
Saat film tengah di tayangkan, Cindy menawarkan popcorn di tangannya pada Genta. Melirik sedikit ke arah Genta. Genta mendorong pelan popcorn itu. Pertanda ia menolaknya.
Dua jam berlalu, film pun sudah selesai di putar. Kiara dan Dewi, menunggu orang di samping Genta keluar. Namun mereka tak juga bergerak.
Kiara berdiri dan ingin keluar. Dewi mengikuti di belakangnya. Saat ia di depan Genta, Genta menggenggam jemarinya lembut dan berdiri. Hal itu, tak luput dari penglihatan Cindy dan Hana. Cindy merasa emosi. Namun di tahan dengan sekuatnya.
Setelah Genta melewatinya, Cindy dan Hana pun bergerak di belakang mereka. Ingin sekali Cindy menerkam mereka. Hana memberi isyarat untuknya bersabar.
Tanpa di duga Genta, Cindy memanggilnya begitu keluar dari ruang teather.
"Genta..." panggilnya. Tidak hanya Genta yang menoleh, Kiara dan Dewi pun menoleh.
"Kakak kenal?" tanya Kiara. Genta menganggukkan kepala pasrah.
"Gue pikir salah orang ternyata benar Lo ya." Genta mengernyit mendengar ucapan Cindy.
Hana terkejut. Namun hanya sesaat. Ia tahu pasti, Cindy tengah bersandiwara untuk masuk wilayah musuh. Pasti Lo mau tahu ceweknya Genta kaya apa kan Cin? gumamnya dalam hati.
"Lo juga liburan ke desa ini?" Hana mulai ikut berperan. Genta semakin bingung.
"Tidak." jawabnya singkat.
"Apa, Lo tinggal di desa ini?" tanya Hana penuh selidik.
Hebat juga si Hana. Tahu saja gue lagi akting. Cindy tersenyum melihat Hana.
Apa mau kalian. insting Genta seakan menangkap sinyal bahaya. Ok, kita bermain sandiwara.
"Gue tinggal di desa ini. Di kota, gue kuliah dan bekerja." Hana dan Cindy mengangguk mengerti.
"Berarti, boleh barengan dong ya. Kita satu kampus. Satu jurusan juga. Kebetulan, ini pertama kali ke daerah ini. Oh iya, mereka siapa?" Cindy langsung menunjuk Kiara dan Dewi begitu selesai dengan basa-basinya.
"Kiara." Kiara maju dan memperkenalkan diri. Wajahnya terlihat datar. Seakan tak suka pada Cindy dan Hana.
"Dewi." Dewi terlihat ramah dan tersenyum manis.
"Cindy." Cindy tersenyum. Ia tak menanggapi sikap ketus Kiara. Melihat keramahan Dewi, Cindy merasa, jika akan mudah membuat gadis ingusan ini memutuskan hubungan Genta dan dirinya.
"Hana." Hana ikut berkenalan.
Genta melihat sikap Cindy dan Hana. Dengan sigap --setelah mereka berkenalan--, Genta menggenggam jemari Dewi. Seakan memberi tahu mereka, jika mereka, tak boleh mengganggu gadisnya.
"Kak, makan yuk. Kia lapar nih." Kiara berucap manja. Genta mengangguk dan mengacak rambut adiknya gemas.
"Kami duluan ya." ucap Genta.
"Barengan saja gen. Gue gak terlalu tahu daerah ini." pinta Cindy.
Dasar centil. Kalau gak tahu ngapain ke sini? Kiara mengumpat Cindy. Raut wajahnya terlihat sangat tidak suka dengan kehadiran Cindy. Kiara menatap Genta tajam. Seakan menyuruh kakaknya menolak permintaan mereka.
"Gak apa apa kak. Kalau rame kan lebih seru." Cindy tersenyum. Dalam hati, ia bersorak penuh kemenangan.
Kiara terkejut mendengar ucapan Dewi. Merasa Dewi tidak peka dengan bahaya yang mengancam hubungan Genta dan dirinya.
Genta sama terkejutnya dengan Kiara. Ia menatap gadis itu. Di matanya terlihat penuh dengan tanya. Dewi tersenyum dan mengisyaratkan, jika semua akan baik-baik saja.
Mereka pun menuju restoran yang sudah di sepakati bersama dan mulai duduk. Kiara duduk di sebelah kiri Genta, Dewi yang ingin duduk di samping Kiara, ditarik Genta untuk duduk di sebelah kanannya hingga Genta berada di tengah antara Kiara dan Dewi. Akhirnya, Cindy dan Hana ada di hadapan mereka. Cindy, tepat di depan Genta, sementara Hana, di depan Dewi. Terlihat ada ketidak nyamanan di mata Genta.
Dewi yang di tatap merasa risih. Membuatnya sedikit salah tingkah.
Kenapa mereka melihat aku seperti itu? Apa ada yang salah dengan diriku? gumam Dewi.
Pelayan datang memberikan buku menu. Mereka segera memesan.
"Kiara dan Dewi sudah kelas berapa?" tanya Cindy setelah pelayan pergi.
"Kelas 1 SMA." Kiara menjawab dengan ketus. Cindy mengangguk dan tersenyum kecut.
Kayanya gue harus deketin adiknya dulu nih. Masalah gadis kecil ini, bisa belakangan. batin Cindy.
"Kalian tahu daerah ini bukan tempat liburan seperti tempat lain kan?" Cindy dan Hana mengangguk, kemudian saling pandang.
"Jadi, apa alasan kalian liburan ke sini?" tanyanya dengan nada penasaran.
"Alasan? Namanya liburan ya liburan dong gen!?" jawab Hana yang menutupi alasan mereka ke desa itu. Genta tersenyum sinis.
Jangan kalian kira aku tidak tahu apa-apa. Kalian ingin tahu gadis yang aku suka kan? batin Genta merasa geram melihat Cindy dan Hana.
"Dewi, mereka ini 'Teman' kampus aku." Genta seakan menegaskan status Cindy di hatinya.
Kiara terkekeh mendengar pernyataan Genta. Dewi bukannya tidak tahu, hanya tidak ingin mencari masalah. Dewi pun mengangguk dan tersenyum.
Bagi Dewi, jika Genta memang mencintainya, ia akan selalu menjaga perasaannya dari wanita lain. Meski mereka, masih berstatus teman dekat. (istilah sekarang gebetan lah.)
Jadi salah satu dari mereka ada yang menyukai kak Genta ya? Oke, ini ujian. Aku akan melihat, apa kak Genta akan tetap memilih ku, atau tidak. Yang mana dari mereka yang menyukai kak Genta? tatapan Dewi mulai menyelidik secara diam-diam.
Dewi mulai berbisik-bisik pada Genta seraya mengawasi tatapan keduanya. Hingga ia melihat tatapan tidak suka dari Cindy. Pelayan datang membawakan pesanan mereka.
Dengan sengaja, Genta memesan menu yang sama dengan Dewi.
"Kamu makan yang banyak ya. Masih masa pertumbuhan." ucap Genta seraya mengusap rambut panjang Dewi yang tergerai indah.
"Kamu juga anak kecil" Kiara hanya mengangguk tanpa menoleh.
Hati Cindy terasa panas melihat drama romantis yang tayang secara live di depannya. Ingin sekali ia memaki mereka saat ini juga. Namun ia menjaga imagenya.
"Iya, usia kalian ini harus banyak makan. Gak perlu takut gemuk." Cindy mulai mengejek.
Kiara menatap kesal pada Cindy. Ia tak terima dengan perkataannya.
"Emang menurut kakak kita itu kurus banget ya?" tatapan Kiara seperti ingin menelan Cindy hidup-hidup.
Cindy menelan Saliva dengan susah payah. Dewi melipat bibirnya menahan tawa. Kiara memang sensitif dengan orang lain yang berbicara tentang kondisi tubuh.
"Aa--aku gak maksud gitu..." Cindy merasa takut melihat tatapan Kiara.
"Maaf ya Kiara, aku gak maksud menyinggung kamu kok." ucap Cindy.
"Bikin nafsu makan aku hilang. Pulang yuk kak." Kiara berjalan lebih dulu seraya menghentakkan kakinya.
Genta dan Dewi mengikutinya. Terlebih dulu Genta membayar makanan mereka di kasir.