
Pesta kini telah usai. Bram dan Cindy mulai bertolak menuju bandara untuk melakukan perjalanan honeymoon mereka. Setelah mobil yang di tumpangi Brian dan Cindy melesat, semua keluarga besar mereka meninggalkan tempat itu.
Bram melangkah dan mengajak Kinanti untuk segera kembali. Tubuhnya terasa amat lelah. Bukan hanya itu saja, pikirannya pun terasa amat lelah.
Sedari awal, matanya terus mencuri pandang pada Sofia. Namun hati dan pikirannya selalu mengingatkan kesalahan yang di perbuatanya pada wanita itu. Hingga Dewi mengucapkan permohonannya, semakin membuat dirinya dilanda kebimbangan.
Baru saja Bram dan Kinanti melangkah, Dewi memanggil dirinya. Keduanya segera berbalik menatap Dewi. Kinanti tersenyum. Dewi pun menghampiri mereka.
"Boleh Dewi dan mama ikut mobil papa?" tanyanya.
Bram terdiam tak menanggapi. Melihat wajah penuh permohonan Dewi, membuat dirinya tak sampai hati menolak. Belum sempat Bram menjawab, Sofia menegur Dewi.
"Dewi, kita naik taksi saja. Papa pasti lelah. Biarkan dia beristirahat." ucap Sofia lembut.
Bram melirik sekilas ekspresi yang di tampilkan Sofia. Wajahnya menyiratkan jika dirinya tak ingin mengganggu Bram saat ini.
"Ayo." ucap Bram.
Sofia dan Dewi berpandangan. Sementara Bram sudah berjalan dua langkah di hadapan mereka. Seakan berbicara melalui bahasa tubuh, Dewi dan Kinanti hanya terlihat menggeleng atau menggerakkan mata.
"Kenapa diam? Jadi papa antar?" tanyanya.
Dewi tersenyum manis dan mendahului Sofia melangkah. Ia merangkul lengan Bram dan menyandarkan kepala di bahu ayah kandungnya itu. Sofia masih terdiam di tempat. Kinanti berinisiatif merangkul lengan ibu tirinya itu dan mengajaknya ikut ke mobil Bram.
"Ayo Tante." Kinanti tidak berani memanggil Sofia mama seperti Brian memanggilnya.
Sofia tersenyum. "Mama. Panggil saja mama." pintanya.
Mata Kinanti sudah berkaca-kaca mendengar ucapan Sofia. Refleks, Kinanti memeluknya dan menangis haru. Sofia pun mengusap punggungnya dengan sayang.
"Mama, Kinanti, ayo." Dewi yang menoleh ke belakang, melihat Sofia dan Kinanti masih terdiam di tempat.
Sofia dan Kinanti pun melepaskan pelukan mereka dan tersenyum. Mereka pun mulai melangkahkan kaki mengikuti Bram. Ada rasa bahagia yang menelusup ke relung hati Kinanti. Mendapati kelembutan Sofia yang melebihi ibunya dulu.
Bram pun mengantarkan Sofia dan Dewi ke apartemen. Dalam perjalanan, Bram hanya terdiam mendengarkan pembicaraan antara Sofia, Dewi dan Kinanti. Terkadang pria itu akan tersenyum mendengar candaan yang mereka lontarkan.
Tiba di apartemen, Dewi mencium pipi Bram. Pria itu sedikit terlonjak mendapat ciuman itu di pipinya. Pasalnya, ini pertama kalinya Dewi melakukan itu. Bram pun tersenyum.
"Jangan lupa ya pa." Bram pun menegang.
Ia kembali teringat permintaan Dewi di pesta tadi. Bram terkekeh seraya menggelengkan kepalanya. Merasa jika putrinya mulai bisa merayu dirinya.
Sofia keluar lebih dulu dan tak mendengar Dewi mengucapkan hal itu. Selanjutnya Dewi pun keluar dan mengedipkan sebelah matanya pada Bram. Setelahnya, Bram pun melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkir apartemen itu.
"Kinan setuju dengan permintaan kak Dewi." Bram melirik sekilas pada putri bungsunya dan tersenyum. Kinan pun turut tersenyum.
*****
Bram merebahkan dirinya dan kembali mempertimbangkan permintaan Dewi padanya.
Oke, aku akan coba lagi. Tapi, jika kali ini Sofia menolak ku, aku akan mundur. gumamnya dalam hati.
Keesokkan harinya, Bram datang ke apartemen Sofia pagi-pagi sekali. Ia pun sudah membawa sebuah kotak makan yang sudah terisi makanan. Bram memijit bel apartemen tersebut.
Tak butuh waktu lama, pintu terbuka. Menampakkan Sofia yang terlihat baru saja mandi.
"Masuk." Sofi mempersilahkannya.
Bram menuju meja makan dan mulai menata makanan yang di bawanya. Sofia mendekat dan melihat makanan itu. Ia terkejut dan menatap Bram.
"Kamu heran? Aku masih ingat semua." ucap Bram balas menatap Sofi masih dengan binar cinta.
Tak lama Genta dan Dewi keluar kamar. "Pa.." Genta menghampirinya dan mencium punggung tangan Bram.
"Pagu pa..." sapa Dewi dan melakukan hal yang sama dengan suaminya.
Dewi menatap penuh minat pada makanan yang terhidang di meja. Rasanya, liurnya sudah akan menetes melihat makanan yang begitu menggugah selera nya itu.
"Siapa yang masak ma?" tanya Dewi seraya menarik kursi di dekatnya.
"Tanya papamu." ucap Sofi. Ia beranjak menuju dapur untuk mengambil piring dan sendok, serta gelas untuk mereka.
"Papa beli? Sepagi ini, restoran mana yang sudah buka?" tanya Genta. Pria itu turut menarik kursi di samping Dewi.
"Papa masak sendiri." Dewi dan Genta menatap Bram terkejut. Pria itu dengan santai ikut duduk di sana.
Dari arah dapur, Sofia menatap dan tersenyum ke arah meja makan itu. Pemandangan yang begitu di rindukannya sejak dua puluh tahun lebih yang lalu. Ia melangkah mendekati mereka.
"Kamu tahu, sejak dulu papamu sangat pintar memasak. Masakannya, bahkan lebih enak dari masakan mama." ucap Sofi membanggakan Bram.
Wajah Bram memerah malu mendengar pujian Sofia. Tak menyangka, jika wanita itu masih mengingat masakannya.
"Benarkah?" jawab Dewi dan Genta bersamaan.
Dewi mulai menyendok kan nasi goreng ke dalam piringnya. Ya, Bram hanya membawa menu sederhana. Meski begitu, terlihat menggugah selera makan Dewi yang seperti roller coaster belakangan ini.
"Hmm..." Dewi dan Genta mengacungkan jempolnya pada Bram. Bram sendiri terkekeh.
Sofia pun turut mencicipi masakan mantan suaminya yang sudah lama tak di rasakan nya. Saat makanan itu sudah memasuki rongga mulutnya, Sofia mulai mengunyahnya perlahan.
Rasa itu masih sama. Tidak berubah. Bahkan mungkin lebih terasa menggoyang lidah. Ia kembali terkenang dengan awal pernikahan mereka yang penuh dengan rasa bahagia.
Entah mengapa, airmatanya menetes tak bisa di tahan. Bram menatap Sofia. Begitupun dengan Dewi dan Genta.
"Apa, tidka enak rasanya?" tanya Bram saat melihat Sofia menyeka sudut matanya.
Sofia menggeleng cepat. "Aku hanya teringat masa lalu." lirihnya.
"Ma, kembalilah pada papa. Dewi tahu mama masih sangat mencintai papa. Berbahagialah ma. Mama tidak perlu memikirkan Dewi. Dewi sudah bahagia." Dewi menggenggam tangan ibunya.
"Dewi benar ma. Genta yang akan menjamin kebahagiaan Dewi." Genta merangkul pundak Dewi dan tersenyum pada Sofia.
Bram tersentuh melihat Dewi begitu ingin mempersatukan dirinya dengan Sofi kembali.
"Sofi, bisakah kau memberi ku kesempatan yang terakhir kali? Kali ini, aku meminta mu kembali bukan demi Dewi ataupun untuk menebus kesalahanku. Tapi, dari lubuk hatiku yang terdalam, aku masih sangat mencintaimu. Maukah kau kembali mendampingiku? Hidup bersama sampai maut memisahkan kita? Maukah kau memberiku kesempatan untuk membahagiakanmu?" Bram berlutut di kaki Sofi.
Kali ini, airmata Sofi tak lagi menetes. Kali ini airmata itu sudah membasahi pipinya yang sudah menunjukkan garis halus.
"Bagaimana?" Sofi masih terdiam dan menangis tersedu.