
Siang berganti senja. Meeting dengan Gold Furniture sudah selesai. Saatnya mereka bergegas kembali dari rutinitas yang melelahkan tubuh dan pikiran.
Jenny memilih menggunakan taksi online untuk kembali ke rumahnya daripada menumpang pada atasannya. Karena ia tidak mungkin merepotkan atasannya. Meskipun sebenarnya, Brian sendiri tidak keberatan.
Beberapa bulan yang lalu, Brian baru saja menduduki posisi presiden direktur. Itu terjadi, di karenakan Bram yang memilih pensiun dini.
Dan pada saat Brian menggantikan posisi sang ayah, ia sempat mengalami kecelakaan yang di sengaja oleh seseorang. Beruntung, Genta yang tengah berada di jalan yang sama menolongnya. Hingga Brian tak mengalami luka parah.
Setelah di selidiki lebih dalam, ternyata ada orang yang ingin mengambil alih posisi Brian. Melihat kelihaian Genta, Brian menawarkan pada Genta untuk menjadi pengawal pribadinya.
Genta yang saat itu tahu, jika masa magangnya akan berakhir dan belum mendapat kejelasan tetang kelanjutan karirnya, menyetujui permintaan Brian. Dan secara resmi, ia mulai bekerja saat masa magangnya berakhir satu Minggu setelah kejadian itu.
Baru beberapa waktu Genta menjadi pengawal pribadi Brian, Brian terkejut melihat kemampuan Genta yang cukup luar biasa dalam menangani masalah hotel. Ketika Brian mencoba menguji Genta, Brian menemukan fakta, bahwa Genta cukup cerdas dan cekatan dalam berbagai bidang.
Itu yang membuat Brian mengambil keputusan, untuk menjadikan Genta asisten sekaligus pengawal pribadinya. Dengan tugas utamanya, sebagai pengawal pribadi.
Sebagai pengawal pribadi, Genta mencari beberapa orang anak buah untuk membantunya. Tentu saja, semua itu atas persetujuan Brian. Dan syarat yang di ajukan Brian, semua anak buah itu, akan melaporkannya pada Genta.
Flashback
Dua bulan yang lalu.
Tanpa terasa, masa magang Genta dan yang lainnya akan segera berakhir. Siang ini Genta, Bagas, Cindy dan Hana makan siang bersama di cafetaria Wijaya Group.
Mereka berkumpul seraya membicarakan kelanjutan pekerjaan mereka. Kebetulan perusahaan Wijaya Group, bisa menerima karyawan yang bekerja dengan baik dan jujur menjadi karyawan kontrak atau bahkan tetap di sana.
"Gen, kira-kira kita bakal di terima gak ya?" tanya Bagas. Genta mengangkat bahunya, tanda ia tidak tahu masalah itu.
"Berdoa saja gas. Mudah-mudahan berhasil." ucap Hana optimis.
"Menurut Lo sendiri, apa Lo lolos kali ini?" tanya Cindy.
"Entahlah. Gue gak bisa memprediksi. Semua keputusan ada pada perusahaan. Kita cuma bisa melakukan yang terbaik." tutur Genta.
Setelah makan siang, mereka kembali ke divisi masing-masing dan kembali mengerjakan tugas mereka. Melakukan kegiatan seperti biasa.
Waktu terus berjalan. Tanpa terasa, satu Minggu lagi masa magang Genta dan yang lainnya akan segera berakhir. Hari ini, Genta di tugaskan mengantarkan berkas pada presiden direktur yang baru saja di angkat satu bulan yang lalu.
Genta memilih membawa sepeda motor. Di perjalanan, dia melihat mobil yang sangat dikenalinya. Semakin di perhatikan, semakin terlihat ada yang tidak beres.
Loh, itu kan pak Brian. Kenapa bawa mobilnya ugal-ugalan begitu ya. Genta memperhatikan mobil yang berada agak jauh darinya. Hingga mobil itu berbelok dan menabrak trotoar.
Genta menaikan kecepatan motornya dan mendekati mobil yang di bawa Genta. Genta segera menghampiri mobil itu dan mencoba membuka pintu mobil. Setelah mencoba berkali-kali, ada beberapa pengguna jalan lain yang ikut membantunya.
Akhirnya, pintu mobil dapat di buka. Ternyata, Brian sudah tidak sadarkan diri. Pelipisnya terluka. Genta segera membawa Brian ke rumah sakit di bantu para pengguna jalan. Genta segera menghubungi Wijaya Group, terutama kepala divisi ya tentang kejadian itu.
Tiba di rumah sakit, rupanya sudah ada Bram dan Rianti yang menunggu. Saat Genta sudah selesai mengantarkan Brian ke rumah sakit, ia akan pamit pada Bram, pemilik perusahaannya. Namun, Bram memintanya menunggu sebentar. Karena ada yang ingin di tanyakan nya.
"Tunggu sebentar. Tolong kamu tunggu saya di sini. Saya akan mengurus anak saya dulu. Ada yang ingin saya tanyakan padamu." Genta hanya mengangguk.
Bram pun segera mengurus administrasi rumah sakit dan mengantar Brian ke ruang perawatannya. Setelah itu, Bram meninggalkan Rianti dan Brian di dalam lalu menemui Genta.
"Terimakasih karena sudah menolong anak saya." ucap Bram.
"Tidak masalah pak." jawab Genta.
"Apa kamu melihat hal mencurigakan?" tanya Bram. Pasalnya, saat Brian berangkat dari rumah tadi, mobil yang di gunakannya tidak ada masalah.
"Tidak ada pak. Hanya saja, saya baru melihat pak Brian membawa mobil secara ugal-ugalan. Yang saya tahu, pak Brian tidak pernah seperti itu." tutur Genta.
"Baik. Terimakasih ya. Kamu bisa kembali ke kantor." Bram menepuk pundak Genta.
"Baik pak. Kalau begitu, saya permisi. Oh iya, saya tadi membawa dokumen penting untuk pak Brian. Apa saya bawa kembali, atau saya titipkan ke bapak saja?" tanya Genta. Ia tak ingin ada kesalahan.
"Tinggalkan saja pada saya. Nanti saya sampaikan." Genta menyerahkannya pada Bram dan segera berlalu.
Bram segera menyelidiki kecelakaan yang dialami oleh Brian. Tak butuh waktu lama bagi orang suruhan Bram untuk mendapatkan semua bukti yang di butuhkan. Bahkan setiap pengkhianat yang berada di sekelilingnya.
Bram segera memecat orang-orang yang mencoba berkhianat dan mencelakai anaknya. Setelah Brian sadar, Brian segera mengetahui hal itu. Bahkan, ketika ia tahu bahwa Genta yang menolong dan membantunya.
Pada pertemuan berikutnya, Genta juga membantu Brian dari penyerangan yan mencoba menghabisi nyawa Brian. Hingga akhirnya, Brian memutuskan mengangkat Genta menjadi pengawal pribadinya.
Satu bulan setelah Genta menjadi pengawal pribadi Brian, Brian mengalami kesulitan dalam menganalisis data yang ada di tangannya. Hingga Brian hampir menyerah. Genta yang ada di dekatnya, melihat dan mencoba membantunya.
Brian merasa sangat tertolong. Beberapa kali pula Genta membantunya. Brian yang membutuhkan asisten sejak lama, begitu terbantu. Sejak saat itu, Genta pun di angkat sebagai asisten sekaligus pengawal pribadi Brian.
Bagai mendapat durian runtuh, Genta menerima pekerjaan itu. Selain ia tak perlu bersusah payah mencari pekerjaan saat lulus kuliah nanti, Brian pun setuju agar Genta mencari anak buah yang bisa membantu tugasnya mengawal. Di bantu dengan Bram, Genta segera mendapatkan anak buah yang bisa membantu mengawal Brian.
Genta mengirim setiap tugas melalui email pada profesor pembimbingnya. Sesekali, ia ke kampus dan mengurus skripsinya agar ia dapat selesai dengan cepat.
Beruntung semua berjalan dengan lancar hingga saat ini.
💐💐💐💐💐
Akhirnya, bisa ku selesaikan bab ini. Terimakasih sayangku masih setia dengan novel ini....
Jangan lupa like👍, komen🗯️ ya.
Thank you all
I Love you all
Happy reading...