
Tanpa terasa, libur semester pun tiba. Jika siswa dan siswi seperti Dewi dan teman-temannya sudah libur, berbeda dengan Genta. Jelas saja berbeda. Mereka berada dalam tingkatan study yang berbeda pula.
Setelah kemarin Dewi mengambil raport semester, kini Dewi tengah libur sekolah. Ingin rasanya Dewi pergi ke ibukota untuk bertemu pujaan hatinya. Namun apa daya, ia tak bisa.
Jika saja Bram papanya sedang ada di ibukota, ia bisa mencari alasan untuk menginap di sana. Kenyataannya, itu tak mungkin. Pada akhirnya, ia mengajak Sofia mamanya untuk berlibur.
"Ma, Dewi kan sudah libur sekolah. Bagaimana kalau kita jalan-jalan." ucapnya.
Sofia menoleh dan memandang putrinya. Ia mencoba mengingat, adalah kegiatan yang tidak bisa ia tinggalkan? Jika tidak, ia berniat mengabulkan permintaan sang putri.
"Tunggu, mama hubungi butik dulu ya." Dewi mengangguk antusias.
Ia tersenyum. Bisakah ia meminta mamanya untuk berlibur ke ibukota? Ataukah hanya akan berlibur di desanya? Semoga, mamanya mau mengajaknya ke ibukota. Doanya dalam hati.
Setelah memastikan tidak ada hal penting yang harus di lakukan nya, Sofia pun meminta pegawai butiknya untuk melanjutkan pekerjaan tanpa dirinya. Sofia juga ingin menghabiskan waktu dengan putrinya yang kini beranjak dewasa.
Dewi yang mendengar jika ia bisa berlibur bersama sang mama, merasa sangat senang. Pasalnya, sudah lama ia tak berlibur dengan mama tercintanya. Ia pun mengajukan tempat yang ingin di kunjungi nya.
"Kita ke ibukota ya ma. Dewi ingin jalan-jalan ke sana. Kalau desa kan sudah sering." ucapnya.
"Oke, boleh sayang." Dewi melompat kegirangan. Sofia tersenyum melihat putrinya begitu senang.
"Ajak Puspa dan Kiara boleh ma?" tanyanya lagi.
"Kalau mereka di izinkan keluarganya, boleh saja sayang." jawab Sofia.
Dewi pun berpamitan. Ia bergegas pergi ke rumah Puspa dan Dewi. Ia ingin memastikan sendiri, jika mereka di izinkan ikut bersamanya.
Tiba di rumah Puspa, ia langsung mengatakan tujuannya. Puspa gembira Dewi mengajaknya ikut berlibur. Ia pun meminta izin orangtuanya.
Izin sudah di kantongnya, Puspa mulai mengemas barang yang akan di bawanya. Dewi bergegas menuju rumah Kiara.
Setibanya di sana, Kiara tengah merapihkan rumahnya. Dewi menghampirinya dan mengatakan bahwa ia ingin mengajaknya berlibur ke ibukota. Kiara tersenyum. Menurutnya, ia bisa sekalian menjenguk kakaknya.
Sayangnya, orangtuanya masih berada di depot bakso mereka di dekat pasar. Jadi, Kiara harus menunggu mereka pulang untuk meminta izin. Dewi sedikit kecewa, namun ia mengerti. Ia akan menunggu jawaban Kiara. Kiara berjanji akan menghubunginya segera, setelah mendapatkan izin.
Dewi pun berpamitan dan segera pulang. Di rumah, ia mengatakan pada Sofia, jika Puspa di perbolehkan. Sementara Kiara, harus menunggu orangtuanya kembali dari depot. Sofia pun ikut tersenyum.
Dewi antusias sekali berlibur ke ibukota. Padahal, papa, kakak dan adiknya masih di luar negeri. Mungkin, ada tempat yang ingin di kunjungi nya. Nanti menginap di apartemen saja. Atau rumah mama dan papa dulu. Sekalian aku memeriksa perusahaan. batin Sofia.
Selama ini, perusahaan miliknya memang di kelola oleh orang kepercayaannya. Dewi tidak mengetahui hal itu. Sore hari, Kiara memberi kabar baik pada Dewi. Akhirnya, mereka akan berlibur ke ibukota.
•••••••••••••••
Sabtu pagi, Puspa diantar orangtuanya ke rumah Dewi. Begitupun dengan Kiara. Kedua orang tua Puspa dan Kiara, berterimakasih pada Sofia. Merekapun meminta Sofia untuk menjaga putri mereka. Mbok Narti pun ikut serta dengan mereka.
Setelah berpamitan, mobil yang di kendarai Sofia, melaju menuju ibukota. Waktu yang mereka tempuh terbilang cepat. Kondisi jalan menuju ibukota tidak sepadat yang mereka kira. Namun, arah sebaliknya padat merayap.
Mbok Narti, Dewi dan teman-temannya pun turun. Sofia menuju tempat parkir dan akan menyusul mereka. Mbok Narti membimbing mereka menuju unit milik Sofia. Puspa dan Kiara, menatap kagum gedung apartemen itu. Dewi tersenyum melihat mereka.
Di dalam lift, Puspa dan Kiara pun masih menatap kagum. Hingga tiba di depan unit milik Sofia, mama dari Dewi, tatapan kagum itu semakin terlihat.
"Wah, ini rumah siapa wi?" tanya Puspa.
"Rumah mama juga." jawab Dewi.
"Jadi, kamu punya rumah di ibukota?" tanya Kiara.
"Sebelum aku lahir, mama dan papa aku tinggal di ibukota. Sampai mama dan papa bercerai, barulah mama pindah ke desa." tuturnya.
Ada penyesalan di wajah Kiara. Ia menyesal menanyakan hal yang membuat Dewi bersedih.
"Maaf ya wi. Aku gak maksud––"
"Gak apa-apa." Dewi menjawab sebelum Kiara menyelesaikan kata-katanya. Kiara tertunduk.
Dewi memeluk Kiara. Puspa turut memeluknya. Mereka pun tertawa. Sofia yang baru masuk tersenyum melihat persahabatan mereka. Semoga saja, mereka akan tetap menjadi sahabat yang baik.
Dewi mengajak teman-temannya ke kamarnya. Mbok Narti membawakan barang-barang mereka. Setelahnya, mbok Narti menyiapkan makan siang untuk mereka. Dewi, Puspa dan Kiara, merapihkan barang bawaan mereka.
"Ki, apa kamu sekalian jenguk kak Genta?" tanya Puspa.
Entah kenapa, mendengar nama Genta di sebut, jantung Dewi berdegup dengan kencangnya. Dewi tersenyum dan membayangkan pertemuannya dengan pujaan hatinya.
"Besok aku mau ketemu dia." jawab Kiara.
Besok? Dewi semakin gugup.
"Dimana?" tanya Dewi setenang mungkin.
"Belum tahu." jawab Kiara.
Dewi berpikir. Bagaimana kalau di sini saja? Apa Kiara mau? pikirnya.
"Kenapa gak kamu suruh ke sini saja Ki?" usul Dewi.
"Ah iya juga ya. Biar setelah ini ku hubungi dia. Kebetulan hari Minggu, kakak gak ada kuliah. Dia kerja sore. Harusnya sih bisa." gumamnya.
Selesai membereskan barangnya, Kiara merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dewi dan Puspa pun turut merebahkan tubuhnya. Dewi membuka ponselnya dan mulia berselancar di dunia maya. Begitupun dengan Puspa.
Kiara mencoba menghubungi Genta kakaknya. Namun, sudah berkali-kali belum juga Genta menjawabnya. Sepertinya, Genta masih sibuk dengan kuliah dan pekerjaannya. Kiara memutuskan mengirimkannya pesan.
Setelahnya, mereka mulai bersenda gurau. Hingga makan siang tiba, barulah mereka keluar dari kamar dan makan bersama.