My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Menghilang



Jasmine cemas. Ia melihat Brian sudah meminum minumannya hingga habis. Ia segera keluar dari ruangan. Berpamitan pada Bram dan Brian agar tak di curigai.


Gadis itu segera bersembunyi dan meminta anak buahnya mengawasi Brian. Setelah itu, bibirnya menyunggingkan senyum jahatnya.


Di dalam ruangan, entah mengapa Brian merasa gelisah. Pria itu merasa ada yang aneh pada tubuhnya. Sekuat tenaga ia menahannya. Hingga sepuluh menit berlalu, tubuhnya tak kunjung membaik. Ia memutuskan ke toilet.


Brian masuk ke dalam toilet. Begitu keluar, dia menabrak seorang gadis yang berjalan sempoyongan. Dengan sigap, ia menangkap gadis itu yang hampir terjengkang.


Rasanya aku mengenal gadis ini. gumamnya dalam hati.


"Maaf pak. Kepala saya sakit." lirih gadis itu.


"Kamu kuat berjalan?" gadis itu hanya mengangguk.


Brian baru akan melepaskan pegangannya pada gadis itu. Sedetik kemudian, gadis itu pingsan. Brian panik. Pengawalnya tak ada di dekatnya. Akhirnya ia membopong gadis itu menuju salah satu kamar di hotel itu.


Brian membaringkan gadis itu di atas ranjang dan menutupinya dengan selimut. Entah apa yang terjadi pada gadis itu. Sesaat kemudian, tangannya terulur merapihkan rambut gadis itu yang menutupi wajahnya.


Melihat wajah gadis itu, entah mengapa hasrat kelelakiannya bangkit. Ia menahan diri sekuat tenaga. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan berendam di dalam air dingin. Ia berharap, hasratnya bisa mereda. Hampir satu jam Brian berada di sana.


Setelah di rasa mereda, Brian menggunakan pakaian yang tersedia di kamar itu. Karena kamar itu, khusus untuk dirinya.


Lagi-lagi, saat melihat gadis yang tak sadarkan diri itu, hasratnya kembali. Kali ini, Brian tak bisa menahannya. Ia mulai menyentuh wajah gadis itu. Brian hampir saja menerkam gadis yang lemah itu.


Dengan segera, Brian mengontrol hasratnya. Ia ingat, di laci nakas ia menyimpan obat tidur. Ia berpikir untuk meminumnya, agar tubuhnya melemah.


Dengan tubuh bergetar, Brian mengambilnya dan meminumnya. Ia tidak ingin berbuat hal yang akan di sesalinya.


B******k sepertinya minumanku di campur obat oleh Jasmine. Dia ingin menjebak ku agar aku bisa menikahinya. Kau tidak akan berhasil Jasmine. geramnya. Rahang Brian mengeras mengingat kejadian tadi.


Bulir keringat terlihat jelas di dahi Brian. Tubuhnya bahkan sudah di penuhi peluh akibat menahan hasrat. Ia tetap menyadarkan dirinya. Menanti obat tidur yang ia telan bereaksi.


Satu jam kemudian, Brian terjatuh di samping gadis itu dan tertidur.


Sementara Jasmine terus menunggu. Ponselnya berdering. Ia mengangkat telepon itu dan mendengarkan.


"..."


"Dasar b***h.... Begitu saja kalian tidak becus." umpatnya pada anak buahnya.


Jasmine membanting ponselnya hingga hancur. Ia sangat kesal. Impiannya untuk menjadi nyonya Wijaya hancur. Terutama, impiannya untuk menguasai kekayaan keluarga Wijaya melalui Brian.


"B******k. Bisa-bisanya rencana gue gagal." gumamnya.


"Dimana dia. Dia pasti masih di hotel ini." nafas Jasmine terlihat naik turun. Ingin rasanya gadis itu meledakkan emosinya.


••••••••


Di tegah pesta, Bram melihat sosok pria yang pernah di lihatnya di restoran. Pria itu menghampiri Sofia, Dewi dan Genta. Mereka terlihat akrab. Bahkan Dewi dan Sofia bisa tertawa lepas.


Ada rasa sakit yang menusuk di dadanya. Sofi, dulu juga pernah tertawa seperti itu bersamanya. Tapi, setelah ia memutuskan menikah lagi, tawa itu hilang.


Dewi, sejak kecil Bram tidak pernah bersamanya. Melihat tumbuh kembangnya pun tidak. Mendampinginya saat di butuhkan pun tidak. Bahkan, Dewi cenderung sungkan padanya ketika memasuki usia remaja dan dewasa. Hanya saat kecil Dewi terlihat dekat dengannya.


Tapi saat ini, dua wanita kesayangannya itu, terlihat bahagia di dekat pria itu. Wajah Bram memerah menahan gejolak emosinya. Ingin dia mengklaim, bahwa Dewi putrinya, dan Sofi miliknya. Namun semuanya tak mungkin.


Genta yang masih menemani para tamu, tak menyadari ketidak beradaan Brian di sana. Hingga para tamu berangsur meninggalkan tempat, salah satu anak buahnya menghampirinya dan berbisik.


Dewi dan Sofi yang ada di sampingnya melihat itu dan mengerutkan kening. Setelah mendengar penuturan anak buahnya, Genta membelalakkan matanya.


Tepat di saat itu, Bram menghampiri mereka. "Ada apa? Mana Brian?" tanyanya yang tak melihat keberadaan putra sulungnya itu.


"Kak Brian... Menghilang...." lirih Genta. Sofi dan Dewi menutup mulut tak percaya.


"Menghilang bagaimana? Tadi dia bilang ingin ke toilet. Sudah kalian cari?" para pengawal menganggukkan kepala.


"Kalian sudah periksa CCTV?" tanya Genta.


"Sudah pak. Pak Brian terlihat terakhir di depan toilet. Ia menabrak seorang gadis dan membopongnya. Namun, CCTV lainnya tidak menunjukkan kemana pak Brian membawa gadis itu." terang salah satu pengawal.


"Brian membawa seorang gadis?" ucap Sofi tak percaya.


"Mas cari Brian. Jangan sampai dia melukai gadis itu." Sofia takut terjadi apa-apa pada gadis itu dan Brian.


"Siapa gadis itu?" tanya Genta kemudian.


"Yang saya lihat, sepertinya salah satu karyawan di perusahaan kita pak." Genta berpikir keras.


"Sudah, jangan di pikirkan dulu. Cepat cari Brian." perintahnya.


"Tanya resepsionis, apakah pak Brian meminta kunci salah satu kamar?" dengan sigap, mereka melakukan perintah Genta. Genta membuka ponselnya dan mencoba menghubungi nomor Brian. Namun tak di angkat.


Mereka kini berjalan menuju lift. Terlihat raut wajah khawatir dari Sofi dan Dewi. Meski Dewi terlihat dingin pada Brian, namun ia tetap menyayanginya.


Salah satu anak buahnya segera menghampiri dan memberitahu apa yang di katakan resepsionis padanya.


"Pak, mereka bilang pak Brian punya satu kamar di hotel ini yang cukup privasi." Bram mengingatnya. Karena itu juga adalah kamarnya.


"Ikut saya." mereka masuk ke dalam lift dan mengikuti Bram.


"Tadi, nona Jasmine juga memberikan minuman pada pak Brian. Setelah saya cicipi, tidak ada yang aneh. Pak Brian meminumnya. Hingga satu jam kemudian pun, tidak ada yang aneh pada pak Brian." lapor pengawal itu.


"Jasmine..." tanya Bram.


"Iya pak, putri pemilik PT. Future Furniture."


"Oh.... Putri dari Daniel. Jadi dia menggunakan putrinya untuk kembali beraksi. Setelah dulu ia tak berhasil menggunakan Rianti?"


Mereka tercengang mendengar penuturan Bram. Rupanya, keluarga Jasmine, adalah musuh bebuyutan keluarga Wijaya.


Sofi pun mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang. Setelahnya mereka fokus pada pencarian Brian.


Rasa khawatir terus membuat mereka gelisah. Pasalnya, mereka tidak tahu, apakah Brian bersama gadis yang di ketahui karyawan Wijaya Group, atau bersama Jasmine yang sudah menjebaknya.


Jantung Bram berpacu memikirkan hal itu. Sofi pun merasakan kecemasan. Meski Brian bukan anak kandungnya, namun ia sangat menyayanginya.


Bersamaan dengan itu, ponsel Bram berbunyi. Ia melihat nama si pemanggil. Rianti. Entah wanita itu berfirasat juga, atau tidak, Bram tidak tahu. Tapi sepertinya, waktunya tidak tepat.