My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Tawaran Pekerjaan



Brian tak menjawab pertanyaan Genta. Ia tengah berpikir keras. Genta yang tak mendapatkan jawaban, segera memutar mobilnya ke arah apartemen milik Sofia. Meski ia tahu, apartemen itu sudah di tinggal oleh pemiliknya. Mengingat masa liburan telah berakhir.


Genta tidak tahu apa yang menariknya untuk ke apartemen itu. Brian menyadari Genta mengarahkan mobil ke area yang tidak pernah di pikirkan nya.


Ini... Apartemen? Tempat siapa ini? Brian mengernyitkan dahi melihat area apartemen yang terbilang mewah.


"Apartemen siapa ini?" tanya Brian. Genta tak menjawab. Tiba di parkiran, Genta segera turun tanpa aba-aba. Brian mengikuti langkah Genta dengan wajah yang masih kebingungan.


Genta menuju lift. Tak lama, lift terbuka dan mereka segera masuk. Brian memperhatikan semua yang di lakukan Genta. Saat lift berhenti di lantai delapan, Genta dan Brian segera keluar.


Saat mereka keluar, mereka melihat Bram. Genta menyadari, jika unit yang di tuju Bram bukanlah unit milik Sofia.


Unit siapa itu? Apa pak Bram mengenal pemilik unit itu? gumamnya dalam hati.


"Papa masuk unit itu. Kau mengenalnya?" tanya Brian. Genta menggeleng.


"Lalu kau tahu darimana papa disini?" Genta menatap Brian.


"Kau tidak tahu mama Sofi tinggal di sini?" Brian menggeleng.


"Tapi setahuku, mama ikut pulang kemarin dengan Dewi. Jadi, siapa yang di temui pak Bram?" tanyanya lebih kepada dirinya sendiri.


Brian hanya terdiam dan mencoba mencerna setiap kata-kata Genta. "Kau sering kesini?" tanyanya akhirnya.


"Jika Dewi datang ke ibukota, aku akan datang kesini dan menghabiskan waktu dengannya, mama, dan adikku." tutur Genta.


Mereka mulai meninggalkan apartemen itu dan memutuskan untuk menunggu di lobi apartemen.


"Tidak modal sekali. Masa adikku di ajak pacaran hanya di dalam apartemen. Bersama mama dan adiknya pula. Hah..." gumamnya. Genta tersenyum tipis, hampir tak terlihat.


"Aku modal kok. Terkadang, kami nonton, makan diluar, ke taman bacaan, kemana pun Dewi mau." tatap Genta.


"Aku tidak bicara denganmu." sengit Brian.


"Kenyataannya, perkataan mu tertuju padaku kakak ipar." Genta tersenyum.


"Jangan panggil aku kakak ipar. Aku bukan kakak ipar mu." Brian semakin geram.


Genta hanya menanggapi ucapan Brian dengan senyuman. Tak lama, terlihat Bram keluar dengan seorang pria seusia dengannya. Masih terlihat gagah sepertinya.


"Pa.." panggil Brian.


"Kenapa kalian ada di sini?" Bram mengernyitkan dahi melihat keberadaan Genta dan Brian.


Genta dan Brian saling tatap. Mereka tidak tahu harus bicara apa. Mereka hanya diam.


"Pekerjaan kalian sudah selesai?" tanya Bram. Wajahnya berubah serius saat berbicara pekerjaan.


"Belum pa." Brian menunduk.


"Lalu untuk apa kau kesini?" Bram memicingkan matanya.


"Aku khawatir papa dan mama Sofia bertengkar." jawab Brian jujur.


"Bram, apa dia putramu?" tanya pria yang sudah berdiri di samping Bram sejak tadi.


"Ya. Kau benar." pria itu menganggukkan kepalanya.


"Wajahnya mirip dengannya. Ku dengar, dia sangat menyayangi putrimu dan Sofia." Bram mengangguk.


Genta hanya menyimak pembicaraan mereka.


"Dan kau, pasti Genta." Bram dan Brian menatap pria itu heran. Bagaimana pria itu mengenal Genta? Terlebih Genta. Dia lebih terkejut. Dia merasa tak mengenal pria itu. Bagaimana pria ini mengenal dirinya?


"Anda benar. Bagaimana anda bisa mengenal saya?" tanya Genta.


Pria itu terkekeh. "Sofia yang memberitahuku."


"Sofia?" pria itu mengangguk.


"Kenapa?" tanya Bram kemudian.


"Itu rahasia." ucap pria itu.


Brian dan Bram menoleh tak percaya dengan pendengaran mereka. Mereka tak percaya, jika perusahaan sebesar Hadinata Corp. ingin merekrut Genta.


"Maaf, apa maksud anda?" Genta seolah tak percaya dan ingin memastikannya.


"Sofia sendiri yang merekomendasikan mu. Oh iya, kau pasti tak mengenalku. Kenalkan, aku Prasetyo CEO dari Hadinata Corp. tepatnya, hanya menggantikan CEO yang asli."


"Maaf, saya tidak bermaksud menolak rejeki. Saya menyukai pekerjaan saya saat ini." tolak Genta.


"Sebagai pengawal pribadi tuan muda ini?" pria itu menunjuk Brian.


"Maaf tuan Prasetyo. Dia juga asisten saya." jawab Brian.


"Kalau begitu, ku beri kau gaji dua kali lipat dari Wijaya Group." Bram tersenyum sinis.


"Aku tidak akan membiarkanmu merebut karyawan terbaikku." Bram menatap pria bernama Prasetyo itu dengan tajam.


Pria bernama Prasetyo itu tertawa terbahak. Bram pun meninggalkan lobi apartemen itu lebih dulu. Setelahnya, Brian pun ikut keluar. Genta pun mengikuti mereka setelah membungkukkan kepalanya.


"Menarik." setelah melihat mereka pergi, Prasetyo mengambil benda pipih di saku jasnya dan menghubungi seseorang.


"Kau benar. Dia tak mudah di goyah kan." ucap Prasetyo setelah panggilan itu terjawab.


"..."


"Hmmm.." Prasetyo mematikan ponselnya dan meninggalkan lobi.


••••••••


Bram, Brian dan Genta tiba di Wijaya Group dan segera menyelesaikan semua pekerjaan yang menumpuk. Hingga langit berubah menjadi gelap, mereka baru bisa bernafas lega.


Mereka pun merenggangkan otot dan membereskan setiap berkas pekerjaan yang sudah selesai di kerjakan.


"Terbukti kau sangat membutuhkan Genta." Brian menghela nafas.


"Ya, aku mengakuinya."


"Jadi, apa aku kembali menempati posisi asisten anda lagi pak?" tanya Genta pada Brian.


"Ya. Kau puas." sengit Brian.


"Kenapa kau terlihat tak menyukai Genta?" tanya Bram.


Brian hanya terdiam tanpa menjawab. Melihat kediaman Brian, Bram hanya menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar harus tahu apa yang terjadi diantara mereka.


Bram pun segera keluar dari ruangan itu. Begitupun dengan Brian dan Genta. Genta segera mengantarkan Brian ke kediamannya.


Setelah itu, ia kembali ke kosannya sendiri. Genta membersihkan diri dan merebahkan tubuh lelahnya dia atas ranjang kecilnya. Menghubungi kekasih hatinya dan mengabarkan, jika dirinya sudah kembali menjadi asisten Brian.


Dewi senang mendengarnya. Setelah mendengar hal itu, Dewi memeluk Sofi dan tersenyum bahagia. Sofia ikut bahagia melihat tawa bahagia putrinya.


Tidak sia-sia aku membuat drama ini. Brian tidak rela kehilangan Genta. Apalagi, Genta cukup kompeten dalam menjalankan bisnis. Tidak apa, suatu saat Genta akan membantu Dewi mengurus perusahaan warisan papi. batin Sofia.


Bagi Sofia, kebahagiaan Dewi jauh lebih penting. Apa pun akan di lakukan nya untuk memastikan kebahagiaan Dewi. Termasuk, meyakinkan dirinya sendiri jika Genta memang yang terbaik untuk Dewi.


Karena Sofia, tidak ingin Dewi merasakan hal yang sama dengannya. Karena dirinya, terlalu di butakan cinta saat itu.


🌼🌼🌼🌼🌼


Happy reading all.


Jangan lupa like, dan komennya ya. Jika berkenan, vote dan bunganya ya para kesayangan.....


Buat yang ingin tahu reaksi Rianti saat tahu Bram dan Sofia belum bercerai, di tunggu ya.🤭🤭🤭


Thank you all....


Good night...


Waktunya kita beristirahat. 😴


Segarkan tubuh dan pikiran untuk hari esok.