
Sofi berjalan cepat meninggalkan restoran itu. Luka hati yang sempat mengering, kini terbuka dan berdarah lagi. Airmata yang sedari tadi di tahannya, kini mengalir deras. Sofia terus menguatkan dirinya sendiri.
Bram berada jauh di belakangnya. Ia berjalan semakin cepat. Hingga tak menyadari, orang yang berdiri di depannya. Orang itu pun tengah fokus dengan ponsel di tangannya, seraya menunggu supirnya tiba.
Bruk..
Pria itu terkejut. Ponsel di tangannya terlempar. Pria itu menatap nanar ponsel itu. Tanpa ekspresi sedikit pun. Kemudian ia membalikkan tubuhnya saat terdengar seseorsng minta maaf.
"Maaf, saya tidak sengaja." Sofia melirik ponsel yang terlempar itu dan mengambilnya. Ponsel itu rusak.
"Akan saya ganti ponsel anda." Sofia mendongak menatap pria di hadapannya.
Mata mereka bertemu. Sofia terkejut melihat wajah pria itu. Pria yang sangat di kenalnya. Pria itu masih tak berekspresi dan bersuara. Pria itu masih menatap Sofia. Pandangannya tak sedikitpun berpaling. Sofia melihat Bram yang semakin mendekat.
"Saya permisi dulu." Sofia meletakkan ponsel itu ke tangan pria itu dan berjalan cepat.
Di luar dugaan, pria itu segera menarik lengan Sofia hingga Sofia limbung dan hampir terjatuh. Dengan sigap, pria itu memegang bahu Sofia.
"Ahhh..." teriak Sofia.
Bram yang melihat adegan itu, seketika membelalakkan kedua matanya dan berjalan semakin cepat. Bram tidak terima ada pria lain yang menyentuh istrinya.
"Lepaskan istriku." Sofia dan pria itu mendongak menatap Bram. Masih tidak ada ekspresi yang di tunjukkan pria itu.
"Inikah pria yang kau pilih itu Sofia?" ucapnya ketika sudah melepaskan Sofia dan membantunya berdiri tegak.
Tubuh Sofia menegang seketika. Suara itu, suara yang begitu di kenalnya. Suara bariton yang begitu mempesona bagi kaum hawa. Namun tak bisa menggetarkan hati Sofia dulu. Sofia terlalu mencintai Bram saat itu.
Bram menatap pria itu tajam. "Siapa kau?" tanyanya. Pria itu tak menjawab.
Dia berjalan ke hadapan Bram. Kedua tangannya di masukkan kedalam saku celana. Dia menatap Bram mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kemudian berbalik menatap Sofia.
"Iya." jawabnya setelah menarik nafas panjang.
Bram mengernyit heran melihat interaksi Sofia dengan pria itu. Sepertinya, pria itu tak asing untuknya. Namun Bram tak bisa mengingat dengan jelas.
"Bukankah dia pemilik Wijaya Group?" Sofia mengangguk.
Siapa dia? Bram memicingkan matanya. Bram semakin ingin tahu.
Sebuah mobil mewah berhenti di dekat Sofia. Pria dengan tubuh kekar dan berjas hitam, segera membuka pintu belakang untuk tuannya. Pria itu segera berjalan menuju pintu mobilnya. Setelahnya, mobil itu melaju meninggalkan mereka.
Bram segera memegang lengan Sofia dan menariknya masuk ke mobil. Rianti baru saja menyusul mereka dan melihat mobil berjalan menjauh meninggalkan dirinya.
"Mas.... Mas Bram..." Rianti memukul kaca mobil dan tak di gubris oleh Bram. Bram memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
"Pelan-pelan mas. Aku belum mau mati." teriak Sofia.
Bram terus melaju tanpa mendengarkan ucapan Sofia. Berkali-kali Sofia berteriak memperingatkan Bram, namun tak juga di dengarnya. Bram masih di liputi amarah. Tiba di jalan yang sepi, Bram menghentikan mobil itu mendadak. Memukul setir berkali-kali dan menatap tajam Sofia.
"Apa... Hahahaha...." Sofia tergelak mendengar ucapan Bram.
"Kau lucu mas." sorot mata Bram penuh dengan emosi.
"Hentikan tawamu. Tidak ada yang lucu." ia semakin geram. Sofia menghentikan tawanya.
"Kata-katamu yang lucu." ucap Sofia sengit. Sofia menatap tajam pada Bram.
"Apa aku harus mengabsen setiap perbuatan yang kau lakukan sesuka hatimu?" Bram terdiam, namun sorot matanya masih menatap Sofia tajam.
Baiklah, rupanya Bram melupakan kesalahannya sendiri. Sofia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Oke, aku minta maaf. Tak bisa kah kau melupakan masa lalu?" pandangan Bram melembut seperti nada bicaranya.
"Melupakan masa lalu?" Sofia mengulang kata-kata Bram.
"Jika aku masih hidup karena kejadian masa lalu, aku tidak akan melahirkan Dewi. Jika aku masih hidup dalam masa lalu, aku akan tetap lemah dan buta." Sofia terlihat menantang Bram.
"Jadi, dari sudut mana kau menilai aku tidak bisa MELUPAKAN MASA LALU?" Sofia menekankan kata-kata terakhirnya.
"Karena kau mencoba membalas ku. Kau anggap apa aku selama ini? Aku ini ayah kandung Dewi. Tapi kau tak pernah menghargai ku dan mengambil keputusan seorang diri untuk masa depan putriku." sengitnya.
Sofia tertawa sinis. "Cukup mas. Kau hanya ayah biologisnya. Aku pernah menghargai mu, tapi kau yang tak pernah menghargai ku. Aku mengambil keputusan, karena Dewi adalah putriku. Aku jauh lebih tahu apa yang terbaik untuk dirinya." balas Sofia.
"Kau berubah. Kau egois." Sofia membuang pandangannya.
"Aku berubah karena perbuatan mu. Aku tidak egois. Jika kau tidak bisa menjadi ayah yang baik dan utuh untuk putriku, setidaknya restui putrimu dan Genta. Silahkan kau nikmati kebersamaan mu dengan keluargamu yang lain. Kau bisa mengatur masa depan putrimu yang lain. Jangan pernah kau mengatur masa depan putriku. Karena aku, jauh lebih tahu apa yang terbaik untuknya." Sofia membuka pintu mobil dan keluar.
Bram pun ikut keluar dan mengejar Sofia. Sofia lelah. Ia harus menyelesaikan semua ini pikirnya. Wanita itu pun berhenti dan berbalik. Menatap dalam manik mata milik Bram dan menarik nafas dalam.
"Aku lelah mas. Katakan apa mau mu." ucap Sofia lembut.
"Akan ku beritahu kau sebuah rahasia. Hanya aku yang tahu hal ini." Sofia mengernyit.
Rianti berhasil mengikuti bram dan Sofia. Untunglah, saat mobil Bram berjalan, ada taksi yang menurunkan penumpang. Rianti meminta supir taksi mengikuti dan mengimbangi kecepatan mobil Bram, karena tak ingin kehilangan jeda. Sofia dan Bram tak menyadari keberadaannya.
Rianti mendekati mereka perlahan. Hatinya sedikit merasakan kelegaan. Untunglah Bram tidak berbuat kasar pada Sofia. Meski selama ini, dirinya tak pernah melihat Bram bertindak kasar padanya ataupun anak-anaknya.
"Rahasia?" Bram mengangguk. Rianti pun menghentikan langkah dan niatnya yang ingin maju.
Rahasia? Rahasia apa? Mas Bram punya rahasia? batin Rianti.
"Surat cerai itu, tidak pernah ku kirimkan ke pengadilan agama. Meski aku dan kau sudah sama-sama menandatanganinya. Kau masih istriku yang sah." Sofia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tak percaya semua itu.
Rianti membelalakkan mata mendengar pengakuan itu. Airmata mulai mengalir tanpa bisa di bendung nya. Hatinya terasa semakin sakit. Ia merasa tak mengenal suaminya sedikitpun. Pikirannya kosong. Ia berbalik dan menjauh.
Ia berjalan mengikuti kemana kakinya melangkah. Selama lebih dari dua puluh tahun mereka berumah tangga, rupanya tak pernah ada dirinya di hati Bram sedikitpun.