My Husband, My Brother Personal Bodyguard

My Husband, My Brother Personal Bodyguard
Khayalan



Cindy yang melihat Genta menghampiri meja Brian dan gadis kecil kesayangan pria itu, terkekeh geli. Menurut Cindy, Genta tak lebih dari pria bodoh yang bertekuk lutut atas nama cinta.


Brian yang melihat kedatangan Genta menatap heran padanya. "Bukannya kamu minta izin mengantarkan orangtuamu?" tanya Brian.


"Sudah saya antar pak." jawab Genta singkat. Ekor matanya menatap pada gadis kecilnya.


Sementara Dewi, cukup terkejut melihat Genta. Namun, Dewi tetap bersikap tenang. Ujung bibir Dewi terangkat.


Brian melihatnya. Genta menjaga raut wajah ketenangan. Meski benaknya sedang berpikir apa yang harus di katakan pada atasannya tentang kekasihnya ini.


Jika melihat sorot mata Genta, sebenarnya sangat terlihat kecemburuan di sana. Tapi Genta mencoba berpikir positif. Ia yakin akan ada penjelasan yang logis tentang kejadian ini.


"Kamu kenapa senyum-senyum begitu?" Brian akhirnya bertanya. Dewi hanya menggeleng.


"Sini duduk." Dewi bergeser ke bangku sebelahnya. Brian mengernyit melihat keakraban mereka.


Ada keraguan di hati Genta untuk duduk. Brian memperhatikannya. Genta memutuskan untuk tetap berdiri di tempatnya. Namun sedetik kemudian, Dewi menarik tangan Genta dan membuat prianya itu duduk di sampingnya.


Dari kejauhan, Cindy semakin terlihat kesal dengan drama yang tengah di tonton nya secara live itu.


"Kamu kenal dia?" tunjuk Brian pada Genta. matanya masih menatap Genta penuh selidik. Genta yang di tatap, menjadi salah tingkah.


Dewi tidak menjawab. Ia hanya tersenyum pada Brian. Dan melihat Genta yang salah tingkah, membuat gadis itu menahan tawanya.


"Kalau lihat orang itu jangan seperti itu. Sudah kaya harimau yang siap menerkam mangsanya saja!?" ejek Dewi pada Brian.


Genta semakin bingung menghadapi Brian. Brian merasa heran mendengar kata-kata Dewi yang seakan membela Genta. Genta melihat tatapan mata atasannya, membuat keberaniannya menghilang. Ia tak tahu harus bicara apa.


Melihat Genta yang seperti itu Dewi menggenggam tangan Genta yang ada di bawah meja. Sesaat Genta menatap Dewi. Dewi hanya tersenyum dan mengangguk. Genta tak paham dengan maksud dari senyum dan anggukan Dewi.


Brian menghela nafas kasar. Jika seperti ini terus menerus, masalahnya tidak akan selesai. Dan keingintahuan diantara Genta maupun Brian tak akan terpuaskan.


"Kecil-kecil main kode-kodean." tutur Brian.


Mereka berdua menelan Saliva nya dengan susah payah. Saling menatap satu sama lain, dan merasa bingung untuk menjelaskan hubungan mereka.


Bagaimana caraku kasih tahu Brian, kalau kak Genta itu pacarku? batin Dewi.


Apa pak Brian marah karena aku punya hubungan dengan Dewi? batin Genta.


"Aku mau tanya, apa kamu kenal Genta?" kali ini, Brian menatap Dewi. Dewi menundukkan kepala dan mengangguk.


Ada rasa takut yang tiba-tiba menyergapnya. Entah bagaimana pendapat Brian jika tahu siapa Genta. Ia takut Brian marah dan terjadi perkelahian.


Brian tak bereaksi setelah melihat anggukan Dewi. Kemudian, pria itu mengalihkan tatapannya pada Genta.


"Kau mengenal Dewi?" Genta mengangguk.


Genta merasa harus melindungi gadisnya kali ini. Sekalipun ia harus bersaing dengan atasannya sendiri ia bertekad akan berjuang. Masalah pekerjaan, baginya bisa menjadi urusan terakhir. Tabungannya dirasa cukup untuk modal usaha. Meski hanya kecil-kecilan.


Brian bangkit berdiri dan menarik kerah baju Genta. Membuat Dewi ikut berdiri. "Apa hubunganmu dengannya?" tanya Brian yang mencoba menahan emosinya.


Brian terlihat seperti ingin menelan Genta hidup-hidup. Cengkeramannya semakin erat. Genta tak bergeming.


"Brian hentikan. Malu di lihat banyak orang. Kita bicarakan ini baik-baik." pinta Dewi. Jantungnya sudah ingin melompat rasanya.


"Maaf pak. Saya sudah mengambil langkah mendahului bapak. Saya sudah melamar gadis ini." ucap Genta.


"Brian hentikan." teriak Dewi. Banyak orang yang melihat kejadian itu. Bahkan mereka berkerumun menyaksikan hal itu.


•••••••••••


"Gen..." panggil Cindy.


"Genta..." Genta masih menatap kosong ke arah meja Brian dan Dewi.


Akhirnya, Cindy menepuk pundak Genta sedikit kencang. Hal itu membuat Genta terkejut. Ia mengusap dadanya dan menghela nafas lega.


"Lo kenapa?" tanya Cindy.


"Gak apa-apa." ucapnya.


Sial, untung hanya khayalan gue. Bahaya kalau gue sampai di pecat. Gue harus tanya Dewi tentang hubungan dia sama pak Brian. batinnya.


"Takut Lo gue bongkar aib gadis kecil Lo itu di depan pak Brian?" tanya Cindy ketus.


"Gue lebih menjaga image bos kita." jawab Genta dingin dan datar.


Meski gue juga jaga image Dewi. Gue benar-benar penasaran dengan hubungan mereka. Bagaimana mereka bisa saling mengenal?


Mereka masih mengawasi Brian dan Dewi dari jauh. Terlihat dengan jelas Dewi terlihat bahagia. Genta mengepalkan tangannya erat.


Sial, apa benar Dewi seperti yang di ucapkan Cindy? Tapi gue kenal Dewi dari dia kecil. Waktu jalan bareng gue, dia gak kelihatan kaya cewek matre. Jangan asal tebak Genta. Ada baiknya Lo tanya langsung sama Dewi. Jangan sampai hubungan Lo berantakan karena ada mulut kompor kaya Cindy. Genta mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


"Eh, pak Brian sudah mau pergi tuh." Genta melihat arah yang di tunjukkan Cindy.


"Kembali bekerja. Oh iya, jangan bilang pak Brian saya ada di sini ya. Satu lagi, kejadian tadi juga. Biar saya bereskan sendiri." ucap Genta pada rekannya.


"Siap bos." pria bertubuh tegap seperti Genta itu segera kembali bertugas. Dan melakukan apa yang di perintahkan Genta.


Setelah rekannya pergi, kembali Genta mengingatkan Cindy untuk menutup mulutnya.


"Jaga mulut Lo. Jangan sampai foto ataupun berita gak penting kaya tadi gue denger di kantor. Lo tahu peraturan kantor kan?" Cindy mengangguk.


"Gue gak bisa jamin nasib Lo aman kalau pak Brian tahu hal ini." ucap Genta.


Brian yang tegas dengan peraturan kantornya, membuat setiap bawahannya tak bisa melanggar aturan tentang menggosipkan atasan mereka. Hingga setiap gosip yang tersebar, sebelum sampai ke telinga Brian, pasti sudah di hentikan Genta dan anak buahnya.


Kali ini, Genta melakukannya juga untuk menjaga image Dewi. Dan ia ingin mencari tahu lebih dulu hubungan antara Dewi dan Brian.


"Sekarang Lo boleh pulang." perintah Genta. Cindy mengangguk dan segera melangkahkan kakinya keluar cafe.


Genta bisa sedikit bernafas lega. Meski sejujurnya, masih ada sesak yang menghimpit. Ini bukan saat yang tepat pikirnya. Genta pun segera kembali pada tujuan awalnya. Mengembalikan mobil milik Sofia ke apartemennya.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Aih ternyata cuma khayalan toh Gen.... Di tanyakan biar gak penasaran...


Thank you all buat semua bentuk dukungan kalian... Buat likenya, komennya, votenya dan bunganya.


Semoga kalian masih tetap setia menunggu ya.


I love you😘