
Acara sudah selesai. Kiara dan Kinanti sudah merasa tenang, saat Genta mengabari, jika Dewi sudah mendapatkan penanganan.
Sofia mengedarkan pandangannya. Bram yang melihatnya segera menghampirinya.
"Kau mencari sesuatu?" tanya Bram.
"Dewi mas. Tadi, aku sempat melihat wajahnya pucat. Tapi, kenapa gak ada ya?" ucap Sofia tanpa berpaling pada Bram.
"Dewi pucat?" Sofia menatap tajam pada.
Entah apa yang sejak tadi pria itu perhatikan. Hingga putrinya yang terlihat kurang sehat pun tidak di perhatikan nya. Sofia berpaling dan melihat Kiara serta Randy dan Kinanti.
Sofia berniat bertanya pada mereka. Mungkin saja, mereka mengetahui sesuatu. Saat ia melangkahkan kakinya, Bram mengikutinya.
Sofia tidak peduli. Yang ia inginkan adalah Dewi.
"Kia, Dewi dimana?" Kiara terkejut.
"Mama... Dewi sama kak Genta ma." ucap Kiara. Kiara tak ingin ibu dari sahabat sekaligus kakak iparnya ini khawatir. Lagi pula, ia tak sepenuhnya berbohong.
"Dia baik-baik saja kan?" terdengar jelas nada khawatir dari suara Sofia.
"Sof..." Bram menepuk bahu Sofia lembut.
Sesuatu yang tidak bisa Kiara tutupi. Insting seorang ibu, memang selalu bisa mengetahui sesuatu yang terjadi pada anaknya. Kiara tersenyum kaku.
"Katakan saja sayang." lirih Randy.
Kiara meneguk salivanya berat sebelum bicara. Kembali ia menoleh pada Randy dan Kinanti. Mereka mengangguk. Bertepatan dengan itu, Cindy dan Brian juga berdiri di belakang mereka.
"Tadi, Dewi pingsan ma." lirih Kiara hampir tak terdengar. Ia menundukkan kepalanya dalam.
"Apa?" mata Bram membola mendengar ucapan Kiara. Ia mengalihkan pandangannya pada Kinanti.
"Sejak awal, memang wajah kak Dewi terlihat pucat. Tapi, tadi semakin pucat. Dan akhirnya pingsan." terang Kinanti.
Cindy menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Sofia merasa lemas tak bertenaga. Airmatanya luruh tanpa di minta.
"Kak Genta sudah membawanya ke rumah sakit." ucap Randy.
"Kalau begitu, ayo kita ke sana." ajak Bram.
Mereka bergegas meninggalkan hotel. Cindy bersama Brian, Kiara dan Randy, lalu Bram dan Sofia bersama Kinanti. Mereka menuju mobil dan segera melaju ke rumah sakit.
Tiba di rumah sakit, Brian menghubungi Genta. Genta mengatakan, jika ia masih di IGD. Mereka pun segera menuju IGD.
Dari jauh, Genta melihat kedatangan mereka. Ia memang sengaja keluar untuk menemui mereka. Apalagi, Dewi masih belum siuman.
"Bagaimana keadaan Dewi?" tanya Sofia khawatir.
"Mama boleh masuk lihat kan?" cecarnya.
"Mama tenang saja. Dewi baik-baik saja. Sekarang, dia masih belum sadar." Sofia bisa bernafas lega mendengar kondisi putrinya yang baik-baik saja.
Bram merangkul bahu Sofia. Sofia segera menepisnya. Ada kekecewaan yang terpancar di mata Bram. Namun ia mengerti, ini bukanlah situasi yang bisa membuatnya berbuat seenaknya.
"Genta mau ke dalam sebentar." pamit Genta.
"Mama ikut." pinta Sofia. Genta mengangguk.
Tinggallah yang lainnya di depan ruang IGD. Mereka masih menanti dengan cemas. Bram menghembuskan nafasnya kasar kala mengingat ucapan Sofia. Sofia benar, sejak tadi fokus Bram hanya pada Sofia bukan Dewi dan para tamu. Apalagi, putra dan calon menantunya.
Di dalam ruangan, terlihat Dewi mulai bergerak. Baik Genta dan Sofia, segera mendekat. Perlahan, Dewi membuka matanya. Ia terkejut melihat ruangan yang di tempati nya berbeda.
"Kak..." lirihnya.
"Iya sayang." jawab Genta.
"Mama..." ucapnya saat melihat Sofia.
"Hmmm.. Kamu sudah lebih baik nak?" tanya Sofia.
Dewi mengangguk. Genta mengusap rambut istrinya itu.
"Aku panggil dokter dulu." Dewi dan Sofia mengangguk.
"Tidak apa sayang. Yang penting, kamu baik-baik saja."
Tak lama, Genta dan dokter pun tiba. Dokter segera memeriksa kondisi Dewi. Setelahnya, dokter menanyakan beberapa hal.
"Ibu Dewi, bagaimana perasaan anda?" tanya dokter itu.
"Saya merasa lemas dok." lirih Dewi.
"Itu wajar. Apalagi, ibu dalam tahap kehamilan awal." Baik Genta maupun Sofia terkejut.
"Istri saya hamil dok?" ucap Genta senang. Sofia tersenyum dan memeluk Dewi.
"Iya pak. Selamat ya, untuk bapak dan ibu." ucap dokter itu.
"Setelah ini, silahkan periksakan ke bagian obgyn." tutur dokter itu.
"Baik dok."
"Apa, istri saya sudah boleh pulang?" tanya Genta.
"Sudah pak. Kalau begitu, saya permisi dulu." Genta dan Sofia mengucapkan terimakasih pada dokter itu.
Genta mengecup punggung tangan Dewi. Airmatanya menetes. Bukan airmata kesedihan, tetapi airmata bahagia. Berulang kali pria itu mengucapkan terimakasih.
"Apa kamu sudah tahu?" tanya Sofia pada Dewi yang terlihat biasa saja. Dewi mengangguk.
"Sejak kapan kamu tahu sayang?" tanya Genta penasaran.
"Tiga hari yang lalu." ucap Dewi.
"Kenapa tidak memberitahu ku?"
"Tadinya, aku ingin buat kejutan. Sebentar lagi kan ulangtahun kakak." ucap Dewi.
Genta memeluk Dewi dan mengecup puncak kepala istrinya itu bertubi-tubi.
"Terimakasih sayang. Ini adalah kado terindah yang aku terima." ucap Genta tulus.
Sofia turut merasakan kebahagiaan mereka. Ia bersyukur, Dewi di beri kepercayaan oleh Tuhan. Apalagi, terlihat jelas Genta bahagia.
"Selamat untuk kalian ya." Genta dan Dewi mengucapkan terimakasih pada Sofia.
Tak lama kemudian, mereka keluar dari ruang IGD. Genta memapah Dewi. Awalnya, Genta ingin menggendong istrinya itu. Namun Dewi menolaknya.
Seketika, mata mereka menatap pada wajah Dewi yang masih terlihat pucat.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Cindy pertama kali. Dewi tersenyum dan mengangguk.
"Kalau tidak enak badan, sebaiknya kamu istirahat saja tadi." ucap Brian.
Cindy memukul lengan Brian, hingga pria yang sudah resmi menjadi tunangannya itu mengaduh sakit.
"Sakit sayang." Brian mengusap lengannya.
Bram menatap sendu pada wajah putrinya. Ia merasa bersalah tak memperhatikannya. Ia justru terlalu sibuk mengejar cintanya yang terus menerus di tolak.
"Ayo kita pulang." ucap Genta.
"Kalian pulang ke apartemen mama saja ya." pinta Sofia.
"Tidak usah ma. Biar Dewi pulang ke rumah ibu. Sabtu depan, Dewi dan kak Genta akan menginap di sana." tolak Dewi.
"Gak apa-apa sayang, kalau kamu mau kita bisa menginap di tempat mama." sambar Genta. Dewi pun mengiyakan.
"Apa kata dokter?" tanya Bram setelah sekian lama terdiam.
"Dewi hamil pa." mereka semua terkejut sesaat. Kemudian, satu persatu mengucapkan selamat pada Dewi dan Genta.
Setelah itu, mereka kembali ke rumah mereka. Karena Dewi akan menginap di apartemen Sofia, maka Sofia masuk kedalam mobil yang di bawa Genta. Bram bersama Kinanti, segera menuju rumah.
Raut wajah Bram berubah sendu. Kinanti pun bisa melihat jelas kesedihan yang menggantung di sana.
Papa kenapa? Kok murung begitu? Kenapa tidak terlihat bahagia mendengar kak Dewi hamil? Apa papa tidak senang menjadi kakek? Kinanti bergelut dengan pikiran dan asumsinya sendiri.