


"Brian?" Sofia terkejut melihat Brian. Sofia menariknya dan memeluknya.


"Brian kangen mama." ucap Brian membalas pelukan Brian.


"Mama juga sayang." Sofia mengusap punggung anak laki-laki kebanggaannya. Meski Brian tidak terlahir dari rahimnya, Sofia tetap mencintainya seperti dia mencintai Dewi.


"Ayo masuk sayang, Dewi lagi makan malam di dalam." ajak Sofia. Brian melangkahkan kakinya kedalam.


Dewi makan malam dengan tenang. Ia belum menyadari kedatangan Brian karena membelakanginya. Brian memberi isyarat agar Sofia dan mbok Narti yang melihatnya diam. Mbok Narti, segera mengangguk dan melangkahkan kaki menuju dapur. Sementara Sofia, tersenyum melihat kelakuan anak laku-lakinya yang cukup jahil.


Brian menutup mata Dewi dengan kedua telapak tangan besarnya. Dewi tersentak. "Siapa sih? Gak lucu ya main tebak-tebakan gini." ucap Dewi dengan nada ketus.


Sofia tertawa melihatnya. "Siapa sih ma?" tanya Dewi pada Sofia.


"Kamu tebak dong." Sofia tak membantu Dewi sedikitpun. Dewi mendengus sebal.


"Coba kamu hirup bau parfumnya, raba tangannya, atau apalah yang membuat kamu bisa menebak itu siapa." saran Sofia.


Dewi terlihat berpikir. Sedetik kemudian, ia mencoba mengendus bau parfum orang itu.


"Dari parfumnya, ini cowok kan?" Sofia terdiam. Namun senyumnya tak kunjung hilang.


"Tangannya halus?!" clue berikutnya Dewi sebutkan. "Dewi tahu, yang iseng begini sama Dewi itu cuma kak Brian. Benarkan?!" tebak Dewi.


Brian melepaskan tangannya dari mata Dewi dan terkekeh. Kemudian, ia menarik kursi di samping Dewi. Tersenyum memandang wajah adiknya itu. Dewi sendiri memukul pelan lengan kakaknya.


"Lama banget tebaknya." Brian berpura-pura merajuk.


"Ya, kan Dewi sudah lama banget gak ketemu kakak. Salah sendiri, di negeri orang kok ya betah lama-lama?" kali ini Dewi yang merajuk.


"Kata siapa betah?" Brian menyuapkan makanan Dewi kemulutnya.


"Ambil sendiri kak." Dewi merasa kesal.


"Kakak maunya itu." ucap Brian enteng.


"Manja..." Dewi menggelengkan kepala. Brian tertawa melihat ekspresi Dewi.


"Mama bikinin mau nak?" tanya Sofia.


"Boleh ma. Tapi mama suapi aku ya?" pinta Brian.


"Kak, gak malu sama umur?" Dewi terkejut mendengar penuturan Brian yang minta di suapi oleh mamanya.


"Gak." Sofia hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Iri?" mata Dewi melebar mendengar ucapan Brian. Kemudian bergidik geli.


"Gak usah bohong kalau iri." sindir Brian.


"Ih... Ternyata, seorang Brian Wijaya itu manja luar biasa. Pantas saja, gak ada cewek yang mau." ejek Dewi.


"Sembarangan." ucap Brian galak. "Kamu tahu gak.." belum selesai Brian mengatakannya, Dewi sudah memotongnya.


"Gak tahu, dan Dewi gak mau tahu." Ia bangkit berdiri dan meninggalkan meja makan.


"Dasar gak sopan." teriak Brian.


"Kalian ini, kalau jauh saja ngobrolnya kaya orang pacaran. Giliran dekat, gak bisa akur. Kecuali waktu kalian kecil." ucap Sofia seraya mengenang masa kecil mereka.


"Gak apa apa ma, yang penting kami saling sayang." senyum Brian mengembang. Ia pun merangkul pundak Sofia dan menempelkan kepalanya di kepala Sofia.


Selesai makan, Sofia mulai membereskan meja makan di bantu mbok Narti. Brian duduk di ruang tengah sambil memainkan ponselnya.


Ponselnya berdering di saat Sofia duduk di sampingnya. Sofia bisa melihat nama orang yang menelpon anak laku-lakinya itu. Brian terdiam. Sofia menatap Brian yang masih menatap ponselnya.


"Kenapa gak di angkat?" tanya Sofia.


Brian tersenyum kaku. "Papa cepat banget tahunya?" Sofia mengernyitkan dahinya bingung. Brian pun mengangkat teleponnya.


"Halo pa.." jawabnya.


"Kamu itu bukannya kasih tahu kalau pulang malah diam-diam saja." Brian mengusap tengkuknya. Sofia menghela nafas melihatnya.


"Kenapa? kok diam?" tanya Bram.


"Gak ada pa. Brian cuma mau ketemu Dewi dan mama Sofi duluan." Brian memberi alasan.


"Jadi kamu sudah di sana?"


"Iya pa."


"Ya sudah. Besok kamu harus langsung kembali ke ibu kota ya. Mama mu sangat khawatir."


"Iya pa." telepon pun mati.


Sofia sudah menggeleng melihat tingkah putranya ini. Sementara Brian sudah tersenyum kaku. Sofia memang tak bisa marah pada putra kesayangannya. Sebesar apapun kesalahannya, ia tak bisa memarahinya.


Brian melangkah menuju kamar adiknya. Kebetulan, saat itu Dewi tengah ber-video call dengan Genta. Hingga membuat Brian hanya mendengarkan obrolan mereka tanpa jadi masuk kedalam.


Brian tak menyangka jika adiknya itu, sudah mulai mengenal cinta. Ia hanya menggelengkan kepalanya dan meninggalkan kamar adiknya.


Esok hari, sebelum Dewi berangkat sekolah, Brian berpamitan sekalian ia mengantar Dewi ke sekolahnya. Dewi pun setuju. Brian berpamitan pada Sofia dan memeluknya.


"Kamu hati-hati ya nak. Salam buat mamamu dan papa serta Kinanti." ucap Sofia.


"Iya ma. Mama gak niat kembali ke ibu kota?" tanya Brian seraya melepaskan pelukannya.


"Mungkin nanti saat Dewi kuliah. Sabar ya. Tinggal satu tahun lagi." Brian tak bisa memaksa Sofia.


Akhirnya, Brian dan Dewi masuk ke dalam mobil dan segera menuju sekolah Dewi. Di perjalanan, Dewi tak melihat keberadaan dua sahabatnya. Mungkin mereka sudah berangkat lebih dulu. Karena hari ini, Dewi sedikit lebih siang dari biasanya.


Tiba di sekolah, Dewi memeluk kakaknya dan terisak. Merasa sedih karena harus berpisah lagi.


"Kakak pulang dulu ya. Lain kali, kakak datang lagi." Dewi mengangguk.