My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Brian dan Genta



Setelah menyemangati Genta, Brian segera masuk ke rumahnya. Brian menahan tawa melihat keberanian Genta yang besar, seketika memudar saat berhadapan dengan keluarga dari gadis yang di cintainya. Rasa percaya dirinya menghilang begitu saja.


Sementara itu, Genta masih terdiam di tempatnya hingga bayangan Brian tak lagi terlihat. Bibirnya kini menyunggingkan senyum termanis yang di milikinya.


Sepertinya pak Brian mendukungku. Gak sia-sia aku curhat ke pak Brian meski aku sendiri tak menyadarinya. Genta terlihat senang. Ia memarkirkan mobil Brian dan mengambil motornya.


Keraguannya mulai menghilang setah mendengar semangat yang di berikan Brian padanya.


Kini, saatnya ia mempersiapkan diri untuk bertemu langsung dengan Brian sebagai kekasih Dewi secara resmi.


Sebelum pulang, Genta mengarahkan motor yang di kendarai nya menuju apartemen yang di tinggali Dewi. Empat puluh menit waktu yang di butuhkan nya untuk sampai di apartemen.


Genta tiba dengan wajah yang terlihat cerah dan senyum yang merekah. Ia sudah membayangkan pertemuan itu dengan segala hal baik yang akan terjadi nanti.


Tiba di depan unit yang di tempati Dewi serta adik dan sahabatnya, Genta menekan bel. Tak butuh waktu lama, pintu segera di buka.


Rupanya Puspa yang membukakan pintu.


"Hai kak." sapa nya. Ia membuka pintu lebar untuk ku.


Genta tersenyum dan melangkah masuk. Setelah menutup pintu dengan sempurna, Genta menuju meja makan dimana semua orang sudah berkumpul.


Sepertinya, mereka baru akan makan malam.


"Wah, aku datang di waktu yang tepat nih!?" ucap Genta seraya menatap semua hidangan di atas meja.


"Ayo, kita makan bersama." ajak Sofia. Genta duduk di antara Sofia dan Dewi.


Genta melihat ada beberapa menu yang sepertinya di buat oleh Kiara. Tangannya menunjukkan piring berisi tumis kacang, dan sambal goreng kentang.


"Yang ini, kamu yang buat ya dek?" Kiara mengangguk.


Mereka mulai menyendokan makanan ke piring masing-masing. Dewi mengambilkan lauk yang tadi sempat di buatnya sendiri.


"Di coba kak. Ini buatan aku sendiri." lirih Dewi.


Genta tersenyum dan menyendokan nya ke mulut. Mata Dewi berbinar melihat Genta memakan masakannya.


"Gimana?" tanya Dewi antusias.


"Enak. Kalau begini, aku bakal lebih senang makan di rumah nanti. Kalau kita sudah sah." bisik Genta.


Sofia masih bisa mendengar bisikan itu dan tersenyum sambil menggelengkan kepala.


•••••••••


Makan malam pun usai. Kiara, Dewi dan Puspa tengah membereskan meja makan. Genta menatap kota yang terlihat berkelap-kelip dari balkon. Sofia menghampiri, membawakan potongan buah dan teh hangat untuk Genta.


"Gen, sini duduk sama mama." Sofia duduk lebih dulu di kursi rotan yang ada di depan balkon.


Genta menghampiri Sofia. "Makasih ma untuk teh dan buahnya." Genta tersenyum. Begitupun Sofia.


"Ma, Sabtu ini Genta dan Dewi akan bertemu dengan kak Brian." ungkap Genta. Matanya masih menatap ke arah bangunan yang terlihat mengecil dari atas.


"Kamu tahu nama kakak Dewi?" tanya Sofia. Sofia merasa belum memperkenalkan Genta pada Brian ataupun Bram.


"Dewi sudah memberitahu. Tapi sebelumnya, ada yang harus Genta beritahu pada mama." Genta menatap Sofia.


Belum sempat Genta bicara, Dewi datang menghampiri mereka. "Hayo, ngomongin aku ya." canda Dewi.


"Kamu terlalu PD." Dewi memeluk Sofia. Ia duduk di pegangan kursi.


"Tadi, kamu mau ngomong apa?"tanya Sofia. Dewi masih ada di sana mendengarkan obrolan Sofia dan Genta.


Sofia dan Dewi terdiam, kemudian mereka saling pandang.


"Berarti, aku gak perlu repot-repot memperkenalkan kak Genta pada kak Brian dan papa dong ma." Dewi bertanya pada Sofia.


"Kakak sudah beritahu kak Brian?" Dewi mengalihkan tatapan nya pada Genta. Genta menggeleng.


"Gen, kamu harus percaya sama diri kamu sendiri. Brian pasti menerima kamu. Apalagi, kamu itu pekerja keras. Brian tidak mungkin menghalangi hubungan kalian. Kamu harus semangat." Sofia memberi semangat pada Genta. Genta dan Dewi tersenyum.


"Apa, kita tidak perlu menunggu hari Sabtu kak? Besok aku main ke kantor dan langsung memberitahu kak Brian tentang hubungan kita." Sofi menepuk lengan Dewi pelan.


"Tidak semudah itu sayang. Kau tidak boleh mengganggu waktu kakakmu. Apalagi, besok masih hari kerja. Genta pun bekerja di tempat itu. Biarkan saja semua mengalir sebagaimana mestinya. Jangan terlalu terburu-buru." nasihat Sofia.


"Mama benar. Oh iya, tadi kak Brian memberikan aku semangat." Genta tersenyum mengingat ucapan Brian yang memberinya semangat tadi.


"Apa??" Sofia dan dewi terkejut bersamaan.


•••••••••


Hari terus berganti, hingga tanpa terasa hari Sabtu pun tiba. Hari yang di tunggu Genta dan Brian. Jika Brian merasa penasaran dengan sosok kekasih adiknya, lain halnya dengan Genta. Genta merasa gugup.


Kemarin sore, Brian meminta Genta memperketat penjagaan karena dirinya akan bertemu dengan kekasih dari adiknya.


"Gen, besok tolong siapkan beberapa pengawal di cafe "Bro"." perintah Brian.


"Siap pak." jawab Genta.


Dan, di sinilah mereka saat ini. Brian terbelalak melihat Dewi menggandeng lengan Genta mesra. Matanya menatap bergantian pada Dewi dan Genta.


"Apa-apaan ini? Lepaskan tangan adikku" perintah Brian.


"Maaf kak. Kak Genta adalah pacarku. Dia pria yang kukatakan pada kakak." tutur Dewi.


"Biar aku saja." Genta menarik lengan Dewi yang sudah maju lebih dulu di depan Dewi dan menariknya ke samping. Genta tersenyum dan menatap Dewi.


Dewi menurut. Genta menatap Brian dengan senyum yang biasa ia berikan pada Brian. "Saya adalah kekasih Dewi..." belum selesai Genta bicara, Brian mencengkeram kerah baju Genta.


"Kau, sudah berapa lama kau sembunyikan ini dariku?" terlihat amarah tengah menguasai Brian.


"Kurang lebih delapan hari." jawab Genta dengan tenang.


"Salah. Aku rasa, sejak awal kau sudah mengincar adikku." Brian terlihat semakin geram.


"Kak, lepaskan kak Genta. Apa yang di katakan kak Genta benar. Dia baru tahu satu Minggu yang lalu, kalau kakak adalah kakakku." Dewi menahan lengan Brian yang masih mencengkeram kerah bajunya.


"Kau membelanya?" Brian menatap tak percaya pada Dewi.


"Sayang, biar aku yang menyelesaikan ini." Genta tersenyum dan memandang Dewi.


"Kau pikir bisa membodohi ku? Semua pasti sudah kau rencanakan." geram Brian.


"Saya tulus mencintai Dewi. Bahkan, sejak saya masih duduk di bangku SMP." tutur Genta.


Dewi tak menyangka, jika reaksi kakaknya akan seperti ini. Saat Genta mengatakan, jika Brian memberinya semangat, membuat Dewi begitu antusias. Namun nyatanya, semua di luar dugaan mereka.


"Hah.. Aku terlalu membanggakan mu rupanya. Hingga kau berani mendekati adikku."


"Kak..." teriak Dewi.


"Diam. Kau terlalu muda dalam mengenal cinta. Kau pikir dia tulus?"